Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Rencana Pemberian


__ADS_3

"Ghe, gimana kalau Putri saya Carikan apartemen, nanti sewanya saya yang bayar. Biar saat keluar dari rumah sakit nanti, dia bisa tenang dan jauh dari kebisingan. Supaya mentalnya juga bisa cepat pulih."


Adnan meminta pendapat Ghea ketika mereka bertemu lagi di rumah sakit. Kali ini mereka berbicara di kantin, sebab Putri tertidur pasca diberi obat oleh dokter.


"Kalau saran saya mah, jangan pak. Mending dia di kosan aja." ucap Ghea.


"Loh, kenapa emangnya?" tanya Adnan heran.


"Saya punya teman yang mentalnya bermasalah. Dia tinggal di apartemen sendirian. Ujungnya malah mau loncat dari apartemen itu. Untung ada yang ngelihat dan mencoba membujuk dia supaya nggak melakukan hal tersebut." jawab Ghea.


Adnan jadi khawatir mendengar hal tersebut.


"Mending dia di kosan aja. Kalau ada apa-apa teman kosannya cepat tau. Dan lagi kosan dia cuma dua lantai. Kalaupun Putri coba bunuh diri dari lantai dua, paling dia patah kaki doang." lagi-lagi Ghea berujar.


"Ya sudah kalau begitu. Saya pikir dengan tinggal di apartemen dia bisa tenang. Tapi kalau begitu mending jangan, saya takut malah dia kenapa-kenapa nantinya."


"Makanya." ucap Ghea.


Adnan lalu mengurungkan niatnya tersebut. Tadinya ia sudah mencari-cari apartemen, agar Putri bisa tinggal disana sementara waktu. Sampai kondisi mentalnya kembali seperti semula.


***

__ADS_1


"Huek."


"Huek."


Dira muntah-muntah di kamar mandi. Dokter mengatakan ini mungkin akan terjadi sebagai efek dari perawatan kesuburan yang ia terima.


Dira telah di wanti-wanti, namun ia terlihat sangat gembira. Sebab dokter bilang jika reaksinya demikian, berarti obat kesuburan yang diberikan padanya bereaksi dengan baik.


Tak ada hal yang lebih menyenangkan hati Dira selain ini. Ia rela berkorban demi bisa mengandung bayi Adnan dalam rahimnya.


"Huek."


"Huek."


"Dira."


Adnan mendadak cemas dan menangkap tubuh Dira yang nyaris terjatuh.


"Mas, gelap mas. Tolong bawa aku keluar!"


Adnan lalu menggendong tubuh perempuan itu dan membawanya keluar. Kemudian ia meletakkan Dira ke atas sofa.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Adnan makin khawatir.


Namun Dira malah tersenyum dan tertawa. Penglihatannya yang tadi gelap kini berangsur normal.


"Ini efek perawatan kesuburan yang dikasih dokter mas. Katanya emang bakalan mual dan muntah kalau obatnya bereaksi dengan baik."


Adnan kaget mendengar semua itu, sekaligus merasa iba pada Dira.


"Kalau nggak sanggup, jangan diteruskan sayang. Aku nggak tega lihat kamu kayak gini."


"Nggak apa-apa mas, sekalian latihan. Nanti aku kalau positif hamil juga gini koq." ucap Dira.


Adnan tak bisa menjawab apa-apa. Ia benar-benar khawatir pada istrinya itu.


"Udah, mas nggak usah khawatir. Aku masih bisa menghandle semuanya mas." ucap Dira.


"Tapi kalau ada apa-apa bilang sama aku ya, jangan ditanggung sendiri." ujar Adnan lagi.


"Iya mas."


Dira tersenyum sambil memegang wajah tampan suaminya itu. Kemudian ia mencium kening dan pipi Adnan bergantian.

__ADS_1


"Aku tuh khawatir tau nggak."


Adnan langsung memeluk Dira seperti anak kecil yang tengah ketakutan. Dira tersenyum lalu membalas pelukan tersebut. Wanita itu bisa merasakan irama jantung Adnan yang berdegup kencang.


__ADS_2