
Esok hari di kantor Anita, pada saat jam pulang. Seluruh karyawan sudah meninggalkan pekerjaan masing-masing.
Ada yang sudah berada di jalan pulang, namun ada pula yang masih nongkrong di kantin sambil menikmati minuman dingin. Mereka adalah teman-teman Anita. Sedang Anita sendiri sudah pulang sejak tadi.
"Anita harusnya nggak kayak gitu. Dia salah kalau curhat sama teman laki-laki. Apalagi sampai minum bareng. Namanya lawan jenis, udah sama-sama dewasa ya kan. Bisa aja khilaf dan akhirnya kejadian."
Salah satu teman Anita berujar.
"Iya, harusnya dia curhat ke Tuhan aja jangan sama orang." celetuk yang lainnya lagi.
"Tunggu!"
Teman Anita yang sejak tadi hanya diam kini mulai ikut bersuara.
"Orang itu nggak bisa kita sama ratakan." ujarnya lagi.
"Mungkin sebagian orang ada yang cukup hanya dengan bercerita kepada Tuhan dalam doa. Tapi sebagian lain ada yang butuh di dengarkan dan di beri pandangan oleh sesama manusia juga. Karakter orang itu beda-beda, kita nggak bisa menyamaratakan sebuah kebutuhan." Ia melanjutkan kata-katanya.
"Iya, di posisi ini kita nggak bisa menjudge Anita." teman Anita yang lainnya juga berujar.
"Sebab kita nggak tau nih, mungkin aja dokter Matt itu adalah satu-satunya orang yang Anita percayai untuk mendengarkan dia. Kan nggak semua orang nyaman bercerita sama orang lain. Mungkin Anita nggak nyaman cerita sama salah satu dari kita. Dan lagi kita semua sibuk sama keluarga masing-masing. Mana sempat kita dengerin curhatan orang." lanjutnya kemudian.
Kedua teman yang tadi seakan menyalahkan Anita di awal, kini terdiam.
"Memang Anita caranya salah, dia curhat di bar dan berakhir di kamar hotel. Walaupun nggak sampe terjadi macem-macem. Tapi balik lagi, mungkin dia saking kalutnya dan udah nggak bisa menahan kemarahan. Sehingga dia bertindak tanpa berpikir panjang."
"Gue setuju sama lo, Din. Gue juga nggak kebayang kalau ada di posisi Anita. Suami nikah lagi dan sekarang istri barunya hamil. Tadi gue juga sempat ada bilang sih ke dia. Silahkan dia kalau mau curhat sama siapa aja, tapi yang jelas jaga kehormatan. Dia kan masih istri orang. Kalau emang udah nggak mau sama Adnan ya cerai dulu, baru cari lagi pengganti. Jangan dia selingkuh, nanti seenaknya keluarga Adnan makin menghina dia."
Dini mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju.
"Tapi sekalipun Anita minta cerai, Adnan nggak bakal mengabulkan sih kalau kata gue. Dia cinta banget sama Anita." ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Iya, gue salah satu saksi perjalanan mereka tuh." celetuk Airin yang juga sejak tadi hanya diam mendengarkan.
Teman kantor Anita yang ada disitu berjumlah enam orang. Dan semuanya mendengarkan saat tadi Anita bertanya, apakah ia salah curhat pada dokter Matt atau tidak.
"Anita itu nemenin Adnan dari nol banget. Orang tua Adnan nggak mau ngasih modal, karena kecewa Adnan nikah sama Anita. Mereka dulu pengennya Adnan nikah sama pilihan mereka." lanjut Airin.
"Iya, sampe pernah loh Anita itu kerja bawa bekal mie instan selama dua Minggu berturut-turut tanpa nasi. Cuma karena ngirit uang suaminya." timpal Dini.
"Iya sih, inget banget itu. Waktu kita masih kerja di tempat lama ya, Din?. Sampe kita sekantor patungan dan bantu beliin dia beras dan lain-lain.
"Iya, Adnan tuh sampe curhat ke gue dan nangis saat itu. Dia bilang gagal jadi suaminya Anita."
"Sayang banget ya rumah tangga mereka mesti di recokin orang tua dan keluarga Adnan. Padahal mereka saat itu nggak punya anak happy-happy aja." celetuk teman yang lain.
Dini dan Airin mengangguk.
"Ya mungkin udah jalan takdirnya mereka. Disini gue nggak mau menyalahkan siapa-siapa. Gue juga nggak bisa menjudge Adnan ataupun istri barunya. Semoga setelah ini Anita bisa bahagia." ujar Dini lagi.
***
Ia hanyalah manusia biasa, dan baru kali ini ia menghadapi masalah rumah tangga yang begitu rumit.
Selama menikah ia selalu di tekan oleh keluarga Adnan. Tapi saat itu ia menghadapinya berdua. Adnan menjadi sandaran paling berharga bagi Anita. Namun kini justru Adnan yang menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Dan praktis Anita tak mempunyai pegangan lagi.
Sandaran yang ia miliki, kini juga telah menjadi sandaran perempuan lain. Air mata Anita mengalir dia sela-sela aktivitasnya dalam mengemudikan mobil.
Selang beberapa saat perempuan itu tiba di depan rumah sakit. Ia menghentikan mobil dan keluar. Secara kebetulan ia bertemu dengan dokter Matt, seakan alam mengetahui jika tujuannya memanglah hendak menemui pria itu. Ia ingin meluruskan semuanya, namun ia kaget melihat wajah dokter Matt yang memiliki banyak bekas lebam.
"Dok, apa ini perbuatan mas Adnan?"
Anita langsung menghubungkan ke arah situ. Sebab tadi pagi mereka bertengkar dan Adnan menyinggung perihal Anita yang pergi dengan dokter tersebut.
__ADS_1
"I'm okay." ujar dokter Matt kepadanya.
"Ini hanya perbuatan dari seorang laki-laki yang sedang mencoba mempertahankan kehormatan rumah tangganya. Dan saya adalah orang yang sedang mencoba menyelamatkan seorang wanita dari rasa tidak bahagia yang sedang menyiksanya. So, ini cukup impas." lanjut pria itu.
Benak Anita kini di sesaki rasa bersalah yang begitu besar.
"Ini semua karena saya, dok. Saya yang nggak bisa menahan amarah."
Dokter Matt tersenyum dengan sangat tipis. Dan masih memperhatikan Anita.
"It's not a big deal. Karena saya menyukai anda."
Anita tercengang mendengar semua itu. Ia juga bertanya-tanya pada apa yang ia rasakan terhadap dokter Matt belakangan ini.
"Saya sudah bilang sama Adnan soal perasaan saya, dan saya tidak memaksa anda."
Anita menunduk dalam.
"Kita akan tetap berteman, dok. Maaf saya sudah membawa dokter masuk ke kehidupan saya terlalu jauh. Kita mungkin masih bisa bertemu, tapi tidak di tempat yang biasa."
Anita kembali menatap dokter Matt dan begitupun sebaliknya.
"Ok." jawab dokter Matt kemudian. Ia menghargai keputusan Anita yang tampak lebih condong ke rumah tangganya bersama Adnan.
"Maafkan saya sekali lagi, saya pamit dok."
"Iya."
Maka Anita pun berlalu dari hadapan dokter Matt. Anita melangkah menuju ke halaman parkir, namun kemudian ia berpapasan dengan seorang dokter senior. Dokter tersebut menatapnya cukup dalam.
"Matt itu anak saya." ujarnya pada Anita. Seketika Anita pun terkejut.
__ADS_1
"Saya tidak masalah, dia mau berhubungan dengan siapa. Saya hanya berpesan tolong jangan permainkan dia. Jangan jadikan dia sebagai tempat pelampiasan. Dia anak baik, dan dia tulus terhadap orang lain. Dia sangat mudah bersimpati pada sosok perempuan, karena dia tumbuh tanpa sosok ibu. Saya membesarkannya sendirian. Jadi tolong jangan sakiti dia."
Anita terpaku di tempatnya tanpa bisa menjawab apa-apa. Sedang kini dokter yang mengaku sebagai ayah dokter Matt itu pun berlalu.