Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Rasa Yang Berbeda


__ADS_3

Ciuman itu makin panas, kedua tangan dokter Matt dan Anita saling menjelajah kesana kemari. Mereka sudah berada di bibir jurang. Sedikit lagi terjatuh dan tenggelam dalam sebuah perselingkuhan.


Namun tiba-tiba mata keduanya bertemu dan mereka berhenti. Mereka lalu terdiam, dan kini sama-sama membuang pandangan ke bawah.


"Maafkan saya dok, saya nggak bisa. Karena saya masih istri orang." ujar Anita.


Dokter Matt mengangguk lalu membenarkan kembali dress Anita yang sudah setengah acak-acakan. Kemudian ditariknya perempuan itu ke dalam dekapan.


Lalu hening, tak ada sepatah kata pun yang terucap. Mereka hanya membiarkan diam yang merajai keadaan.


"Kita tidur aja." ujar dokter Matt pada Anita.


Perempuan itu mengangguk, lalu keduanya kini berbaring dan saling berpegangan tangan.


***


Pagi hari, Adnan pamit pulang pada Putri, karena harus buru-buru berangkat ke kantor. Seperti biasa ketika menginap, ia selalu tak pernah membawa baju.


Maka Adnan harus kembali terlebih dahulu ke apartemen, baru kemudian pergi bekerja. Setibanya di apartemen ia buru-buru memarkir kendaraan dan menuju ke unit.


"Braaak."


Pintu unit terbuka. Adnan melihat ada banyak kelopak bunga mawar di lantai dan di sepanjang jalan menuju ke kamar. Adnan melangkah mengikuti arah bunga itu.


Dan ketika ia membuka kamar, ia mendapati lilin yang sudah padam dan habis dimakan waktu. Mawar itu bertaburan sampai ke atas tempat tidur.


"Degh."


Batin Adnan bergemuruh, ternyata semalam Anita menyiapkan semua ini. Mata Adnan mulai mencari dimana letak keberadaan istrinya tersebut. Ia keluar dari kamar dan mengamati sekitar. Ia menemukan pintu ke arah balkon yang tak tertutup.


Di balkon tersebut, tepatnya pada sebuah meja. Ada lilin yang juga telah padam, lengkap dengan makanan yang telah dingin dan sedikit berdebu.


Batin Adnan kembali seperti di pukul. Semalam suntuk ia bercinta dengan Putri. Merajut kesenangan dan merasakan kenikmatan bersama-bersama. Tanpa ia sadari jika Anita menunggu dirinya.


Tubuh Adnan gemetar dan ia dilanda rasa bersalah yang begitu besar. Kemudian pria itu mencari ke berbagai ruangan, tetapi Anita tidak ada. Adnan mencoba menelpon istrinya itu, namun handphonenya ternyata tertinggal di meja samping tempat tidur.


Adnan mengecek histori di telpon dan WhatsApp. Disana tertera sebuah nama yang sama, yakni dokter Matt.


Dada Adnan terasa sesak dan kepalanya mendidih. Jantung pria itu seakan berpacu dengan sangat cepat.

__ADS_1


Buru-buru ia mengambil kembali kunci mobil dan pergi ke bawah. Ia masuk kemudian tancap gas dengan secepat kilat. Ia menyusuri jalan demi jalan hingga sampailah ke rumah sakit tempat dimana dokter Matt berkerja.


Namun menurut keterangan bagian informasi, hari itu adalah jadwal libur dokter Matt. Ia baru akan ada jam praktek lagi besok.


Adnan telah menghubungi dokter Matt sejak tadi ia masih di apartemen. Panggilan tersebut memang masuk ke handphone dokter Matt. Namun karena itu adalah panggilan dari nomor yang tak dikenal, maka dokter Matt abai saja melihatnya.


Dan tak lama setelah itu handphonenya mati. Belum sempat mengisi ulang daya, dokter Matt yang masih mengantuk kembali tidur disisi Anita.


"Saya boleh tau alamat dokter Matthew?"


Adnan kembali bertanya pada bagian informasi.


"Mohon maaf, kami tidak bisa memberikan alamat rumah dokter kami tanpa persetujuan dari yang bersangkutan."


"Tapi saya benar-benar butuh bertemu dengan dia. Ada hal yang saja mesti tanyakan dan ini mendesak." ujar Adnan lagi.


"Apa bapak sudah coba menghubungi beliau?"


"Sudah, tapi tidak diangkat ataupun di balas. Sekarang malah tidak bisa dihubungi sama sekali." jawab Adnan.


Petugas bagian informasi itu kemudian berbicara pada teman di sebelahnya. Lalu pergi ke belakang untuk beberapa saat. Tak lama ia pun kembali pada Adnan.


"Oke."


Adnan memberikan nomor handphone pada petugas tersebut, tak lama kemudian ia pun pamit. Adnan kini tak tau harus mencari Anita kemana lagi. Ia juga tak mempunyai banyak nomor telpon dari teman istrinya itu.


***


Lewat jam 10:00 pagi.


Dokter Matt benar-benar terbangun dari tidurnya dan telah sadar secara penuh. Ia mendapati Anita berada disisinya. Ia memperhatikan tiap lekuk tubuh wanita itu dan baru menyadari jika Anita begitu cantik.


Tubuhnya nyaris sempurna. Langsing, namun padat di bagian dada dan juga pinggul. Dalam keadaan tidur seperti itu saja ia sangat cantik.


"Dok?"


Tiba-tiba Anita terbangun dan langsung menatap dokter Matt. Pria tampan itu sedikit terkejut dan membuang pandangan. Anita bangun dan melirik jam yang ada di handphone.


"Hah, udah jam segini?" ujarnya kaget.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya dokter Matt kemudian.


"Dok, saya harus kerja." ujar Anita cemas.


Dokter Matt baru teringat jika mereka tak bekerja di satu instansi. Dirinya libur tapi belum tentu dengan wanita itu. Maka tak lama mereka pun bergegas. Anita yang baru bangun tidur tak lagi mencuci muka karena terburu-buru.


Dokter Matt kemudian mengantar wanita itu menuju apartemen. Sementara di jalan lain Adnan tampak melihat kesana kemari. Ia mencari di tempat yang random dan berharap bisa menemukan keberadaan Anita.


"Mas, mas koq belum sampe di kantor?"


Putri mengirim pesan singkat pada suaminya tersebut, sebab telah ada klien yang menunggu kehadiran Adnan. Namun saat ini Adnan tengah fokus pada Anita dan ingin menemukannya terlebih dahulu. Adnan mengabaikan dan tak membaca pesan dari Putri.


"Dok, makasih banyak atas waktunya dan..."


Anita menghentikan ucapan lalu menarik nafas. cukup panjang.


"Maaf soal semalam." ujarnya lagi.


"Saya juga minta maaf." ujar dokter Matt seraya menatap Anita.


Pria itu kemudian menyentuh dan menggenggam tangan Anita. Awalnya Anita diam, namun ia memberikan respon dengan balas menggenggam tangan dokter Matt.


Entah apa namanya mereka kini. Apakah ini sudah bisa dikatakan cinta atau tidak, mereka sama sekali tidak tau. Yang jelas semalam mereka tak jadi melakukan hubungan terlarang tersebut. Namun pagi ini mereka bangun, dengan perasaan yang seperti mulai terhubung satu sama lain.


"Saya pulang." ujar Anita lagi.


Dokter Matt mengangguk lalu melepaskan genggaman tangannya. Tak lama Anita pun membuka pintu mobil dan keluar. Kemudian wanita itu berjalan ke arah lobi.


Pada saat yang bersamaan Adnan tiba. Ia melihat Anita dan melihat pula mobil dokter Matt yang perlahan melaju. Penuh kemarahan Adnan kembali menekan pedal gas mobilnya dan menyusul dokter tersebut.


Di unit, Anita membuka pintu. Namun ia menemukan tas kerja Adnan yang tergeletak di atas sofa.


"Degh."


Batin Anita bergejolak, itu artinya Adnan pulang. Ia sudah mengira jika Adnan akan berangkat ke kantor dari kediaman Putri. Setidaknya ia bisa membereskan semua ini dan Adnan tak harus melihatnya.


Tapi ternyata Adnan pulang. Anita ingat jika ia meninggalkan handphonenya di kamar. Wanita itu bergegas menuju kesana untuk menghubungi sang suami. Namun handphone tersebut juga sudah tidak ada.


"Degh."

__ADS_1


Tiba-tiba Anita terpikir akan histori chat dan panggilan di handphonenya. Sebab Adnan mengetahui password yang digunakan Istrinya tersebut.


__ADS_2