Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Hari Untuk Aaron


__ADS_3

Putri akhirnya keluar dari rumah sakit. Dalam dua hari Aaron akan kembali bertolak menuju London. Kini keduanya bertemu dan saling berpelukan satu sama lain.


"Maafin aku." ujar Putri sambil masih terus memeluk kekasihnya itu.


Aaron mengangguk.


"Maafin aku juga. Seandainya aku nggak mementingkan S2 dan langsung menikahi kamu saat itu, mungkin semua ini nggak akan terjadi." ujar Aaron.


"Kita jalani ini sama-sama dan kita harus saling menguatkan." lanjut pria itu kemudian.


Putri mengangguk sambil menangis di pelukan sang kekasih. Aaron yang juga menangis tersebut melepaskan pelukan, kemudian memegang bahu Putri dan menatapnya penuh senyuman.


"Nggak boleh sedih lagi ya, kasihan bayinya. Mamanya nggak boleh sedih, nanti berpengaruh buat dia."


Tangis Putri malah makin pecah dan Aaron kembali memeluk perempuan itu. Ia sangat sedih hari ini. Meski ia menyadari jika ia memiliki rasa terhadap Adnan. Namun hubungan yang ia jalani bersama Aaron adalah hubungan yang tidak sebentar.


Dan hubungan tersebut sudah sangat jauh, bahkan mereka melakukan hubungan yang seharusnya hanya dilakukan oleh pasangan suami istri.


Bisa dibayangkan betapa eratnya ikatan batin diantara mereka. Meskipun itu sangat salah, namun mereka terikat kuat satu sama lain.


Putri memiliki rasa terhadap Adnan. Namun penghalang perasaan itu sudah jelas adalah, karena status Adnan yang merupakan suami orang.


Sedang pada Aaron, ia memiliki perasaan cinta yang bebas dan tak terhalang apapun. Hal tersebutlah yang membuat Putri sangat berat meninggalkan Aaron.


Aaron sendiri kini lebih ikhlas. Ia hanya berharap jika Putri akan menepati janjinya. Yakni bercerai dari Adnan ketika anak mereka telah lahir.


"Kita pergi yuk!" ajak putri kemudian.


"Kemana?" tanya Aaron.


"Aku mau menghabiskan waktu sama kamu sebelum kamu pergi, dan sebelum...."


Putri menunduk.


"Sebelum kamu menikah?" tanya Aaron.


Putri mengangguk. Aaron tersenyum sambil menghapus air mata yang mengalir di kedua sudut matanya sendiri.


"Ayo." ujarnya kemudian.


Putri masih menunduk.

__ADS_1


"Jangan merasa terbebani ya sayang, jalani aja hidup ini apa adanya. Kamu nggak ada salah sama aku, mami dan papi juga nggak ada menilai buruk ke kamu. Kami semua mendukung kamu, sayang sama kamu." ujar Aaron.


Kemudian ia mengangkat wajah wanita itu dan memberikan senyuman padanya. Sekali lagi mereka saling berpelukan dan sama-sama menangis.


***


Hari itu Putri dan Aaron jalan-jalan berdua. Putri sepakat memberikan hari terakhir untuk Aaron dan begitupun sebaliknya. Sebelum Putri menjalani rumah tangga sementaranya bersama Adnan.


Sebelum Aaron kembali ke London dan mungkin tidak akan kembali untuk waktu yang sangat lama. Sebab Aaron pun ingin pergi dan menghindari kenyataan yang begitu pahit ini.


Aaron bertanya pada Putri, mau kemana mereka. Namun Putri menjawab, terserah pada Aaron saja. Kemana Aaron suka, Putri akan menyukainya. Dan entah mengapa mobil Aaron mengarah ke tempat ini.


Sebuah sekolah menengah pertama, dimana mereka pernah sama-sama menempuh pendidikan disana. Keduanya sama-sama terdiam, dan suasana menjadi hening untuk waktu yang cukup lama.


Pikiran mereka melayang ke masa itu. Saat dimana keduanya masih bersahabat dan membuat banyak kenangan disana.


Tawa, canda, pertengkaran kecil. Semuanya kini melintas seperti sebuah cuplikan tayangan. Membuat keduanya kini merasa sama-sama gamang dan seolah tak berpijak lagi di bumi.


"Kangen ke masa itu."


Aaron berujar sambil menjatuhkan pandangannya ke depan. Putri diam, sebab ia kini juga merasakan hal yang sama. Aaron menggenggam tangan Putri dan begitupun sebaliknya.


"Inget nggak waktu itu kita pernah nyungsep disini, pas aku belajar naik motor?"


Aaron bertanya pada Putri, ketika melalui sebuah area. Putri tertawa di sela-sela kesedihannya. Perempuan itu mengangguk sambil mengingat kejadian tersebut.


"Itu gigi aku patah." ujar Putri.


"Untung masih ada gingsul diatasnya, jadi sekarang bisa nutupin yang ompong itu." lanjutnya kemudian.


Mereka berdua sama-sama tertawa, namun sama-sama menitikkan air mata.


"Lagian kamu sih berisik banget, rusuh di belakang. Ketakutan nabrak orang lah, takut ngebut lah, ujungnya kita beneran celaka." ujar Aaron.


"Ya kamu naik motornya ugal-ugalan, kayak driver tong setan tau nggak."


Aaron tertawa bahkan nyaris tersedak mendengar peryataan itu.


"Eh udah nggak ada lagi ya tong setan?. Inget kan yang kita ke pasar malem, karena penasaran itu tuh kayak apa isinya." tukas Aaron.


"Iya, yang kamu naik wahana gitu terus mesinnya mati dan ngerepotin semua orang, karena kamu ada di paling atas, terus teriak-teriak." ujar Putri.

__ADS_1


Keduanya makin tertawa-tawa.


"Kamu laper nggak, makan yuk!" ajak Aaron.


"Ayo." jawab Putri.


Kebetulan memang perutnya sudah sangat lapar sekali. Sebab ia saat ini tengah hamil, dan butuh asupan setiap saat.


Aaron kemudian mengajak Putri ke sebuah warung tenda langganan mereka selama berpacaran. Orang-orang yang bekerja di tempat itu bahkan sudah hafal pada mereka berdua.


"Mas Aaron, mbak Putri. Jadi kan nikah tahun depan?" tanya sang pemilik warung, ketika Putri dan Aaron selesai memesan.


Keduanya sama-sama terdiam, dengan jantung yang berdegup kencang.


"Mmm, iya bu. Jadi koq." jawab Aaron sambil berusaha tersenyum. Meski hatinya serasa di tusuk ribuan pisau tajam.


"Cateringnya udah dapat belum?. Kalau belum saudara ibu ada yang buka catering. Ibu juga bantu disana." ujar sang pemilik tersebut.


Putri dan Aaron kembali memaksakan sebuah senyum.


"Iya bu, boleh tuh. Nanti kami bicarakan dulu." jawab Aaron.


Tak lama makanan yang mereka pesan pun tiba. Mereka berdua berusaha untuk menelan makanan tersebut. Meski hati sedemikian kacau dan rasanya selera makan pun berkurang.


Namun tubuh mereka butuh energi. Aaron tak boleh sakit lagi, sebab harus kembali ke London dalam waktu dekat. Sedang Putri harus memberi nutrisi pada bayi yang tengah ia kandung.


Maka Aaron memutuskan untuk tidak lagi membahas masa lalu ataupun masa yang akan datang. Ia mencari topik obrolan lucu, hingga tak lama keduanya makan sambil tertawa-tawa. Seolah tak ada sesuatu yang menimpa hubungan mereka.


Usai makan, mereka kembali berjalan-jalan. Aaron berusaha keras menyenangkan hati Putri dan begitupun sebaliknya.


"Put, makasih untuk hari ini."


Aaron berujar ketika ia dan kekasihnya itu telah sampai ke muka apartemen milik Putri.


"Aku juga terima kasih, aku..."


Putri menangis, Aaron segera memeluknya.


"Cukup, Put!. No more tears. Kamu harus kuat, sebab aku nggak akan kuat kalau ngeliat kamu lemah."


Putri mengangguk, dan detik berikutnya mereka pun kembali berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2