Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Akankah


__ADS_3

"Pak Adnan."


Aaron memanggil Adnan pada keesokan harinya. Setelah ia menjenguk Putri dan berpapasan dengan pria itu di depan lobi depan rumah sakit. Adnan kebetulan baru bisa datang, lantaran harus mengurus pekerjaan terlebih dahulu.


"Iya." ujar Adnan seraya menghentikan langkah dan menoleh kepada Aaron.


"Bisa kita bicara." Aaron langsung to the poin.


Maka dalam sekejap mereka sudah terlihat duduk di sebuah kafe, yang berada di samping rumah sakit. Mereka memesan kopi dan mulai terlibat perbincangan.


"Saya mau tanya, apa bapak mencintai Putri?"


Adnan sedikit tersentak mendengar hal tersebut. Namun mau tidak mau ia pun harus menjawab.


"Kenapa anda bisa menanyakan hal tersebut pada saya?" tanya Adnan seraya menghisap pos vape miliknya.


Aaron menatap Adnan lekat-lekat.


"Karena saya melihat ada kekecewaan di mata bapak. Saat saya datang kepada Putri. Seolah bapak sangat takut Putri bersama saya."


Adnan diam, ia sedikit membuang tatapannya ke suatu arah. Dengan masih menghisap pod vape miliknya.


"Kalau iya, kenapa?"


Kali ini ia balik bertanya pada Aaron dan Aaron lah yang terdiam.


"Jadi itu benar?" tanya Aaron lagi.


"Saya rasa iya." jawab Adnan.


Aaron kemudian menghela nafas dan menghisap batang rokok yang terselip diantara kedua jarinya.


"Saya cuma minta tolong jaga Putri dengan baik. Kalaupun saya harus kehilangan dia, akibat pernikahan ini. Tolong berlaku adil, antara istri bapak dan juga Putri."


"Kenapa anda begitu pesimis, bisa saja kan Putri akhirnya kembali, setelah anak kami lahir."


"Saya sudah harus memikirkan kemungkinan terburuk, supaya saya siap jika hal tersebut benar terjadi. Sebab saya akan melepaskan Putri untuk sebuah pernikahan yang sah secara hukum. Bukan sebuah pernikahan di bawah tangan."


"Apa Putri tau, tentang apa yang anda bicarakan ini?" tanya Adnan pada Aaron.


Aaron menggeleng.


"Dia nggak perlu tau, kalau saya sudah tau mengenai perasaan dia kepada bapak."


Adnan menatap Aaron.

__ADS_1


"Saya tau dia memiliki rasa terhadap bapak. Meski dia sedih harus kehilangan saya." lanjut pemuda itu.


"Saya rasa itu tidak benar. I mean, mungkin saya punya perasaan terhadap dia. Tapi dia belum tentu memiliki semua itu terhadap saya."


Adnan mencoba menghibur Aaron dengan pernyataannya tersebut.


"Saya sudah bersama Putri selama bertahun-tahun, pak Adnan. Bahkan dari kami sama-sama masih remaja. Saya tau persis Putri itu bagaimana. Dan saya tau setiap perubahan yang terjadi pada diri dia. Dia sudah berubah dan bukan lagi Putri yang dulu."


Aaron menatap Adnan lekat-lekat.


"Dia mencintai bapak saat ini."


Seperti ada udara yang tiba-tiba membuat semuanya jadi beku. Adnan seperti kelu lidahnya, dan tak bisa membantah lagi.


"Tolong jaga Putri, pak. Jangan sakiti dia selagi pernikahan kalian berlangsung. Karena begitu bapak menyakiti Putri, baik secara fisik maupun mental. Bapak akan berurusan dengan saya. Saya merelakan, bukan berarti saya melepaskan seutuhnya. Saya akan tetap menjaga dia dengan cara saya." ujar Aaron kemudian.


"Bapak janji sama saya." lanjutnya lagi.


Adnan pun akhirnya mengangguk, sebab tak ada gunanya terus berkilah. Sedari tadi Aaron sudah mengetahui segala perkara perasaan yang dimiliki oleh Adnan untuk Putri, dan begitupun soal perasaan Putri terhadap ayah bayi yang dikandungnya itu.


***


Waktu berlalu.


Adnan akhirnya tiba di ruangan Putri, sesaat setelah Aaron berpamitan untuk pulang.


Adnan tersenyum, lalu duduk di samping perempuan itu.


"Tadi aku menemui dokter dulu." dusta Adnan.


Ia tidak ingin pertemuannya dengan Aaron jadi beban pikiran Putri.


"Dokter bilang apa?" tanya Putri.


"Nggak, cuma...."


Adnan berpikir keras, untuk kelanjutan jawaban atas pertanyaan Putri.


"Cuma bilang kamu akan segera pulih. Itu aja koq."


"Oh, aku pikir kenapa." ujar Putri lagi.


"Nggak." jawab Adnan.


"Oh iya, masalah keluarga kamu udah kelar." lanjut pria itu.

__ADS_1


"Serius, pak?. Bapak udah kesana?"


Adnan mengangguk.


"Iya." jawabnya kemudian.


"Terus tanggapan mereka gimana?. Bapak nggak diapa-apain kan sama mereka?"


Putri lalu terdiam, ia melihat ada biru lebam di sudut bibir Adnan.


"Pak, bapak di pukul sama mereka?" tanya nya penuh khawatiran.


"Nggak Putri, ini saya jatuh."


"Nggak mungkin pak, itu alasan basi dan sinetron banget. Saya tau ini pasti di pukul kan?"


Putri menyentuh wajah Adnan dengan tangannya. Adnan terdiam, ia meraih tangan perempuan itu kemudian menciumnya dengan lembut. Kini gantian Putri yang terdiam.


"Masalah itu udah selesai, kamu nggak usah khawatir."


Adnan membuat Putri makin terdiam. Kini jantung Putri mendadak berdegup kencang. Apalagi Adnan menatap matanya dalam-dalam. Putri menjadi seperti tak bisa bergerak sama sekali.


"Oh iya."


Adnan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah kotak kecil berwarna biru agak tua. Jantung Putri pun kian berdetak kencang dibuatnya, sebab ia tahu kotak apa itu.


"Pak ini?"


Adnan membuka kotak tersebut dan tampaklah sebuah cincin yang mungkin bertahtakan berlian. Putri sendiri tak mampu mengira-ngira apa yang melekat di atas cincin tersebut. Yang jelas kini seluruh persendiannya terasa lemas.


Antara takut, khawatir, namun haru dan juga bahagia. Ingin berteriak dan memeluk Adnan, tapi ingat jika pria itu adalah suami orang. Ia cinta, namun ragu. Suka tetapi seperti terhalang sebuah tembok besar.


"Will you marry me?" ujar Adnan dengan nada suara yang gemetar.


Putri tak bisa berkata apa-apa lagi. Tubuhnya membeku, namun ia pasrah saat Adnan memasangkan cincin itu di salah satu jari manisnya. Adnan Kemudian mengelus dan mencium bayinya yang ada di perut Putri.


"Jangan takut lagi ya, kamu harus tumbuh dan sehat selalu. Papa disini jagain kamu."


Air mata Putri menetes tanpa sadar. Begitu pula dengan Adnan. Mereka tau ini sangatlah benar, tapi juga begitu salah. Sebab dari semua yang mereka lakukan, ada dua hati yang akan tersakiti. Yakni Anita dan juga Aaron.


***


Dua hari kemudian Adnan beserta keluarga pergi melamar putri kepada keluarganya. Meski saat itu Putri masih berada di rumah sakit. Keluarga Putri menyambut dengan baik, sementara ibu Adnan terlihat begitu gembira.


Dengan berbesar hati, Anita ikut dalam acara tersebut. Adnan pun menjadi begitu sakit di sela-sela kebahagiaan yang ia rasakan.

__ADS_1


Ia bahagia karena bisa menyelamatkan anaknya. Bisa memberikan status kepada darah dagingnya tersebut. Namun disisi lain, ia sakit melihat Anita yang berusaha tegar. Tetap tersenyum dan berbincang dengan keluarga Putri, meski hatinya hancur lebur.


Sekalipun Adnan mengatakan pernikahan tersebut hanyalah demi bayi yang dikandung Putri. Perempuan mana yang bisa begitu rela melihat suaminya menikah lagi. Sudah pasti Anita terluka dan berdarah-darah dalam hatinya.


__ADS_2