
Beberapa hari kembali berlalu, dan Putri kini sudah diperbolehkan pulang. Dengan catatan ia masih harus berkonsultasi mengenai kesehatan mentalnya
Ghea, Miska dan Adnan mengantarnya sampai ke kosan. Adnan ada bicara pada ibu kos dan menitipkan Putri. Ia juga memberi sejumlah uang dan memberikan fasilitas baru di kos-kosan tersebut.
"Put, saya pulang dulu." ujar Adnan pada Putri.
"Kalau ada apa-apa kabari saya, Ghea, atau Miska." lanjutnya lagi.
Putri teringat jika ia belum memiliki kontak Adnan. Maka ia pun memintanya.
"Saya belum punya kontak bapak, karena nomor bapak ada di kartu nama dan belum saya pindahkan." ujar gadis itu.
Maka Adnan pun memberikannya, lalu mereka bertukar nomor telpon.
"Ya sudah, Ghe, Mis, titip Putri ya. Jangan lupa dia harus minum obat." ujar Adnan.
"Iya pak." jawab keduanya serentak.
Tak lama Adnan pun terlihat meninggalkan tempat itu.
***
"Dira, kamu nggak apa-apa?"
Ibu mertua Dira bertanya pada wanita itu, ketika Dira terlihat seperti orang yang mau muntah.
"Muka Dira juga pucat, ma."
Salah satu kakak dari Adnan yang kebetulan ikut, menimpali.
__ADS_1
"Iya, makanya ini mama khawatir." ucap ibu Adnan lagi.
Dira tersenyum.
"Nggak apa-apa koq ma, mbak. Ini bagian dari prose yang harus Dira jalani. Biar bisa punya anak." ujar Dira kemudian.
"Dira udah siao untuk ini dan untuk level-level pengobatan selanjutnya." Imbuh wanita itu lagi.
Sang ibu mertua dan ipar saling bersitatap satu sama lain. Mereka sangat kasihan melihat Dira, yang begitu berharap bisa memiliki anak.
Mereka menghargai usaha dari wanita itu, namun iba melihat perjuangannya.
"Pokoknya Dira semangat ya, kalau butuh apa-apa bilang aja ke Adnan, ke mama, atau ke mbak-mbak." ucap sang ibu mertua lagi.
"Iya ma." jawab Dira.
"Hallo mas Adnan." Dira berkata pada suaminya itu.
"Hei, sayang. Kamu masih sama mama?" tanya Adnan.
"Masih, kita lagi makan mas. Ada mbak Alina juga." jawab Dira.
"Oh gitu, gimana?. Ada pusing atau mual nggak kamu?" lagi-lagi Adnan bertanya.
"Hmm, ada sih dikit." jawab Dira.
"Beneran cuma sedikit atau kamu tahan-tahan aja." tanya Adnan.
Ia agak tak percaya pada istrinya itu kali ini.
__ADS_1
"Nggak koq mas, emang beneran sedikit." ucap Dira.
"Ya sudah kalau begitu. Mama mana?"
"Ada, nih. Mau ngomong?"
"Iya." jawab Adnan.
Dira lalu menyerahkan telpon tersebut pada sang ibu mertua. Sejenak Adnan kemudian berbincang dengan sang ibu. Tak lama kemudian telpon tersebut di kebalikan pada Dira.
"Ya udah sayang, aku kerja dulu ya." ujar Adnan.
"Iya mas, selamat bekerja dan semangat." ucap Dira.
"Iya, kamu juga semangat. I love you."
"I love you too." jawab Dira.
Adnan lalu berpamitan dan menyudahi telpon tersebut. Ia kembali sibuk bekerja, sementara istri, ibu dan kakaknya kembali makan.
***
Siang itu di kos-kosan, Ghea mengorder makanan untuk mereka semua. Ia juga membelikan untuk ibu dan penjaga kos. Serta office girl dan boy yang setiap hari bertugas membersihkan kos tersebut.
"Ayo kita makan!"
Ajak Ghea ketika makanannya telah tiba. Makan mereka semua duduk di bawah lalu membuka makanan tersebut.
Mereka makan sambil mengobrol. Topik tak jauh-jauh dari Adnan yang kini tengah dekat dengan Putri.
__ADS_1