
"Putri."
Setelah sekian lama berusaha, namun terus terhalang keadaan. Akhirnya ibu Adnan kembali berhasil menemui Putri. Saat itu Putri hendak melangkah ke arah pintu lobi kantor.
"Ibu?"
Putri kaget dengan kedatangan wanita itu. Dan seperti hari-hari sebelumnya, ia selalu membawa makanan untuk Putri.
"Ibu tuh susah banget ya mau menemui kamu. Adnan bilang lagi-lagi kamu ditugaskan keluar kota." ujar ibu Adnan pada Putri.
Pada saat yang bersamaan, salah seorang dari biang gosip kantor melihat kejadian itu. Ia mendadak ingat, jika ia pernah melihat perempuan yang kini tengah bersama dengan Putri.
"Tapi dimana?"
Ia berpikir keras, namun detik berikutnya ia pun menemukan jawaban. Ya, ia pernah melihat wanita itu berbicara dengan Adnan beberapa hari lalu di tempat yang sama. Bahkan Adnan mengantar wanita itu dan membukakan pintu mobil untuknya.
Maka si biang gosip yang tadinya hendak masuk ke kantor itu pun, menghentikan niatnya untuk sejenak. Ia kini bersembunyi di balik tembok dan terus memperhatikan ke arah Putri dan juga si wanita.
"Iya bu, pak Adnan nyuruh saya tugas kesana-kemari." Putri berdusta.
Padahal perempuan itu tau mungkin Adnan telah menghalangi ibunya tersebut untuk bertemu dengan dirinya. Tentu saja demi keamanan dan kenyamanan Putri.
Sebab ibu Adnan selalu mengira jika Putri adalah selingkuhan Adnan, dan dia menyetujui hal tersebut. Mungkin Adnan takut ada orang yang mendengar dan jadi salah paham akibat ulah ibunya.
"Adnan itu, kamu lagi keadaan begini bukannya di tugaskan di kantor saja. Malah disuruh kesana-kesini. Kamu protes dong Putri, ibu akan dukung kamu." ujar Wanita itu lagi.
"I, iya bu. Lagian saya tugasnya deket-deket koq. Luar kotanya nggak jauh-jauh amat."
Putri melanjutkan dustanya. Sementara si biang gosip kantor terus mengamati dari tempat dimana kini ia berada.
"Iya tetap saja kan, namanya juga tugas. Kamu itu sedang mengandung cucu ibu, jangan terlalu capek."
"Hah?"
Si biang gosip mendengar semuanya dan menutup mulut karena kaget. Tak lama Putri berpamitan pada ibu Adnan, dengan alasan jika ia harus segera masuk.
Ibu Adnan pun tak masalah, yang penting pada akhirnya ia bisa menemui Putri dan mengetahui perihal kondisi perempuan itu. Ia kemudian memberikan makanan yang ia bawa, sebelum akhirnya berlalu.
Putri kini melangkah ke arah lobi, sementara si biang gosip terus bersembunyi. Takut kalau dirinya dilihat oleh Putri. Setelah Putri menghilang dibalik pintu otomatis, ia pun langsung keluar dari persembunyian dan turut bergegas masuk.
***
"Gaes, gue ada gosip."
Orang yang tadi menguping pembicaraan antara Putri dan ibu Adnan, mengirim pesan singkat di grup yang berisikan ia dan anggota geng laknat lainnya.
"Gosip apaan?"
"Apaan?"
"Apa Miska?"
"Kasih tau dong, Markonah...!"
Ia menerima notifikasi beruntun di grup tersebut. Tentu saja dari para anggota geng yang haus berbuat dosa di setiap harinya.
__ADS_1
"Ntar aja deh, tunggu istirahat ya. Biar enak gosipnya. Atau pas pulang nanti, siapin cemilan dulu yang banyak."
Si pemilik cerita itu kembali mengirim di grup.
"Ah elah lu, bukannya di spill. Eke penasaran Mak, apose isi gosipnya. Hot kah?"
Salah seorang anggota berujar.
"Duh ini mah more than hot mak, kompor meleduk." balasnya lagi.
"Iya apa dong, penasaran nih."
"Iya apaan?. Jangan buat gue kepikiran."
"Ho'oh, jam istirahat masih lama. Masa gue harus menunggu sampai mati penasaran."
"Pokoknya ya ini tuh gosip tentang Putri." balas si empunya gosip untuk yang kesekian kali.
"Putri?"
"Serius?"
"Kenapa dese?"
"Apose mak?"
Notifikasi beruntun kembali terdengar. Karena masing-masing dari mereka ingin segera mengetahui hal tersebut. Mereka juga kini memperhatikan Putri sesekali. Sedang Putri sendiri sudah mulai mengerjakan pekerjaannya.
"Mak, spill dong masalahnya."
"Si Putri kenapose?" lanjutnya lagi.
"Penasaran dan kepo, say. Yuk di bilang yuk di grup ini. Apa coba gosipnya?" sambung yang lain.
"Si Putri hamidun say."
Gosip tersebut akhirnya pecah. Para anggota grup terkejut dan diam terperangah untuk beberapa saat. Sebagian dari mereka menutup mulut dan melihat ke arah Putri yang masih saja sibuk.
"Serius?"
"Yang bener ah?"
"Tau dari mana lo?"
"Valid?"
"Jangan ngadi-ngadi ya mak!"
Lagi-lagi mereka semua ricuh, si pemilik gosip melirik ke sana sini, takut kalau ada yang memperhatikan dirinya. Namun tak lama ia pun kembali mengetik.
"Eke nggak ngadi-ngadi koq, mak. Emang si Putri hamidun. Eke tadi dengar ada ibu-ibu yang bicara sama Putri di depan. Tuh ibu-ibu bilang gini "Kamu itu sedang mengandung cucu ibu". Berarti kan dese hamidun wak."
"Serius mak?"
"Lo denger itu di depan sini?"
__ADS_1
"Emberan say, eke nggak bohong. Tadi lupa mau merekam, saking udah kagetnya mendengar hal itu."
"Tapi itu tadi ibu cowoknya?. Si Putri hamil anak cowoknya?" tanya salah satu anggota grup lagi.
"Nah kalau itu eke nggak tau, apakah itu ibu cowoknya Putri, atau ibu cowoknya yang lain. Tapi tadi si ibu itu sempat menyinggung soal pak Adnan."
"Hah, serius mak?"
"Beneran?"
"Gimana-gimana?"
"Lu pada dari tadi nanya ke gue serius-serius mulu. Ya iyalah gue serius."
Si pemilik gosip nampaknya mulai gregetan, dengan pertanyaan yang selalu di ulang-ulang tersebut.
"Iya mak, kita tuh kaget loh. Koq bisa si Putri hamidun, anak sapose?"
"Nah ini gue nggak tau, anak siapa yang dia kandung. Burung siapa yang udah bersarang terus ngasih air kenikmatan sama si Putri. Wkwkwk."
"Tadi gimana waktu lo denger soal pak Adnan yang di sebut sama si perempuan itu?" Lagi-lagi salah satu anggota grup bertanya.
"Dia cuma menyinggung, kenapa pak Adnan selalu menugaskan Putri ke luar kota, padahal dia lagi begitu."
"Berarti pak Adnan tau dong, kalau Putri hamidun?" Salah satu anggota grup menyadarkan si pemilik gosip.
"Ih, iya juga ya. Koq gue nggak kepikiran?" ujarnya kemudian.
"Wah jangan-jangan nih." ujar si pemilik gosip itu lagi.
Tak lama Adnan melintas. Mereka semua langsung meletakkan handphone masing-masing dan pura-pura bekerja. Setelah Adnan berlalu, mereka kembali bergosip ria.
"Gue tau gimana caranya, supaya kita bisa memastikan si Putri itu beneran hamil atau nggak."
Anggota grup kembali berujar. Kali ini si pemilik gosip yang bertanya, diikuti pertanyaan anggota grup lainnya.
"Gimana?"
"Gimana?"
"Mau melakukan apa lo?"
"Wah, rencana busuk nih. Wkwkwk."
"Tunggu dulu. Kepo kan kalian?"
"Iyalah."
"Spill dong, ah elah."
"Jangan lupa libatkan kita-kita ya."
"Iye, berisik ah lo pada. Wkwkwk."
"Apaan, buruan Markonah!"
__ADS_1
Lalu si anggota grup tersebut menyebutkan sebuah rencana. Mereka kini tak lagi menatap ke layar handphone, melainkan saling menatap satu sama lain sambil tersenyum jahat.