Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Ruang Hampa


__ADS_3

Adnan dan Putri tertidur lelap hingga matahari menyembul ke permukaan. Putri terbangun terlebih dahulu dan menyadari jika ia berada di pelukan Adnan.


Putri menatap pria tampan dan matang itu cukup lama. Sampai akhirnya Adnan juga terbangun dan menemukan Putri dalam pelukannya.


Lama mereka terpaku, hingga kemudian Adnan mencoba memberikan sebuah senyuman yang tipis. Putri membalas senyuman tersebut, lalu hilanglah rasa canggung yang menjadi penghalang diantara mereka.


"Put, aku pulang nggak apa-apa ya?" Adnan bertanya pada Putri.


"Aku harus kerja juga soalnya." lanjut pria itu lagi.


"Iya mas, nggak apa-apa. Aku juga mau kerja." jawab Putri.


"Kamu istirahat aja dulu, nggak usah kerja hari ini. Kalau aku kan nggak hamil, aku nggak perlu Istirahat lebih." ujar Adnan lagi.


"Jadi nggak apa-apa kalau aku nggak kerja hari ini?" tanya Putri.


"Nggak apa-apa. Nanti kerjaan kamu, aku minta tolong yang lain untuk handle."


Putri menghela nafas lalu menganggukkan kepala. Adnan kemudian beranjak, dan memakai pakaiannya. Tak lama ia pun bersiap untuk pulang.


"Maaf, aku nggak bisa bikinin kamu sarapan. Karena aku harus buru-buru." ujar Adnan seraya duduk di dekat Putri.


"Nggak apa-apa mas, aku akan buat sarapan sendiri." jawab perempuan itu.


"Beneran ya, jangan terlalu siang. Dia juga butuh makan."


Adnan menyentuh perut Putri.


"Iya mas." jawab Putri sambil tersenyum.


Adnan mencium kening Putri, lalu mencium bayinya. Tak lama ia pun beranjak.


"Aku pulang ya." ujarnya kemudian.


"Hati-hati di jalan, mas." tukas Putri.


"Iya."


"Aku nggak bisa nganter." lanjut Putri lagi. Sebab saat ini ia masih telanjang dan hanya tertutup selimut.

__ADS_1


"Iya nggak apa-apa." jawab Adnan.


Maka pria itu pun meninggalkan kediaman Putri. Tak lama Putri beranjak, lalu mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


Usai mandi, Putri melihat ada nada pengingat yang berbunyi di handphonenya. Ia meraih handphone tersebut dan,


"Degh."


Batin perempuan itu berdetak. Sebab hari ini adalah anniversary hubungannya dengan Aaron. Dan harusnya tahun ini merupakan anniversary terakhir mereka sebagai orang yang berpacaran. Sebab tahun depan keduanya akan memulai perjalanan dan anniversary sebagai suami istri.


Tapi nyatanya tahun ini pun benar terakhir. Namun berakhir karena pernikahan Putri dengan orang lain.


Putri duduk di atas tempat tidur, hatinya mendadak pilu mengingat Aaron. Apalagi semalam, ia baru saja di tiduri oleh sang suami. Bahkan denyut kenikmatan itu masih tersisa di sekujur tubuhnya. Kini ia tenggelam dalam rasa yang bercampur aduk.


***


Sama halnya dengan Putri. Di sepanjang jalan menuju rumah pun, pikiran Adnan bercampur dengan pikiran ini dan itu.


Kini yang paling berat ia pikirkan adalah Anita. Ia benar-benar merasa begitu bersalah pada istrinya tersebut, sebab ia menikmati hubungan yang ia lakukan dengan Putri semalam.


Meskipun secara hukum dan kepercayaan yang dianut. Tak mengapa jika ia melakukan hal itu terhadap Putri. Toh Putri juga tak dipaksa melakukannya dan mereka terikat secara sah.


Tetapi sebagai suami, tetap saja ia merasa terbebani. Meski Anita sendiri mungkin sudah tau apa yang akan terjadi pada Adnan dan juga Putri, ketika mereka tengah berdua. Dan meski mungkin Anita tak akan mempermasalahkan hal tersebut. Namun tetap saja ada rasa bersalah di hati Adnan terhadap istrinya itu.


Anita berjalan sempoyongan, Adnan buru-buru menghampiri istrinya itu. Ia kaget melihat sisa-sisa mabuk di wajah Anita, hati Adnan hancur sekaligus sedih. Sebab seumur-umur mengenal Anita, Anita belum pernah mabuk sekalipun.


"Anita, dari minum dimana kamu semalam?"


Adnan langsung mencerca istrinya itu dengan pertanyaan. Anita sejatinya sangat kaget ketika Adnan menghampirinya. Tetapi ia tak bisa menghindar lagi.


"Aku cuma minum dikit koq mas." jawabnya.


Anita melangkah ke arah lobi diikuti oleh Adnan. Mereka diam sejenak, lantaran lift dipenuhi oleh penghuni. Mereka tak mungkin bertengkar di depan orang banyak.


"Siapa yang nganter kamu tadi?"


Adnan kembali bertanya. Kali ini dengan emosi yang cukup besar, sebab mereka telah berada di unit atas.


"Dokter Matt." jawab Anita lalu melangkah masuk. Ia masih sempoyongan, sebab sampai fajar tiba pun mereka masih minum bersama.

__ADS_1


"Kenapa kamu sampai bisa sama dokter Matt. Kamu janjian sama dia?" tanya Adnan lagi.


Anita masuk ke kamar dan meletakkan tas ke atas tempat tidur, namun Adnan dengan cepat menyusulnya.


"Kenapa nggak jawab?" Adnan bertanya sekali lagi.


"Mas, aku lagi pusing banget mas. Aku nggak mau berantem." Anita hendak merebahkan diri ke atas tempat tidur.


"Aku lagi ngomong ya sama kamu, kenapa bisa kamu sama dia dan habis tidur dimana kalian semalam?" Adnan benar-benar marah pada Anita.


"Mas udah, dia nggak salah apa-apa. Dia yang nemenin dan jagain aku sampai pagi."


Anita beralih niat, dari yang ingin rebahan kini malah berganti pakaian yang lebih nyaman.


"Yang nyuruh kamu minum siapa?. Nggak perlu ada yang jagain kalau kamu dirumah."


"Ok aku dirumah, terus aku diem aja sambil nunggu kamu?. Dengan pikiran aku yang kemana-mana tentang kamu dan juga Putri, iya?"


Suara Anita begitu lantang dan bernada sedikit membentak. Adnan yang terdiam kali ini, ia ingat kejadian semalam. Saat ia membuka lebar kedua kaki Putri dan membiarkan miliknya yang perkasa melesak masuk ke rahim wanita itu.


Mendadak rasa bersalah itu kembali mengusik dalam hatinya. Apalagi saat ini tatapan mata Anita begitu tajam menghujam.


"An, aku..."


Anita berlalu dan pergi ke luar. Sesaat ia kembali dengan segelas air putih, lalu duduk di pinggiran tempat tidur.


Adnan masih berdiri ditempat, sambil memperhatikan punggung Anita. Sebab istrinya itu menghadap ke arah depan. Adnan kemudian melangkah, lalu duduk di sisi Anita.


"Aku melakukannya semalam, maafin aku."


Adnan berkata jujur. Anita membuang tatapannya ke lantai sambil mengangguk.


"Nggak apa-apa mas, dia juga istri kamu. Dan adalah haknya dia untuk mendapat nafkah batin dari kamu."


Adnan makin teriris hatinya mendengar pernyataan istrinya tersebut.


"Dengan mengizinkan kamu menikah lagi, aku udah siap atas segala konsekuensinya. Walau kamu bilang pernikahan ini tujuannya untuk menyelamatkan anak kamu, dan lain-lain. Tetap aku udah siap kalau kamu melakukan hubungan itu dengan Putri."


Adnan menarik nafas, kini bibirnya benar-benar terkunci rapat.

__ADS_1


"Aku semalam ditemani dokter Matt. Kami nggak sengaja ketemu dan dia cuma nemenin aku. Kami nggak melakukan apapun. Dari tempat minum kami pulang lalu makan di suatu tempat sampai hari terang. Terus kami pulang."


Gantian Adnan kini yang menunduk dan mengangguk. Pria itu kemudian merangkul dan memeluk Anita.


__ADS_2