Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Menyenangkan Putri


__ADS_3

"Putri, ntar jalan yuk."


Shanin tiba-tiba mengirim pesan singkat pada Putri, yang saat ini masih berada di kantor.


"Jalan?. Jalan kemana?" tanya Putri.


"Kemana kek, nonton, belanja atau apa gitu. Suntuk gue." balas Shanin kemudian.


"Tari juga ikut?" tanya nya lagi.


"Pastinya dong, mana mau itu anak ketinggalan." ujar Shanin.


"Hehehe, oke deh." jawab Putri.


"Gue juga suntuk banget, pengen jalan." lanjut perempuan itu.


"Nah, pas banget kan. Mending nanti kita hangout terus makan kek atau apa." ujar Shanin lagi.


"Sip, kebetulan hari ini kantor pulang cepet." ujar Putri.


Maka mereka pun sepakat untuk bertemu di suatu tempat.


"Say, pak bos sakit?"


Salah seorang biang gosip berbisik pada biang gosip lainnya, seraya melirik ke arah Putri.


"Iya katanya. Pasti pusing mikirin gimana menyembunyikan perselingkuhannya sama si Putri."


"Hahaha, jadi berharap bininya cepet tau. Biar dilabrak itu si Putri."


"Iya udah kesel banget gue. Sok lugu, sok kalem. Eh tukang buka celana depan laki orang."


"Hihihi."


Mereka lanjut berbisik-bisik, sementara Putri fokus pada pekerjaan.


***


"Pak Adnan harus bisa memanage stress, supaya sakitnya bisa jadi lebih ringan. Stress itu bisa membuat kondisi seseorang menjadi lebih buruk, kalau tidak segera di atasi."


Seorang dokter menjelaskan kondisi Adnan, ketika Anita membawa suaminya itu ke rumah sakit. Adnan hanya diam mendengarkan, sama halnya dengan Anita. Setelah diberi resep obat dan menebus obat pada apotek rumah sakit, Anita membawa suaminya itu untuk pulang ke rumah.


"Denger kan tadi mas, mas tuh nggak boleh stres. Mas sakit karena terlalu banyak mikir ini dan itu."


Anita berujar ketika mereka telah berada di dalam mobil. Adnan masih diam. Sejatinya yang membuat ia stress adalah Anita dan juga Putri. Ia kaget dan belum terbiasa memiliki dua istri.


Setiap hari ia terus memikirkan bagaimana caranya adil terhadap dua perempuan tersebut. Ia bukan pria yang tak memikirkan perasaan lawan jenisnya. Ia tak bisa hanya memikirkan diri sendiri.

__ADS_1


Saat ini ia tengah terjebak cinta diantara keduanya dan tak ingin berpisah dengan salah satu dari mereka. Baginya itu akan menjadi sangat berat. Ia mencintai Anita dan juga Putri di waktu yang bersamaan.


Anita terus fokus mengemudikan mobil, sampai kemudian ia melihat Adnan sudah tertidur di kursi samping. Anita menatap suaminya itu dengan perasaan campur aduk. Antara cinta, cemburu, kasihan dan juga marah.


Ia masih mencintai Adnan dan itu belum berubah. Namun ia cemburu pada situasi mereka saat ini. Disisi lain ia kasihan, sebab Adnan akhir-akhir ini menjadi banyak pikiran. Dan ia juga marah sebab hati Adnan sudah terbagi.


***


Sesuai janji, Putri pergi bersama Shanin dan juga Tari. Tak ada pembahasan soal Adnan sore itu. Memang Shanin dan Tari hanya ingin fokus pada kesenangan Putri semata.


Mereka mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan dan membeli beberapa barang. Hal tersebut membuat Putri merasa bahagia hatinya. Ketegangan yang semula ia rasakan, kini seakan menghilang secara tiba-tiba.


"Sha, gue pengen es krim deh." ujar Putri ketika melihat antrian pada sebuah boot eskrim yang di jual di pojokan.


"Nggak boleh, Put. Ntar anaknya gede di dalam loh." ujar Tari.


"Bener Put, ntar lo susah ngeluarinnya." timpal Shanin.


"Tapi pengen."


Putri merengek seperti anak kecil, bahkan terlihat hampir menangis. Shanin dan Tari pun tak tega dibuatnya.


"Ya udah boleh, tapi satu aja ya." ujar Shanin.


"Yeay, asik."


Putri setengah berlarian ke arah boot es krim tersebut, sedang Shanin dan Tari kini mengikuti. Mereka sama-sama membeli dan menikmati es krim sambil tertawa-tawa.


"Oh my God, gue mau itu."


Selera Putri beralih. Shanin dan Tari kini tertawa.


"Ayo kita beli, kalau mau."


Shanin mencari-cari tempat dimana kentang goreng tersebut di jual.


"Kayaknya di found court bawah deh." ujar Tari.


"Ayo, Put!" ajak Shanin kemudian.


Maka dengan penuh kegembiraan Putri melangkah ke arah eskalator. Mereka turun ke bawah, ke tempat dimana banyak sekali penjual makanan berada.


Shanin dan Tari menuruti segala keinginan Putri. Terkadang Putri tak ingin makan sendiri, meski temannya itu berkata jika mereka sudah kenyang. Maka terpaksalah Shanin dan Tari ikut makan.


"Hadeh ngikutin ibu hamil." ujar Shanin sambil mengelus perutnya sendiri yang kekenyangan.


Putri tertawa.

__ADS_1


"Biar kita buncit bareng." ujar Putri.


"Buncit lo mah, enak Put. Kalau udah keluar jadi kempes. Lah gue sama Tari, bakalan jadi lemak menahun ini." ujar Shanin lagi.


"Mana obat diet mahal-mahal banget." timpal Tari.


Lagi dan lagi ketiganya tertawa. Namun di sela-sela tawa itu, tiba-tiba Putri teringat pada Adnan. Ia ingin menelpon Adnan langsung, tapi takut Anita mengetahui dan akhirnya tersinggung. Maka Putri pun memutuskan untuk menelpon Anita saja.


Kesempatan tersebut ia dapat ketika Shanin tengah mengantri tiket nonton dan Tari tengah mengantri untuk popcorn dan juga minuman bagi mereka bertiga. Mereka memutuskan untuk menonton setelah makan es krim dan juga kentang goreng.


"Mas Adnan lagi tidur, Put." ujar Anita pada Putri.


"Tadi mbak bawa ke dokter." lanjut perempuan itu.


"Dokter bilang apa mbak?" tanya Putri.


"Mas Adnan kecapean dan stress berat, makanya dia sakit."


Batin Putri berdetak mendengar semua itu, sebab ia sadar diri. Semenjak kehadirannya dalam kehidupan Adnan, Adnan jadi lebih banyak beban pikiran. Padahal Adnan juga stress karena over thinking terhadap Anita, yang belakangan terlihat aneh menurut pandangan matanya.


"Ya sudah mbak, saya cuma mau tau kondisi mas Adnan. Maaf ya mbak, udah ganggu."


"Iya, Put. Mas Adnan bakalan baik-baik aja koq, kamu nggak usah khawatir."


"Iya mbak, saya percaya sama mbak Anita. Saya pamit ya mbak."


"Oke, nanti mbak sampaikan ke mas Adnan kalau kamu nelpon."


"Iya mbak, makasih mbak."


"Sama-sama."


Putri menyudahi telpon tersebut. Bertepatan dengan selesainya Shanin membeli tiket nonton.


"Filmnya dimulai dalam lima belas menit nih, jadi kita nunggu disini aja." ujar Shanin.


"Iya." jawab Putri.


Tak lama Tari datang dengan membawa tiga pop corn dan minuman ringan berukuran medium.


"Nunggu dimana nih?" tanya Tari pada Putri dan juga Shanin.


"Disini aja, orang filmnya bentar lagi mulai." ujar Putri.


"Berapa menit lagi sih?" Tari kembali bertanya.


"Lima belas menit." ujar Shanin.

__ADS_1


"Oh ya udah, berarti kita disini aja nggak usah kemana-mana." ujar Tari.


Mereka pun lalu mencari tempat duduk, dan menunggu disana. Setelah itu, ketika pintu teater mulai dibuka. Mereka masuk ke dalam bioskop dan duduk pada tempat yang tertera di tiket.


__ADS_2