Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Sakit


__ADS_3

Sedikit kembali ke belakang.


Tak lama setelah Aaron meninggalkan tempat acara pernikahan Putri dan juga Adnan. Anita pun sama melakukan hal demikian.


Perempuan itu juga meninggalkan sang suami dan istri barunya. Ia sejatinya masih kuat untuk menyaksikan hal tersebut sampai akhir.


Sebab kasus mereka bukan karena Adnan berselingkuh dan menghamili perempuan lain. Melainkan Adnan menikahi Putri karena kesalahan yang dilakukan seseorang.


Namun ia tak kuasa melihat tatapan mata Adnan, yang seolah berada di tengah-tengah kebimbangan. Pria itu bahkan untuk tersenyum pun takut. Takut Anita akan tersinggung, dan mengira jika sang suami berbahagia di atas penderitaannya.


Agar Adnan tak menjadi semakin tegang serta tertekan, maka Anita memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut.


Anita mengendarai mobilnya sendirian, ia pergi ke suatu tempat yang cukup sepi dan menenangkan. Ia kemudian duduk pada sebuah kursi taman yang menghadap ke arah sebuah danau buatan.


Ia diam, namun kemudian menangis sejadi-jadinya. Seperti rasa sesak yang berkumpul di dadanya telah membuncah. Ia menangis sesenggukan, sampai seseorang tiba dihadapannya dan memberikan tissue.


Anita terdiam, ternyata itu adalah dokter Matt. Ia lupa-lupa ingat pada dokter tersebut. Namun tadi ia melihat kehadiran pria tampan itu di pernikahan Putri dan juga Adnan. Memang Putri ada mengundang dokter Matt untuk hadir sebagai teman.


Anita menyeka air matanya dengan tissue yang telah diberikan oleh dokter Matt. Sementara dokter Matt kini duduk di samping Anita, meski agak sedikit berjarak.


"Apa mereka sudah pulang, dok?" tanya Anita pada dokter Matt.


Pria itu menggelengkan kepala.


"Saya nggak tau, saya juga pergi nggak lama setelah mbak meninggalkan tempat itu." lanjutnya kemudian.


"Dokter ngikutin saya?" tanya Anita lagi.


"Tadinya nggak, tapi mendadak saya khawatir, sebab untuk permasalahan sebesar itu tadi. Mustahil ada orang yang sebegitu kuatnya menerima." jawab dokter Matt.


Anita makin terisak. Namun kemudian ia pun menjawab.


"Saya nggak apa-apa koq dok. Saya nangis disini bukan karena menyayangkan pernikahan suami saya. Tapi saya menyalahkan diri sendiri, kenapa saya nggak bisa punya anak. Saya...."


Anita seperti tak kuat melanjutkan kata-katanya. Dokter Matt kembali memberikan tissue pada perempuan itu.


***


Disisi lain, diwaktu yang sama dengan saat dimana Anita sedang bersama dengan dokter Matt.


Aaron menghabiskan waktunya di depan sebuah bar sambil meminum minuman beralkohol. Ini belum malam, tapi ada satu tempat minum yang buka dari jam 1 siang.


Itu sebenarnya adalah restoran yang didalamnya terdapat semua tempat lain, bagi mereka yang ingin sedikit memabukkan diri.

__ADS_1


Aaron berada di tempat itu dengan ditemani oleh Gerry, sahabatnya yang juga mengenal Putri sejak lama.


"Harusnya udah dari lama gue menikahi Putri. Mungkin sekarang kami udah punya anak, atau bahkan dia hamil anak kedua." ujar Aaron.


Ia menuangkan kembali minuman ke dalam gelas, kemudian mereguknya sampai habis. Ketika ia hendak menambahkan lagi, Gerry tiba-tiba menghalangi.


"Ger?" Aaron marah pada Gerry.


"Cukup!" Gerry menjauhkan botol tersebut.


"Please." Aaron memohon.


"Nggak." Gerry tetap bersikeras.


"Lo udah minum banyak banget, dan itu nggak akan mengobati lo dari apa-apa." Teman Aaron tersebut berujar.


"Lo mau menceramahi gue?. Ke rumah ibadah, jangan disini." ujar Aaron.


Gerry tak gentar sedikitpun.


"Ger, lo temen gue kan?. Lo tau kan keadaan gue saat ini gimana?"


"Kan lo udah bilang ke Putri dan gue juga. Kalau lo saat ini udah mengikhlaskan Putri untuk menikah dengan suaminya."


"Iya gue tau, apa dari awal tadi gue menghalangi lo minum. Untuk meredakan rasa sakit lo itu, nggak kan?. Gue cuma bilang stop sekarang. Save your energy, simpan kesadaran lo."


"Please, gue mau abisin. Itu sayang udah di beli, mahal." tukas Aaron.


"Gue yang bayar." ujar Gerry.


"Ger?"


Aaron menatap tajam ke arah Gerry. Namun detik berikutnya pria itu terjatuh di atas meja, dalam kondisi tak sadarkan diri. Gerry sudah memprediksi hal tersebut dan kini ia dibantu oleh beberapa orang untuk membawa Aaron ke mobil.


***


"Udalah mi, ngapain sih nangis?"


Aline yang melihat sang ibu menangis, bertanya dengan nada gusar. Ibunya tadi menghadiri pernikahan putri dan juga Adnan. Saat ini dirinya tengah duduk termenung sambil menangis di ruang tengah.


"Mami tuh sedih, mami sayang sama Putri. Mami memikirkan perasaan Aaron dan juga perasaan Putri. Ditambah lagi mami melihat Anita, istri si Adnan yang tadi juga datang. Mami tuh sesak rasanya melihat takdir hidup mereka. Kenapa sampai ada kejadian seperti ini." jawab ibu Aaron.


Ia kembali menyeka air mata dengan tissue.

__ADS_1


"Yah, Aaron cuma perlu move on aja sih. Ntar juga lama-lama dia lupa sama Putri. Apalagi kalau udah balik ke London, udah ketemu teman-temannya disana. Dia akan baik-baik aja, dan mami juga seharusnya bisa baik-baik aja juga. Nggak perlu sampe ditangisin segala, nggak guna juga. Si Putri udah jadi istri orang sekarang. Dan mengenai nasib suami Putri berserta madunya bukan urusan kita. Ngapain capek-capek buang energi."


"Kamu itu kayak perempuan yang nggak punya perasaan aja. Nanti kalau menimpa kamu, baru tau rasa kamu."


Ibu Aaron meninggalkan Aline sendirian dan menuju ke kamarnya.


"Dih, malah nyumpahin anak sendiri."


Aline berujar dengan nada yang begitu kesal, namun tak terdengar oleh sang ibu.


***


Kembali pada Putri dan juga Adnan.


Malam itu untuk pertama kalinya mereka makan bersama sebagai suami istri. Mau tidak mau Putri pun harus melayani laki-laki itu. Seperti halnya menyiapkan peralatan makan dan juga minuman. Tetapi Adnan sendiri tak diam begitu saja, ia membantu Putri menyiapkan semuanya.


"Kamu makan yang banyak ya." ujar Adnan seraya menyerahkan piring berisi makanan kepada Putri.


Putri mengangguk


"Saya duluan ya mas, eh..."


Putri menatap Adnan dalam diam dan begitupun sebaliknya.


"Pak, maksud saya." ujar Putri lagi.


Adnan tersenyum tipis.


"Terserah mau manggil saya apa, senyaman kamu aja." ujarnya kemudian.


Putri kini menatap piring sambil tersenyum tipis pula, lalu ia pun mulai makan. Tak lama Adnan pun melakukan hal yang sama.


***


"Hidup tuh brengsek kan?. Kayak babi emang. Hahahaha."


Anita tertawa dan terus meracau karena mabuk. Perempuan itu menenggak minuman beralkohol di sebuah tempat hiburan malam.


"Saya suka sama mbak Putri, tapi dia harus menikah dengan suami mbak."


Dokter Matt ikut meracau dan turut meminum minuman tersebut di hadapan Anita. Anita menuang kembali minuman tersebut ke dalam gelas, lalu mengangkatnya di hadapan dokter Matt.


"Untuk segala hal brengsek dalam hidup kita." ujarnya kemudian.

__ADS_1


Dokter Matt mengangkat gelasnya, sambil tersenyum. Lalu mereka sama-sama minum.


__ADS_2