
"Putri, kamu serius soal ini?"
Adnan bertanya dengan nada gemetar. Ia masih tak percaya pada apa yang barusan ia dengar.
"Iya pak, saya sudah pikirkan matang-matang. Saya nggak akan menggugurkan anak ini." jawab Putri.
Hati Adnan mendadak dipenuhi rasa haru, terlihat jelas jika ia mencoba mengatur nafasnya yang sedikit tersengal. Jantung pria itu berpacu dengan cepat, seperti ia tengah berada di dalam sebuah halusinasi.
"Put, coba sekali bilang sekali lagi." pinta Adnan. Kali ini ia berdiri dan memegang tangan Putri.
"Anak ini, akan saya lahirkan pak."
Air mata Adnan menetes, namun pria itu tersenyum bahagia. Ia kemudian memeluk Putri secara serta merta dan terasa begitu erat. Putri membalas pelukan Adnan dan membiarkan pria itu meluapkan sejenak segala perasaan emosional yang ia rasakan.
"Pak, nanti diliat karyawan lain."
Putri mencoba menyadarkan Adnan, ketika pelukan itu tak juga di lepas.
"Eh, sorry." Adnan merasa tak enak hati. Ia melepaskan pelukan itu dan terlihat agak salah tingkah.
"Maafkan saya." ujarnya sekali lagi.
Putri tersenyum.
"Nggak apa-apa, pak. Bapak senang kan sekarang?" tanya Putri. Dan tentu saja Adnan mengangguk.
"Saya senang, Put. Senang sekali." ujar Pria itu lagi.
"Apa yang membuat kamu berubah pikiran seperti ini?" tanya Adnan pada Putri.
Putri menunduk sejenak, namun kembali menatap Adnan.
"Saya..."
Putri menarik nafas.
"Saya sayang sama anak ini pak." jawabnya kemudian.
Adnan tersenyum dan kembali memeluk Putri. Kali ini tak begitu lama, karena takut sekretaris atau karyawan lainnya tiba-tiba masuk dan melihat.
"Terima kasih, Put. Saya nggak tau harus bilang apa lagi sama kamu. Kamu kalau mau apapun itu bilang ke saya, apapun tanpa terkecuali." ujar Adnan.
"Iya pak, terima kasih. Saya cuma mau bapak bantu pikirkan. Bagaimana nanti kalau kandungan saya sudah membesar. Saya harus bilang apa sama rekan kerja yang lain. Sedangkan mereka tau kalau saya belum menikah."
Adnan menghela nafas.
"Saya akan tugaskan kamu di kantor satunya. Disana tidak ada yang tau mengenai asal-usul kamu. Bilang saja kalau kamu sudah punya suami, mereka akan percaya." jawab Adnan.
Putri lega mendengar semua itu.
"Baik pak." ujarnya kemudian.
Adnan mengangguk.
"Saya kembali ke meja saya ya pak?" ujar Putri sekali lagi.
"Iya." jawab Adnan.
__ADS_1
Lalu Putri pun berbalik meninggalkan tempat itu dan melangkah ke arah pintu.
"Put."
Adnan menghentikan langkah Putri, perempuan itu kini menoleh.
"Terima kasih banyak." ucap Adnan.
Putri mengangguk sambil tersenyum, sesaat kemudian ia pun menghilang dibalik pintu. Adnan kembali duduk, seraya menarik nafas dan memegangi dadanya. Ia benar-benar syok, namun bukan syok yang berakibat fatal. Jantungnya masih berdegup kencang diiringi rasa bahagia yang teramat sangat.
Ia kemudian mencoba menyakiti dirinya sendiri dengan cara menggoreskan kukunya di kulit tangan. Dan itu terasa sakit.
Adnan pun semakin bahagia, karena kini ia percaya jika ia tidak sedang bermimpi ataupun berhalusinasi. Kedatangan Putri yang membawa berita baik tersebut memanglah nyata adanya.
Ia akan segera memiliki seorang anak. Anak yang telah lama ia dan Anita nantikan selama ini. Anak yang nantinya akan mewarnai rumah mereka dengan tangis, dan juga canda tawa.
Tanpa terasa Adnan tersenyum dengan sendirinya, bahkan kembali meneteskan air mata.
***
"Aarrggh."
"Aarrggh."
"Braaaak.
"Praaang."
Aaron mengamuk di dalam kamarnya, membuat seluruh penghuni rumah terbangun. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari. Orang tua Aaron beserta Aline, dan juga para pembantu segera mendatangi tempat itu.
"Aaron."
Ayahnya memanggil seraya mengetuk pintu, namun tak ada jawaban. Malah yang ada Aaron semakin mengamuk.
"Aarrggh."
"Aarrggh."
"Praaang."
"Aaron."
Lalu hening, tak ada jawaban sama sekali. Bahkan ketika ketukan dan panggilan itu telah di lakukan berulangkali.
Tiba-tiba salah seorang kakak sepupu Aaron yang kebetulan sedang menginap, mendekat. Ia mencoba mendobrak pintu kamar Aaron dan berhasil.
"Braaak."
Tampak beberapa barang pecah, semua keadaan jadi berantakan. Dan yang paling mengejutkan adalah,
"Aaron."
Ayahnya berteriak dan menghampiri Aaron yang jatuh tak sadarkan diri di lantai. Ia tergeletak diantara pecahan beling dari gelas dan kaca yang ia lempar serta jatuhkan.
"Aaron."
Sepupu dan supir turut mendekat. Aline bergegas menelpon ambulance. Sementara ibu dan para asisten rumah tangga kini tampak syok berat.
__ADS_1
Tak sampai beberapa menit ambulans datang, Aaron pun kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat.
***
"Kita harus kabari Putri." ujar ibu Aaron, setelah sang anak mendapat penanganan di instalasi gawat darurat.
"Jangan dulu, mi." Aline menghalangi.
"Loh kenapa?" tanya ibu aaron kemudian.
"Ini sudah malam, mi. Takutnya nanti Putri panik dan terburu-buru kesini. Terus di jalan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."
"Iya juga sih." Gumam ibu Aaron.
"Lagipula kita nggak tau, masalah yang terjadi sama Aaron sekarang ini ada hubungannya atau nggak sama Putri." Lanjut Aline lagi.
Ibu Aaron pun diam, dalam hati ia membenarkan perkataan anak perempuannya itu.
"Ya sudah kalau begitu, kita tunggu besok pagi saja." ujarnya.
"Dan semoga adikmu baik-baik saja." lanjutnya lagi.
"Iya mi." jawab Aline menutup percakapan.
***
"Selamat, bro. Akhirnya lo bakal jadi bapak."
Tristan mengucapkan kata-kata tersebut pada Adnan. Ketika mereka bertemu sesaat setelah pulang kerja, pada keesokan harinya.
"Thanks, bro." ujar Adnan kemudian.
"Lo mau kopi apa?" tanya Tristan.
"Espreso." jawab Adnan.
Tak lama seorang pelayan mendekat dan mereka memesan kopi.
"Anita gimana, dia seneng dengar kabar ini?" tanya Tristan lagi.
"Gue, belum bilang ke dia. Karena momennya belum tepat." jawab Adnan.
"Belum tepat maksudnya?" Lagi lagi Tristan mengajukan pertanyaan.
"Ya, seperti yang lo ketahui kalau semenjak masalah gue sama Putri muncul. Hubungan gue sama Anita di rumah agak renggang. Dan saat ini kita berdua sedang berupaya untuk mengembalikan semuanya seperti semula. Gue lagi mesra-mesranya sama dia. Gue takut kalau gue kasih tau sekarang, apa yang kita usahakan ini akan rusak gitu aja."
"Oh, I see." jawab Tristan.
"Tapi by the way, koq tiba-tiba Putri mau?" lanjutnya lagi.
"Gue juga nggak tau kenapa. Padahal gue udah putus asa dan ya, gue udah pasrah aja sih soal anak itu. Kalaupun mau di gugurkan. Tapi ternyata semesta berkehendak lain."
"Mungkin anak itu rejeki lo." ujar Tristan.
"Ya, maybe."
Adnan tersenyum, lalu menghidupkan sebatang rokok. Sebab mereka memang tengah berada di smooking area.
__ADS_1
Tak lama kemudian kopi yang mereka pesan pun tiba. Kedua pria itu lanjut mengobrol, hingga gelap menyapa menggantikan terang