Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Sebuah penyesalan


__ADS_3

"Jadi mbak Putri tidak mau melanjutkan kasus ini?"


Sang pengacara bertanya pada Putri dan Putri pun mengangguk.


"Iya pak, tapi saya akan tetap bayar bapak. Karena sudah membantu saya sejauh ini."


"Tapi apa mbak Putri sudah pikirkan matang-matang?" tanya pengacara itu lagi.


"Sudah pak." jawab Putri.


"Dan saya yakin." lanjutnya kemudian.


Pengacara itu menghela nafas dan menatap Putri dalam-dalam.


"Baik, kalau itu yang mbak Putri inginkan. Saya hanya berharap yang terbaik untuk mbak Putri."


"Terima kasih banyak ya pak."


"Iya mbak Putri, sama-sama."


***


"Putri, ada hal yang kamu inginkan?"


Putri tiba-tiba mendapat pesan singkat dari Adnan. Kemudian ia berpikir dan bertanya pada diri sendiri. Perihal ada atau tidaknya sesuatu yang ia inginkan saat ini.


"Nggak ada deh, pak." jawab Putri kemudian.


"Beneran kamu nggak ada mau sesuatu?. Makanan misalnya." ujar Putri lagi.


"Nggak pak." jawab Putri.


"Oh ya udah, kamu baik-baik aja kan?" tanya Adnan.


"Iya pak, baik-baik aja. Maaf saya hari ini nggak masuk. Soalnya saya menemui pengacara sekalian periksa kandungan."


"Udah semua?" tanya Adnan lagi.


"Udah pak."


"Kamu dan dia sehat kan?"


"Iya pak, sehat. Nggak ada masalah." jawab Putri.


"Ok, makasih ya Put udah care sama dia."


"Iya pak, sama-sama."


Tiba-tiba sebuah telpon masuk ke handphone Putri. Dan itu ternyata dari ibu Aaron.


"Iya mi."

__ADS_1


Putri mengangkat telpon tersebut, dan seketika ia pun terdiam sekaligus syok. Dalam waktu singkat Putri sudah menyetop taxi dan mengarah ke sebuah rumah sakit.


Buruh beberapa menit hingga ia bisa sampai ke muka ibu Aaron, yang tengah duduk di ruang tunggu.


"Mi."


Putri berlarian ke arah wanita itu, ia bahkan lupa jika saat ini dirinya tengah hamil.


"Putri."


"Mi, Aaron gimana mi?. Kenapa baru kasih tau Putri sekarang."


Putri berkata dengan nada panik, dan hampir menangis. Namun sesat kemudian ia pun tersadar, jika ditempat itu bukan hanya ada dirinya dan ibu Aaron saja. Melainkan ada keluarga Aaron yang lainnya termasuk Aline.


"Putri kamu tenang ya, Aaron baik-baik aja sekarang." ujar ibu Aaron pada Putri.


"Nggak usah bohong, mi. Aaron begitu gara-gara dia." ujar Aline.


"Aline."


Sang ayah mengingatkan anak perempuannya itu.


"Lah emang salah Putri koq. Kenapa juga dia dari awal nggak bilang, kalau nggak mau menggugurkan kandungannya. Aaron cerita sama Aline semalam. Dia kecewa sama sikap Putri, makanya dia begitu."


"Iya tapi kan itu bukan urusan kamu, itu urusan Putri sama Aaron." ujar ayahnya lagi.


"Papi nggak takut kalau kita semua kehilangan Aaron?. Aaron melukai dirinya sendiri loh pi, malam itu."


"Aline, stop!" sang ibu kini bersuara.


"Mending kamu pergi kemana dulu, jangan buat keributan disini. Ini rumah sakit." lanjutnya lagi.


Aline kemudian beranjak dan berlalu, setelah sebelum itu menatap gusar ke wajah Putri.


"Mi, maafin Putri mi." ujar Putri penuh rasa bersalah. Ia tidak menyangka jika semua ini bisa terjadi.


"Sudah, sana temui Aaron." ujar ibu Aaron lagi.


"Emang Aaron mau ketemu Putri?"


Ibu Aaron menghela nafas, agaknya ia juga ragu akan hal tersebut.


"Kalau cuma di diamkan, masalah nggak akan selesai Putri." ujar wanita itu.


Putri menatap ibu Aaron, lalu menatap keluarga Aaron yang lainnya. Mereka semua seakan memang menyuruh Putri untuk segera menemui Aaron.


Putri pun akhirnya menyetujui. Ia di arahkan ke tempat dimana Aaron di rawat.


"Kreeek."


Putri membuka pintu ruang rawat tersebut, tampak Aaron tengah tertidur lelap disana. Dengan tangan di infus dan kulit yang terlihat Pucat.

__ADS_1


Nafas Putri sesak rasanya, ia tak tega melihat Aaron seperti itu. Biar bagaimanapun juga, Putri mencintai laki-laki tersebut. Aaron lah yang selama ini bersamanya, dan hubungan mereka telah lama berlangsung.


Putri mendekat, lalu duduk di sisi tempat tidur Aaron. Kini ia mencoba menggenggam tangan pria itu dengan erat.


***


Aaron merasakan sesuatu yang hangat mendekap jari jemarinya. Tak lama ia pun bergerak dan membuka mata. Aaron terkejut mendapati Putri yang tengah berada disisi tempat tidur.


Secara refleks ia pun menarik tangannya yang di pegang oleh Putri. Hingga membuat Putri tersentak dan matanya menjadi berkaca-kaca menahan tangis.


"Ngapain kamu kesini?"


Aaron bertanya pada Putri sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Penuh kemarahan yang tertahan dalam nada ucapannya.


"Aku minta maaf." ujar Putri kemudian.


"Untuk apa?. Maaf pun percuma kalau kamu lebih memilih hal lain ketimbang aku." ujar Aaron lagi.


"Setidaknya, aku nggak punya niat untuk meninggalkan kamu. Kamu yang nggak mau lagi sama aku."


"Kenapa kamu memilih anak itu?"


"Aku nggak memilih, hanya berusaha mempertahankan keduanya. Antara kamu dan anak ini. Kamu sendiri yang memilih mundur dan menjauhi aku."


Putri menatap Aaron dalam-dalam, sedang yang ditatap masih membuang pandangan ke arah lain. Namun dari sudut matanya, Aaron dapat melihat Putri yang terus memperhatikan dirinya.


"Aku pulang kesini demi kamu. Dan ini balasan kamu ke aku." ujar Aaron.


"Sekian tahun, Aaron. Sekian tahun kita berhubungan, kamu masih aja egois."


"Terus kamu pikir dengan mempertahankan anak itu. Itu bukan sesuatu hal yang egois. Kamu mengorbankan kebahagiaan kita, Putri."


"Kebahagiaan mana yang aku korbankan?"


"Aku mau punya anak dari kamu tanpa terbagi dengan benih dari laki-laki lain."


"Itu egois namanya." Putri kembali mencecar Aaron.


"Kamu hanya memikirkan diri kamu, memikirkan kepuasan batin kamu untuk memiliki aku secara utuh. Tapi kamu nggak peduli dengan gejolak yang ada di dalam diri aku. Kamu tau rasanya hamil dipaksa, lalu tiba-tiba kamu memiliki rasa sayang terhadap anak yang kamu kandung?. Kamu tau rasanya gimana. Rasa mau pecah kepala aku, dadaku sesak setiap hari."


Putri berujar dengan berapi-api.


"Aku bisa aja berkorban untuk kamu sekarang. Aku gugurkan anak ini. Dan setelah itu kamu senang, kamu puas, kamu memiliki aku seutuhnya. Lalu apa kamu peduli pada perasan aku yang selanjutnya?. Aku pasti akan dihantui rasa bersalah karena sudah membunuh darah dagingnya sendiri. Apa kamu pernah berpikir ke arah situ, Aaron?"


Aaron makin terdiam, gemetar tubuh Putri terlihat.


"Sekarang kamu kayak gini, kamu pikir aku nggak sedih, nggak melayangkan diri sendiri. Kamu nambahin beban aku tau nggak?"


Air mata Putri kini mengalir. Aaron mulai menyadari betapa egois dirinya terhadap Putri.


"Aku nggak pernah punya sandaran yang kokoh, saat masalah ini muncul di hidup aku. Cuma Shanin dan Tari yang mau mendengar keluh kesah aku selama ini. Andai yang aku kandung ini bukan sesuatu yang bernyawa. Aku mungkin udah buang ini semua sejak dari awal kasus ini tejadi."

__ADS_1


Putri kian terisak dalam tangis, sedang kini Aaron mulai menoleh menatap perempuan itu.


__ADS_2