Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Kian Tumbuh


__ADS_3

"Tok, tok, tok."


Terdengar suara ketukan di pintu apartemen Putri. Wanita itu berjalan dengan sempoyongan dan membukanya. Ternyata petugas keamanan.


"Iya pak." jawab Putri.


"Ada yang mau ketemu mbak Putri." ujar petugas keamanan tersebut.


Tiba-tiba Adnan muncul.


"Pak Adnan?" Putri terkejut.


"Si, silahkan masuk pak." ujarnya kemudian.


"Saya permisi ya bu." Pihak keamanan berpamitan pada Putri.


"Iya pak, makasih ya pak." ujar Putri.


"Sama-sama." ujar pihak keamanan itu seraya menjauh.


"Kamu sakit apa, Put?" tanya Adnan seraya melangkah ke dalam mengikuti Putri.


"Nggak tau pak, tiba-tiba aja. Bapak kenapa tau saya sakit?" tanya Putri.


"Temen kamu, Shanin. Ketemu saya di jalan."


"Oh, terus dia bilang ke bapak?"


"Iya, dia minta tolong sama saya. Makanya saya langsung ke sini."


"Duduk, pak." ujar Putri.


Adnan lalu duduk di sofa ruang tamu.


"Bapak mau minum apa?" tanya Putri seperti hendak bergerak ke arah dapur.


"Nggak usah, Put. Justru saya ke sini mau memastikan keadaan kamu dan bila perlu bawa kamu ke rumah sakit."


"Saya nggak apa-apa, pak. Bapak mau minum apa."


"Udah nggak usah, kamu istirahat aja."


"Nggak apa-apa koq pak."


Putri masih saja ngeyel, namun kemudian ia kian sempoyongan dan nyaris terjatuh. Beruntung Adnan dengan sigap bergerak dan menangkap tubuh perempuan itu. Dalam sekejap Putri sudah berada di pelukan Adnan. Membuat keduanya terdiam sambil bersitatap satu sama lain.


"Apa saya bilang, istirahat dulu aja di sini."


Adnan membawa Putri untuk duduk di sofa.


"Kita ke dokter ya." ujar Adnan kemudian.


"Tapi pak, saya jadi ngerepotin bapak."

__ADS_1


"Udah nggak usah mikir macem-macem. Kamu udah sarapan belum?"


Putri menggelengkan kepalanya.


"Saya mual, pak. Dan nggak selera makan juga." ujarnya kemudian.


Adnan menghela nafas cemas. Kemudian tanpa di suruh ia pun bergerak ke arah kitchen set dan mencari ada apa disana.


"Kamu nggak punya susu hamil, Put?" tanya Adnan pada Putri.


Putri kembali menggelengkan kepalanya.


"Nggak ada, pak." jawabnya.


Adnan kemudian melihat ada apa disana. Ternyata ada susu bubuk full cream. Maka ia pun membuatkan segelas susu hangat untuk Putri.


"Nih, kamu minum dulu. Jangan biarkan perut kamu dalam keadaan kosong. Nanti makin mual." ujar Adnan.


Pria itu menyodorkan segelas susu yang ia buat pada Putri.


"Minum dulu, abis ini kita jalan ke rumah sakit." ujarnya lagi.


Putri pun lalu meminum susu tersebut secara perlahan. Ada rasa hangat yang menjalar di perut serta hatinya. Entah mengapa ia begitu senang diperhatikan seperti ini oleh Adnan. Sepertinya bayi yang didalam tengah merindukan ayahnya.


Tak lama Adnan pun membawa Putri untuk menuju ke rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, Putri kerap kali mengeluh mual. Dan setiap kali itu terjadi, Adnan memperlambat laju kendaraan lalu mengelus perut Putri.


Putri merasa nyaman dengan perlakuan Adnan tersebut. Bahkan ada beberapa momen yang membuatnya benar-benar lupa total kalau dia memiliki Aaron, ia juga tak ingat jika Adnan adalah suami orang.


Setibanya di rumah sakit, dokter menyarankan Putri untuk di rawat inap. Sebab ia berada dalam kondisi anemia yang cukup memprihatinkan.


Akibat ia tak bisa makan dengan baik dan normal saat masalah antara dirinya, Adnan dan juga Aaron yang sempat menjadi rumit. Ia tak cukup mendapat asupan zat besi dan juga zat gizi lainnya.


"Pak, saya nggak mau di rawat." ujar Putri.


"Put, ini semua demi kebaikan kamu. Supaya nggak makin parah. Lagian juga di rumah sakit nggak susah, cuma tidur doang dan menerima perawatan." Adnan berusaha membujuk Putri.


"Tapi pak, nanti kalau saya bosan gimana?"


"Saya yang akan jagain kamu."


Putri membuat Putri cukup terkejut, namun ada perasaan hangat yang kembali menjalar di hatinya. Meskipun ia berulangkali mengatakan pada dirinya jika ia tak seharusnya merasa nyaman pada Adnan.


"Saya juga akan memberitahu teman kamu, supaya mereka bisa bolak-balik kesini dan menemani kamu kalau seandainya saya lagi nggak bisa."


"Tapi, pak."


"Put, nurut sama saya sekali ini aja. Ya?"


Adnan sepertinya sangat-sangat berharap. Sebab ia benar-benar khawatir akan kondisi Putri. Putri pun tak punya pilihan lain dan akhirnya menuruti saja, apa yang menjadi permintaan pria itu. Putri kemudian mulai ditangani oleh perawat dan petugas medis lainnya.


Adnan mengurus segala keperluan administrasi, termasuk mencarikan kamar yang nyaman dan tenang.


Setelah mendapat ruangan, Putri pun akhirnya dipindahkan ke sana. Dengan posisi tubuh sudah di infus dan berganti pakaian pasien.

__ADS_1


"Nanti pulang kerja saya ke sini. Pokoknya di jam makan, kamu harus makan ya." Adnan berpesan pada Putri.


Perempuan muda itu pun mengangguk. Entah mengapa kini di dalam hatinya, muncul perasaan ingin di cium oleh Adnan. Namun Putri berusaha keras mengusir keinginan tak masuk akal tersebut dari benaknya.


"Saya ke kantor dulu." ujar Adnan kemudian.


Lagi-lagi Putri mengangguk. Adnan kemudian menghilang di balik pintu ruangan.


"Hhhhh." Putri menghela nafas.


"Kamu kenapa sih?. Pasti kamu kan yang minta di cium papa kamu?" Putri menyalahkan bayinya yang masih di dalam kandungan.


"Nggak boleh gitu ya. Soalnya kalau kamu berkeinginan kayak gitu, mama yang malu." lanjutnya lagi.


"Wait, mama?" Putri terdiam mendadak akibat ucapannya sendiri.


"Mama." gumamnya lagi.


Entah mengapa kata-kata tersebut mengalir dengan sendirinya di bibir perempuan itu. Dan ia merasa nyaman saat menyebut dirinya mama.


Putri pun lalu diam, dan larut dalam perasaan yang campur aduk.


***


Adnan tiba di kantor, dan kembali harus berhadapan dengan ibunya yang tiba-tiba saja datang.


"Adnan."


Sang ibu mencegat langkah Adnan yang baru keluar dari dalam mobil.


"Ibu ngapain lagi sih disini?" Adnan gusar pada ibunya tersebut.


"Ibu mau ketemu Putri." ujar ibunya kemudian.


"Bu, ini tuh kantor. Ibu nggak boleh asal nemuin karyawan, untuk kepentingan ibu pribadi. Lagipula Putri saat ini sedang nggak masuk."


"Kenapa dia nggak masuk?"


"Adnan sedang tugaskan dia di rumah, karena alasan kesehatan."


"Putri sakit?"


"Nggak bu, buka Adnan mau dia banyak istirahat aja."


Adnan berdusta pada sang ibu. Sebab bila dikatakan sakit, takutnya sang ibu akan heboh dan memaksa untuk tau dimana alamat Putri. Bisa-bisa hidup Putri jadi makin runyam dan terganggu.


"Oh ya sudah kalau begitu, tapi kamu nggak pecat dia atau menjauhkan dia dari hidup kamu?"


"Nggak bu, dia baik-baik aja." ujar Adnan lagi.


"Ya sudah, ibu tunggu kabar kapan kamu mau menikah dengan Putri. Ibu permisi dulu."


Ibu Adnan berlalu, tinggallah Adnan yang kini berusaha menarik nafas panjang.

__ADS_1


__ADS_2