Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Semakin Dilema


__ADS_3

Adnan tiba di tempat yang dimaksud, hal tersebut berbarengan dengan Tristan.


"Bro." Tristan menyapa dengan hangat.


"Hei." Balas Adnan seraya tersenyum tipis.


Mereka saling menanyakan keadaan, kemudian mereka masuk. Itu adalah warung tenda tempat biasa Tristan makan. Adnan sendiri pernah dua kali diajak Tristan kesana.


Bedanya tempat itu dan tempat lain adalah, tempat itu memiliki banyak jenis sambal yang terbuat dari cabai segar. Selain dari pada hal tersebut, rasa masakan di sana memang sangat enak.


"Sini aja ya." ujar Tristan.


"Ok." jawab Adnan.


Keduanya melepas jas mahal yang mereka pakai, dan mengaitkannya pada kursi dimana mereka duduk. Kadang penjual di tempat itu heran. Orang kaya seperti Tristan dan Adnan sangat suka makan di tempat mereka. Apa mereka tidak takut pakaian mereka kotor, itu yang ada di benak penjual makanan tersebut.


Namun mereka juga senang di sisi lain. Itu artinya masakan yang mereka jual enak. Sampai orang kaya pun mau makan disana.


"Lo mau ayam, lele, apa bebek bro?" tanya Tristan.


"Atau mau seafood?" lanjutnya lagi.


"Gue, gue mau gurame." ujar Daniel.


"Oh iya ada gurame nih." ujar Tristan.


"Gue mau lele, tapi non krispi."


Tak lama seorang pelayan mendekat, Adnan dan juga Tristan menyebutkan apa yang mereka pesan. Sembari menunggu, mereka menghidupkan sebatang rokok. Tak lama minuman jadi dan mereka merokok, ngobrol, sambil minum.


Butuh beberapa saat berlalu hingga pesanan mereka tersedia di meja. Ketika semua itu siap, Adnan dan Tristan pun mulai makan.


"Maaf ya, lama. Soalnya toilet disana ngantri."


Tiba-tiba Adnan mendengar suara yang ia kenal. Mendadak pria itu menoleh dan si pemilik suara yang tak lain adalah Putri tersebut tanpa sengaja melihat ke arah Adnan.


Keduanya pun sama-sama terkejut. Tristan juga melihat ke arah Putri, namun tidak dengan Aaron. Posisi Aaron membelakangi Adnan dan juga Tristan.


Kalaupun berhadapan, hanya Adnan yang akan mengenalinya, tapi tidak dengan Aaron sendiri. Aaron tak tau rupa Adnan seperti apa.


"Ya udah, ayo makan lagi sayang. Kamu butuh makan yang banyak." ujar Aaron.


Batin Adnan tersentak, sementara Putri kini kembali duduk dihadapan kekasihnya itu.


"Nih cobain...!"

__ADS_1


Aaron menyuapi Putri dan mau tak mau Putri pun harus menerimanya. Mendadak selera makan Adnan jadi menurun drastis. Tristan yang ada di sebelahnya pun ikut tak enak hati, demi melihat Adnan lebih banyak terdiam menatap ke arah Putri.


***


"Mi, mami tuh kenapa?. Aline liat mami ngelamun terus akhir-akhir ini."


Aline kembali bertemu ibunya yang tengah termenung di balkon.


"Mami tuh, belakangan terpikir." ujar ibu Aaron.


"Kepikiran apalagi, mi?" tanya Aline.


"Soal anak yang di kandung sama Putri. Mami koq jadi kasihan ya, kalau anak itu mesti di gugurkan."


Aline terdiam dan menghela nafas.


"Kalau nggak di gugurkan ya kasihan Putri, mi. Namanya anak yang dipaksakan, sama aja kayak diperkosa jatuhnya. Kasihan Aaron juga, masa Aaron disuruh menerima anak orang."


Kali ini ibu Aaron yang menghela nafas.


"Mami sama papi sih nggak masalah, kalau pun harus menerima anak itu. Mami sudah bicarakan hal ini ke papi kamu. Tapi masalahnya ya memang Aaron, apa Aaron mau menerima?. Dan Putrinya sendiri mau atau tidak, kalau anak itu jangan di gugurkan."


"Kenapa mami tiba-tiba jadi kepikiran kayak gini?" tanya Aline heran.


"Mami ketemu sama si Adnan, ayah dari bayinya Putri. Dia anaknya baik, sopan santun, dan dia nggak punya anak. Sudah 11 tahun menikah, katanya. Mami cuma kasihan, bisa kan anak itu Putri kasih ke bapaknya. Kalau memang Putri nggak mau merawat."


"Aline nggak bisa ngomong soal itu, mi. Apalagi harus memberi saran, Aline takut salah. Biarin itu jadi urusannya Putri, Aaron dan ayah dari bayi itu."


Ibu Aaron diam, kini perempuan tua itu hanya bisa melempar pandangannya jauh ke depan.


***


"Hhhh."


Tristan menghela nafas dan menatap Adnan. Keduanya tetap berakhir di depan bartender sebuah klub malam. Sebab beban di pikiran Adnan terus bertumpuk.


Tristan sudah tau jika itu adalah Aaron, tadi Adnan sempat menceritakannya. Dan Adnan pun mengakui jika saat ini ia memiliki perasaan lain terhadap Putri.


Namun pada malam ini, Tristan melarang Adnan untuk mabuk berat. Sebab ia melihat Adnan yang seperti tak berpijak di tanah ketika berjalan. Saking olengnya pikiran pria itu. Ia hanya diizinkan Tristan untuk minum bir. Itupun tidak boleh lebih dari satu botol sedang.


"Jadi lo mau gimana?. Lo mau nikahin Putri dan nyakitin Anita?"


Kali ini Adnan yang menghela nafas. Pria itu terdiam.


"Gue nggak tau bro." ujarnya kemudian.

__ADS_1


"Kenapa mesti muncul perasaan kayak gini juga gue nggak tau. Harusnya udah gue sadari dan gue halau sejak awal. Nggak harus sampe kayak gini."


Adnan menghisap batang rokok dan menghembuskan asapnya ke sekitar. Begitupula dengan Tristan. Sementara di depan apartemen Putri, Aaron kini menghentikan mobilnya.


"Kamu nggak nginep?" tanya Putri pada kekasihnya itu.


Aaron tersenyum.


"Nggak sayang, kamu kan lagi hamil. Kamu butuh istirahat yang banyak, tanpa terganggu siapapun termasuk aku."


"Tapi aku masih kangen sama kamu." ujar Putri lagi.


"Besok kan weekend, besok aku seharian di tempat kamu. Aku bawa makanan yang banyak, ok?"


"Beneran ya, jangan bohong." ujar Putri.


"Iya, sana masuk...!" Aaron memerintahkan.


Putri bersiap membuka pintu mobil, namun kemudian ia tak jadi melakukanya. Perempuan itu kini menoleh pada Aaron.


"Kamu, nggak akan berubah pikiran kan. Setelah ketemu aku gini?" tanya Putri.


Aaron tersenyum.


"Aku mau berubah pikiran gimana sayang?" tanya nya pada perempuan itu.


"Ya, siapa tau setelah tadi kamu liat aku makan banyak, nyaris mau muntah. Kamu semakin sadar kalau aku sedang hamil, tapi yang aku kandung bukan anak kamu. Aku takut perasaan sayang kamu ke aku berkurang."


"Put, aku sayang sama kamu dan itu belum berubah sama sekali. Kamu pikir, aku datang kesini untuk siapa?. Aku pulang untuk apa?. Untuk kamu."


Putri memeluk Aaron dengan erat dan begitupun sebaliknya. Malah kemudian Aaron mencium kening Putri beberapa kali.


"Ini ujian buat hubungan kita, Put. Kita nggak boleh menyerah. Jangan sampai rencana pernikahan kita gagal, cuma karena hal semacam ini. Kalaupun sebelumnya aku pernah nuduh kamu macam-macam, aku minta maaf."


Putri makin erat memeluk Aaron, sementara Aaron sendiri membiarkan Putri memeluknya sebanyak yang perempuan itu mau. Karena hanya pelukan inilah, yang bisa ia berikan untuk menenangkan hati Putri.


***


"Gue balik, bro."


Adnan berpamitan pada Tristan, ketika semuanya di rasa cukup.


"Hati-hati, tetap fokus di jalan." ujar Tristan pada Adnan.


"Ok."

__ADS_1


Adnan pun lalu masuk ke dalam mobil, kemudian tancap gas. Setelah itu barulah Tristan bergerak ke arah mobilnya dan masuk. Sesaat kemudian mobil itu pun turut merayap.


__ADS_2