Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Nasehat


__ADS_3

"Dira, nggak usah terlalu memaksa diri. Kalau memang kamu tidak bisa mengandung anak itu, turuti saja saran dokter. Mama akan bantu biaya sewa rahimnya. Yang penting anak kalian bisa lahir."


Ibu Adnan yang baik hati dan open minded menasehati sang menantu. Dira dan ibu mertuanya itu bertemu untuk membicarakan hal ini.


"Toh walaupun di rahim orang, anak itu adalah anak kamu dan Adnan. Sel telurnya adalah sel telur kamu. Bukan sel telur perempuan itu." ujar ibu Adnan lagi.


"Tapi ma, Dira tuh kepengen hamil biar kayak orang-orang. Pengen ngerasain perut Dira jadi besar, pengen ngerasain tendangan bayi dan pengen ngerasain gimana rasanya melahirkan. Walau kata sebagian orang itu nggak enak dan menyiksa, Dira cuma pengen jadi ibu seutuhnya." ucap Dira.


Sang mertua pun lalu menghela nafas panjang.


"Mama mengerti perasaan kamu. Mama juga kalau ada di posisi kamu, pasti akan melakukan hal yang sama." ujar wanita itu.


"Tapi disini mama cuma menegaskan, kalau mama dan keluarga Adnan nggak masalah. Semisal kamu dan Adnan mau sewa rahim perempuan lain. Mama dan keluarga mendukung apapun itu keputusan yang kalian berdua ambil."


"Iya ma, Dira ngerti maksud mama." jawab Dira kemudian.


"Tapi Dira sama mas Adnan mau usaha dulu. Kalaupun nantinya gagal, Dira dan mas Adnan akan sewa rahim ibu pengganti." lanjutnya kemudian.


Ibu Adnan menarik tangan Dira dan menggenggamnya dengan penuh kehangatan.


"Mama doakan apapun itu, semoga semuanya lancar ya."


Dira mengangguk, lalu sang ibu mertua memeluknya dengan erat. Dira merasa diberkati oleh semesta, karena memiliki mertua yang sebaik itu.


Diluar sana banyak sekali perempuan yang sedang berjuang untuk mendapatkan keturunan. Tetapi tidak seberuntung dirinya.


Ada yang dibully oleh mertua, ada juga tekanan dari para ipar dan lain-lain. Dira masih jauh lebih beruntung ketimbang perempuan-perempuan itu. Dan ia sangat bersyukur hidupnya masih jauh lebih baik.

__ADS_1


Usai pertemuan tersebut, Dira pulang dengan mengemudikan mobilnya sendiri. Sedang sang ibu mertua diantar supir keluarga.


Mereka pulang ke arah yang berbeda, karena rumah mereka pun sejatinya cukup berjauhan.


Dira dan Adnan tinggal di kawasan yang dekat dengan kantor pria itu. Mereka membeli rumah di daerah sana, agar Adnan tak harus terjebak macet saat berangkat ke kantor.


"Hati-hati di jalan."


Begitulah pesan sang mertua tadi padanya. Kini Dira sudah sedikit lagi tiba. Namun kemudian ia teringat jika tissue, sabun mandi, serta pengharum ruangan di rumah telah habis.


Maka ia pun lalu mampir ke sebuah minimarket yang terlihat oleh pandangan matanya di depan.


Dira berbelanja apa saja yang sudah habis. Kini ia berputar-putar antara koridor rak satu dan yang lainnya. Ia terlihat megambil tissue, pengharum ruangan, cemilan, bahkan mie instan.


"Seratusnya mau di donasikan saja?"'


"Apaan donasi-donasi?. Bilang aja kalian itu mau menipu. Setiap orang dimintai seratus perak, kalikan seratus orang dalam sehari dan kalikan tiga puluh hari. Berapa dalam sebulan kalian dapat?"


Seorang bapak-bapak mencerca si kasir yang menawarkan donasi seratus rupiah.


Bapak-bapak itu sampai menunjuk-nunjuk si kasir yang tengah menyelesaikan transaksi.


Kasir perempuan itu hanya bisa menunduk, sedang si bapak-bapak melebar sampai kemana-mana. Bahkan sampai mengatai fisik si kasir.


"Makanya kurus kerempeng begitu kamu, nggak menarik dilihat. Makan duit haram terus." ujarnya.


"Heh, pak."

__ADS_1


Dira mendekat dan mencela ucapan bapak-bapak tersebut.


"Nggak malu pake nasi, bawa mobil bagus tapi mulut kayak emak-emak yang tinggal dalam gang." ujarnya kemudian.


"Kalau nggak mau donasi ya tinggal bilangan aja nggak mau. Ribet banget jadi orang."


"Eh, bu. Ibu nggak tau permainan orang-orang ini. Kalau satu orang dimintai seratus perak, kalikan kalau orangnya ada ribuan."


"Pak, kalaupun bapak mau memprotes hal tersebut. Bikin surat secara terbuka kepada pihak perusahaannya. Bukan dengan karyawan yang dibawah kayak gini." ucap Dira.


"Mereka ini kerja sesuai perintah. Mereka ini pekerja, bukan mereka yang membuat sistem. Mereka pekerja yang gajinya aja kadang nggak sampai UMR. Salah kalau bapak ngomel ke mereka. Mereka hanya menjalankan apa yang diperintahkan. Lagian bapak jadi menghambat orang-orang yang ngantri di belakang." lanjutnya lagi.


Bapak-bapak itu lalu dengan gusar meninggalkan tempat tersebut. Tanpa mengambil kembalian seratus rupiah yang tadi ia perdebatkan.


Kasir kembali berjalan, dan Dira mengambil antrian paling belakang. Tak lama setelah itu ia pun membayar.


Si kasir yang ia lihat bernama Putri itu masih banyak menunduk. Ia sepertinya mengalami mental down gara-gara si bapak tadi.


"Udah mbak, nggak usah dipikirin orang kayak gitu. Biasa itu mah, mau sok vokal tapi nggak pada tempat yang tepat." ujar Dira.


Kasir itu mencoba tersenyum meski tipis.


"Nah, gitu dong." ujar Dira.


Kasir itu lalu menyebutkan jumlah yang harus dibayar oleh Dira. Tak lama Dira pun mengeluarkan kartu debit miliknya dari dalam dompet.


Ia membayar lalu berterima kasih. Tak lama ia pun terlihat meningalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2