Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Dan Kini Terjadi


__ADS_3

"Pak ini sudah selesai."


Putri masuk ke ruangan Adnan dan membawa file yang sudah selesai ia urus.


"Oh iya Put, letakkan di situ saja."


Adnan menunjuk sebuah ruangan kecil di dalam ruanganya. Tempat dimana banyak file berada. Putri pun melangkah ke arah tempat itu dan hendak meletakkan apa yang ia bawa.


Namun kemudian Adnan teringat jika ada sesuatu yang harus ia ambil dari tempat tersebut. Maka Adnan pun menyusul Putri dan mencari kebutuhannya. Putri yang sudah selesai meletakkan apa yang diperintahkan itu pun, berbalik.


Ia hendak kembali ke meja kerjanya di luar, namun tiba-tiba ia oleng dan nyaris terjatuh. Dengan sigap Adnan yang berada di dekat gadis itu, menangkap tubuh Putri. Hingga kini bagian depan tubuh keduanya menempel satu sama lain.


Nafas Putri seketika memburu, sebab seluruh tubuhnya mendadak berdesir dan berdenyut. Seakan-akan minta di sentuh di seluruh bagian. Hal yang sama juga terjadi pada Adnan, gairah ke laki-lakiannya meningkat drastis. Hingga bagian terlarangnya mengeras dan menonjol secara serta merta.


Tanpa sadar Adnan semakin erat memeluk Putri, dan Putri juga tak melakukan perlawanan. Kini mereka saling menatap satu sama lain dengan wajah yang begitu dekat. Putri bisa merasakan hangatnya nafas Adnan dan begitu pula sebaliknya.


Jantung mereka berdegup kencang. Bayi di dalam perut Putri seakan membuat perasaan keduanya kian emosional.


"Putri."


"Pak."


Bibir keduanya menyatu, tanpa bisa di tolak lagi. Mereka saling berciuman, awalnya perlahan. Namun lama kelamaan berubah menjadi penuh gairah. Putri terlihat seperti seorang yang haus sentuhan, Adnan sendiri menyadari hal tersebut.


Setelah cukup lama keduanya berhenti dan terdiam satu sama lain. Adnan sedari tadi berusaha untuk tidak lepas kendali lebih jauh, begitupula dengan Putri.


"Saya, saya harus kembali pak."


Putri meninggalkan Adnan sendirian di ruangan itu. Dengan perasaan yang kini campur aduk. Begitupun dengan Adnan sendiri, ada rasa sesal yang mendadak memenuhi batinnya.


Putri kembali ke meja kerja, dengan jantung yang masih terus berdegup kencang. Ia sama menyesali tentang apa yang telah terjadi beberapa saat yang lalu.


"Put, koq lo pucat gitu?"


Salah satu rekan kerja Putri memperhatikan dirinya.


"Lo sakit?" tanya rekannya itu lagi.


"Nggak koq, cuma sedikit pusing aja." Putri berdusta.


"Mau gue ambilin obat?" Lagi-lagi rekannya itu bertanya.


"Nggak usah, gue nggak apa-apa koq. Bentar lagi juga baikan." ujar Putri.


"Oh ya udah deh."


Rekannya itu kembali disibukkan oleh pekerjaan, begitupula dengan Putri. Ia berusaha untuk mendapatkan kembali konsentrasi, setelah kacau oleh hal yang ia buat sendiri.


***

__ADS_1


Ketika pulang dari kantor, Putri dan Adnan sempat bertemu pandang di halaman parkir depan lobi. Saat itu Adnan hendak masuk ke dalam mobil, Putri sendiri ingin berjalan menuju gerbang depan. Dimana telah ada seorang driver taksi online yang menunggunya.


Jantung keduanya tetap sama-sama bergemuruh saat itu. Terasa sekali keduanya tampak canggung, namun seperti sama-sama terikat.


Putri kemudian melangkah dan meninggalkan halaman parkir, menuju ke taksi online. Sedang Adnan mau tidak mau masuk ke dalam mobil.


"Putri."


"Pak."


Putri memejamkan mata, membukanya kembali lalu menggeleng-gelengkan kepala hingga beberapa kali. Ia enggan mengingat semua itu. Namun hangatnya bibir Adnan seolah masih menempel di bibirnya.


Adnan belum berjalan, ia masih terpaku di dalam mobil. Ia membuka laman galeri foto dan melihat foto-foto dirinya bersama Anita.


Hati pria itu seperti dipukul benda keras. Ia merasakan sakit atas perbuatannya terhadap Putri. Pria itu merasa bersalah pada sang istri dan rasa bersalah itu menyakiti dirinya sendiri.


"Tris, dimana?"


Adnan menelpon Tristan, sebab saat ini ia membutuhkan sahabatnya itu untuk bercerita.


"Ad, gue lagi di Semarang. Lusa baru pulang."


"Oh, gue pikir lo ada di kantor."


"Nggak, semalem gue berangkat. Kenapa emangnya?"


"Nggak nanya aja, kali tadi lo bisa hangout bareng gue." jawab Adnan.


"Nggak, baik-baik aja." dusta Adnan.


"Cuma pengen keluar aja." lanjutnya kemudian.


"Ntar nunggu gue balik ya."


"Ok."


Percakapan pun sedikit berlanjut, sebelum akhirnya Adnan pamit dan menutup sambungan tersebut. Kini ia menelusuri jalan demi jalan. Seakan mencari tempat dimana ia bisa mengadukan semuanya.


***


Malam hari, Putri dan Adnan sama-sama duduk di meja makan. Namun di dua tempat yang berbeda. Putri di apartemen miliknya, sedang Adnan tentu saja di apartemen miliknya pula.


Keduanya sama-sama terdiam, dan masih mengingat jelas peristiwa tadi di kantor. Saat mereka berciuman dengan tak memikirkan situasi serta kondisi.


Adnan seperti dilupakan jika ia telah menikah, dan Putri seperti buta akan status Adnan yang merupakan suami orang. Kini keduanya sama-sama merasa bersalah.


Putri merasa bersalah terhadap Aaron dan juga keluarganya yang baik. Sedang Adnan merasa berdosa pada Putri yang begitu ia cintai.


"Mas, makan dulu."

__ADS_1


Adnan yang bengong dikagetkan oleh suara sang istri, serta sentuhan tangannya yang hangat. Sementara Putri terkejut oleh pesan singkat Aaron, yang bertuliskan.


"Jangan lupa makan malam, besok aku pulang."


Adnan dan Putri pun mau tidak mau menyendok makanan, meski pikiran mereka kini masih kemana-mana.


***


"Hei."


Dokter Jonathan muncul dengan membawakan segelas susu hangat untuk sang putra, dokter Matthew.


Dokter Matt mengambil susu tesebut dan meminumnya sedikit demi sedikit. Ia memang sudah dewasa, tapi di mata sang ayah ia tetaplah anak kecil.


Setiap hari menjelang tidur, jika tidak sedang dinas malam. Dokter Joe tak pernah lupa membuatkan anaknya itu segelas susu. Biasanya dokter Matt tak bisa terlelap jika belum meminum minuman tersebut.


"Pa."


"Hmm?"


Dokter Joe melihat ke arah dokter Matt, namun dokter Matt melihat ke arah depan.


"Orang tuh, kenapa ya masalahnya kadang rumit banget." tanya nya kemudian.


"Urusan pasien itu lagi?. Putri?" tanya sang ayah seakan tau isi kepala dokter Matt.


"Iya, dia mengalami penurunan kadar progesteron dan estrogen. Karena sudah hampir masuk trisemester ke dua. Dan, dia mengalami peningkatan gairah..."


Dokter Matt menarik nafas.


"Terhadap ayah dari bayi itu." lanjutnya kemudian.


"Tetapi ayah bayi itu suami orang kan?" ujar dokter Joe sambil tersenyum.


"Ya seperti yang sudah Matt ceritakan."


Kali ini dokter Joe yang menarik nafas. Sepanjang kariernya berjalan, sang anak Matthew memang sering dihadapkan dengan kasus-kasus yang pelik serta unik.


"Kamu kan sudah biasa menghadapi pasien yang kadang nyeleneh, nggak biasa, dan sebagainya."


"Iya baru kali ini yang kasusnya kayak gini. Dia ngadu ke Matt, Matt harus apa coba?"


"Ya jawab aja sebisa kamu." ujar dokter Joe sembari masih tertawa kecil.


"Tau gini, Matt jadi penerjemah aja dulu. Atau jadi karyawan kantoran, atau gamer profesional. Nggak pusing ngadepin masalah orang."


Dokter Joe kembali menghela nafas.


"Setiap pekerjaan itu pasti ada resikonya, nak. Nggak ada satu pekerjaan pun yang nyaman 100%. Tidur aja kadang nggak nyaman, apalagi kerjaan."

__ADS_1


Dokter Matt diam, ia lalu kembali meminum susunya. Bahkan hingga hampir habis.


__ADS_2