Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Meminta Izin


__ADS_3

"Anita."


Tiba-tiba Adnan menghampiri Anita yang tengah duduk di sebuah kursi. Adnan berjongkok di hadapan istrinya itu sambil memegangi tangannya.


Anita yang sudah mengenal dan menikah selama bertahun-tahun dengan Adnan tersebut pun paham, jika pria itu kini tengah dilanda kekalutan.


Sebab sudah menjadi kebiasaan Adnan Menghampiri dan seolah bersimpuh dihadapan sang istri, apabila ia sudah tidak tahan menghadapi sesuatu. Atau apabila ada hal penting mendesak yang ingin ia bicarakan.


"Kenapa mas?" tanya Anita pada sang suami.


"An, aku..."


Adnan menjeda ucapannya lalu menarik nafas. Terasa agak begitu berat baginya untuk berkata jujur.


"Mas?"


"An, aku akan menikahi Putri."


Anita terkejut mendengar semua itu, karena sebelumnya mereka telah sepakat untuk tidak membahas lagi hal tersebut.


"Sementara waktu aja, sampai anak itu lahir." ujar Adnan.


"Ini cuma memenuhi permintaan ibu." lanjutnya lagi.


Pria itu benar-benar tak berani jujur, jika ia telah memiliki perasaan terhadap Putri. Dan meskipun ia jujur, belum tentu juga Putri akan mau menikah lama dengannya.


Ini saja belum tentu Putri mau menerima, meski ia juga memiliki rasa terhadap Adnan. Namun Adnan akan mengusahakan sebisa mungkin, karena memang pernikahan ini haruslah terjadi.


Kandungan Putri akan semakin membesar dan apa kata orang nanti jika ia hamil tanpa suami. Meski baik Adnan maupun Putri bisa saja menyembunyikan kehamilan itu dari orang lain.


Ia bisa menonaktifkan Putri dan tetap membiayai hidup perempuan itu hingga melahirkan. Alasan pada karyawan lain bisa saja dikatakan, jika Putri tengah bertugas diluar kota atau di mutasikan.


Tapi akan lebih ruwet lagi jadinya. Ditambah ibunya pasti akan mendesak Adnan secara terus menerus. Belum lagi merongrong lewat Anita.


"Mas serius dengan semua ini?" Anita bertanya pada Adnan.


"Aku udah janji sama ibu, akan memenuhi keinginan dia. Tapi hanya sampai anak itu lahir." jawab Adnan.


"Putri sudah mau melahirkan anak itu?" tanya Anita lagi.


"Sudah."


Seketika Anita pun tersenyum. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru.


"Beneran mas?" tanya nya pada Adnan.

__ADS_1


"Iya." jawab Adnan seraya balas tersenyum.


Anita pun memeluk sang suami secara serta merta.


"Mas kamu akan punya anak mas, aku senang banget mendengarnya."


"Anak kita." ujar Adnan kemudian.


"Itu anak kita." lanjutnya lagi.


Maka pasangan itu pun saling memeluk dengan erat.


"Kamu nggak apa-apa kan, kalau aku nikahi Putri untuk sementara waktu?. Sampai anak itu lahir."


Adnan bertanya seraya menatap mata Anita dalam-dalam.


"Iya mas, apapun itu demi kamu. Aku rela melakukannya." jawab Anita.


Adnan sedikit menunduk, merasa begitu tak enak hati pada sang istri.


"Nggak usah ngerasa nggak enak, mas. Karena yang seharusnya merasa seperti itu tuh aku. Aku yang nggak bisa kasih kamu anak. Mungkin yang maha kuasa memang lebih percaya untuk menitipkan anak itu di rahim Putri. Karena kalau ke rahim aku belum tentu hidup dan berkembang."


Air mata Anita mengalir deras, namun ia tetap tersenyum. Adnan pun semakin memeluk istrinya itu dengan erat.


***


Aaron menolak keputusan ibunya, yang akan mengizinkan Putri untuk menikah dengan Adnan untuk sementara waktu.


"Aaron, dengarkan mami. Ini hanya untuk sebentar saja, sampai anak itu lahir. Supaya dia memiliki status yang jelas di mata hukum. Sebagai anak dari pasangan yang menikah."


"Mi, mami sendiri yang bilang ke Aaron. Kalau Putri belum tentu mau melakukan semua itu. Ngapain mesti repot, kalau Putri nya aja belum tentu mau menikah dengan Adnan."


"Aaron, mau tidak mau, setuju ataupun tidak. Putri harus menikah dengan Adnan, walau cuma sebentar. Ini semua demi anak itu, supaya jelas status bapak dan ibunya."


"Nggak, ngaaak."


Nafas Aaron mulai naik turun akibat menahan emosi. Kali ini sang ayah yang menengahi dan menasehatinya. Hingga Aaron yang semula nampak mulai berapi-api itu pun perlahan mereda.


"Jadilah laki-laki dengan hati yang lapang, Aaron. Lagipula menikah itu hanya status, Putri tidak mencintai Adnan dan begitu juga sebaliknya. Mereka tidak akan melakukan apapun, walau sudah menikah nanyiy. Ibunya sudah berjanji sama mami, bahwa pernikahan itu hanya pernikahan di atas kertas."


"Kamu mengalah dulu, Aaron. Kita selesaikan masalah ini satu persatu." ujar sang ayah kemudian.


Aaron diam, ia tak mengerti kenapa semuanya menjadi seperti ini. Namun ia harus mengambil tindakan yang bijaksana demi Putri.


***

__ADS_1


"Bapak mau menikahi Putri?"


Shanin membuka suara dengan melontarkan pertanyaan pada Adnan. Tepat seusai Adnan mengutarakan niatnya untuk memperistri Putri, dihadapan Shanin dan juga Tari yang kebetulan mampir ke apartemen perempuan tersebut.


"Iya, ini semua demi anak kami. Supaya anak ini jelas statusnya."jawab Adnan.


Putri diam, Shanin dan Tari meradang.


"Tapi pak, bapak itu punya istri. Bagaimana mungkin rumah tangga dengan dua istri di dalamnya?. Itu nggak masuk di akal saya. Walau dalam sebuah keyakinan tertentu, hal tersebut tidak apa-apa. Tapi bagi saya itu sangat bermasalah."


Tari mengoceh panjang Lebar. Ia sangat menentang hal tersebut.


"Sha, kami menikah itu cuma status." ujar Adnan.


"Hanya supaya anak ini lahir dari orang tua yang menikah. Agar statusnya jelas dimata hukum." lanjutnya kemudian


"Apa bapak bisa janji untuk tidak menyentuh Putri?" tanya Tari.


"Saya janji." ujar Adnan kemudian.


Meski dalam hati tidaklah demikian. Ia memiliki perasaan kuat terhadap Putri dan begitupun sebaliknya. Bisa saja hubungan itu terjadi apabila mereka menikah nantinya. Tapi saat ini, titik berat permasalahan yang mereka hadapi bukanlah hal tersebut.


"Bapak janji akan menceraikan Putri setelah anaknya lahir?" tanya Shanin.


Adnan diam, namun kemudian ia pun menjawab.


"Iya, saya janji. Saya akan menceraikan Putri begitu anak ini lahir."


"Gimana Put?"


Shanin bertanya apa Putri, diikuti tatapan mata Tari dan juga Adnan sendiri. Pria itu sekaligus ingin mendengar jawaban dari Putri.


"Gua, gue bingung. Masalahnya masih ada satu permasalahan lagi." ujar perempuan itu.


"Apa?" tanya Tari.


"Aaron." Putri memberikan jawaban.


Shanin dan Tari pun menyadari hal tersebut. Namun tak lama sebuah notifikasi pesan singkat di terima oleh Putri. Dan pesan tersebut dari Aaron.


"Put, sebaiknya kamu menikah dulu dengan Adnan. Paling tidak sampai anak itu lahir. Selesaikan dulu masalah diantara kita satu persatu. Sebab akan jadi semakin runyam kalau terlalu lama di diamkan."


Putri terdiam membaca pesan tersebut. Ia kini menatap Shanin dan juga Tari.


"Aaron kasih gue izin." ujarnya kemudian.

__ADS_1


Adnan begitu lega mendengar semua itu. Sementara Putri, Shanin dan Tari masih berada dalam diam.


__ADS_2