Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Kunjungan Yang Berlanjut


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu. Adnan pun masih terus mengawasi Putri, setiap ada kesempatan. Entah mengapa Putri jadi makin senang, bahkan ia berharap jika Adnan bisa lebih lama bersamanya.


"Hati-hati berlanjut, Put. Inget suami orang." ujar Shanin.


Ia mencoba mengingatkan Putri agar tak larut terlalu dalam. Sebab Adnan itu adalah suami orang, Putri sendiri sudah memiliki Aaron.


"Iya, nggak koq. Lagian juga gue sadar kalau kegembiraan yang ada di dalam diri gue sekarang itu, murni karena anak ini. Coba kalau anak ini nggak ada di perut gue. Gue rasa gue bakalan biasa aja liat pak Adnan. Sejak kapan gue suka sama suami orang." lanjutnya lagi.


"Iya, intinya kita sebagai teman hanya jadi alarm buat lo. Supaya lo nggak kebablasan." ujar Tari.


"Iya tenang aja." jawab Putri lagi.


"Selamat siang."


Seseorang masuk ke ruangan Putri, ternyata itu adalah dokter Matt. Seperti di ketahui bahwa dokter Matt memang bekerja di dua rumah sakit berbeda. Salah satunya adalah di tempat dimana Putri kini di rawat. Namun ia mengetahui kondisi Putri, dari Putri sendiri.


Tadi dokter Matt sempat mempertanyakan keadaan perempuan itu via chat. Ia juga bertanya mengapa Putri tak mengikuti jadwal periksa kandungan yang sudah ia tetapkan. Putri menjawab jika ia saat ini tengah dirawat, dan dokter Matt kini hadir menjenguknya.


"Dokter koq bela-belain ke sini sih?. Saya jadi nggak enak loh." ujar Putri.


"Kan saya kerja disini juga mbak Putri." ujar dokter Matt sambil tersenyum.


Shanin memberikan kursi pada dokter Matt. Pria tampan itu kemudian duduk disana sambil memperhatikan Putri.


"Mbak Putri gimana keadaannya?" tanya dokter Matt.


Sementara Shanin dan Tari senyum-senyum memperhatikan dokter tampan tersebut.


"Baik, dok." jawab Putri.


"Kenapa bisa sampai di rawat begini?"


Dokter Matt kembali bertanya.


"Dokter bilang apa soal mbak Putri?" lanjutnya lagi.


"Saya katanya anemia, stress dan kelelahan, dok. Mungkin karena faktor saya kebanyakan berfikir dan kurang asupan nutrisi."


"Lain kali lebih di perhatikan ya. Kan sekarang mbak Putri lagi hamil."


"Iya dok, saya mungkin akan turutin saran dokter. Selama anak ini masih ada di dalam perut saya."


Dokter Matt mengangguk lalu tersenyum pada wanita itu.


***

__ADS_1


"Dokter Matt senyum doang, bikin dunia jungkir balik anjir."


Shanin berujar pada Tari ketika mereka sudah berada di jalan pulang. Putri tadi terlelap saat mereka tinggalkan di ruang rawat.


"Iya, gemes gue." ujar Tari sambil senyum-senyum.


"Udah ganteng, baik, dokter kandungan lagi. Nggak kebayang kalau nikah sama dia, melahirkan dibantu suami sendiri. Pasti romantis dan emosional gimana gitu."


Shanin mulai berkhayal.


"Ih, iya ya?" Tari ikut membayangkan.


"Terus dia yang mandiin anak, momong juga. Gemes banget nggak sih?" timpal Tari.


"Iya, ih. Jadi ngebayangin banget gue." ujar Shanin.


"Tiiiiin."


Terdengar klakson kencang dari arah belakang. Karena saking sibuknya berkhayal, Shanin tak lagi fokus ke jalan. Hingga menyebabkan mobilnya hampir mengambil line orang lain.


"Ye, biasa aja dong pak. Emosi banget."


Shanin menggerutu pada mobil yang mengklakson dirinya tadi.


"Goblok." teriaknya lagi.


"Tau tuh orang, lagi enak-enak juga mengkhayal jadi istrinya dokter Matt." Shanin menimpali.


***


Sementara di rumah, Adnan sejatinya sudah tiba sejak dua jam yang lalu. Namun ia masih kepikiran pada Putri. Padahal tadi ia sempat mampir dan merawat perempuan itu untuk sejenak.


Ia merasa begitu salah pada Anita, sebab entah mengapa akhir-akhir ini ia begitu bahagia bisa berada di dekat Putri.


Ia tidak tahu perasaan apa ini. Yang jelas pikirannya tertuju pada jabang bayi, yang kini hidup di rahim perempuan itu.


"Mas, besok aku rencana mau jalan sama Ulfa, sama Rinda."


Anita menyebut dua nama teman SMA mereka dulu. Adnan masih mengingat kedua orang itu dengan jelas.


"Emangnya mereka tinggal disini ya?" tanya Adnan.


"Iya mas, besok mau ngajak ketemuan. Boleh ya?"


Adnan tersenyum, lalu menarik wanita itu ke dalam pangkuannya.

__ADS_1


"Boleh tapi hati-hati, dan jangan pulang terlalu malam. Ok?"


Anita mengangguk dan tersenyum pada Adnan. Adnan lalu mencium kening istrinya itu dengan lembut, namu pikirannya masih tertuju pada Putri.


***


"Tris, apa gue jahat?"


Adnan kembali curhat pada Tristan, tepat keesokan harinya setelah pria itu pulang kerja. Ia benar-benar merasa bersalah pada Anita, atas pikirannya yang selalu tertuju pada Putri.


"Gue rasa lo itu cuma kepikiran sama anak lo yang ada di kandungannya Putri. Bukan karena lo punya rasa cinta sama Putri. Jadi lo nggak usah ngerasa bersalah sama Anita. Lo cuma lagi mikirin anak lo aja." jawab Tristan.


"Iya sih, bisa jadi. Tapi gue jadi terus mikir ke arah sana, gue jadi ngerasa mengabaikan Anita akhir-akhir ini. Gue cinta sama Anita, Tris. Gue udah janji di depan mendiang orang tuanya, kalau gue akan jaga dia sampai mati."


Tristan menganggukkan kepalanya sambil memegang bahu Adnan.


"Gue ngerti, lo adalah orang yang selalu menepati janji. Gue pastikan perasaan lo terhadap Putri itu bukan cinta, lo cuma murni mikirin bayi itu aja. Jadi lo seolah inget sama Putri, karena anak itu ada dalam kandungannya dia."


Kali ini Adnan yang menghela nafas. Ia mencoba memahami diri sendiri atas apa yang telah terjadi.


"Lo makan ya, lo pasti belum makan dari tadi. Muka lo sampe pucat gitu." ujar Tristan.


Tristan adalah sahabat Adnan sejak kecil, ia paling tahu jika Adnan mengalami hal sekecil apapun.


"Tapi lo juga temenin gue makan." ujar Adnan.


"Iya, gue temenin. Gue makan lagi demi buat lo."


Tristan mengambil handphone lalu mengorder makanan untuk mereka berdua. Di lain pihak, Anita yang sudah pulang kerja menemui Ulfa dan juga Rinda.


Secara blak-blakan Anita membeberkan kondisi rumah tangganya kini bersama Adnan. Karena sejak jaman SMA kedua orang itulah tempat Anita curhat.


Belakangan ia tak memiliki hal tersebut lagi. Beruntung kedua sahabatnya itu kembali ia ketemukan lewat sosial media. Dan kini mereka mendengarkan semua kisah Anita.


"Gue nggak nyangka, Nit. Gue pikir lo udah bahagia dan punya anak tiga sama Adnan." ujar Ulfa dengan nada yang penuh simpati pada Anita.


"Yang sabar ya, Nit. Gue juga lama koq kemarin punya anak. Ada kali 7 tahun." Rinda menimpali.


"Oh ya?"


"Iya, anak gue masih kecil sekarang. Sampe udah putus asa banget gue, pengen nyerah aja waktu itu." Rinda kembali berujar.


"Rinda sampe nyuruh suaminya nikah lagi, Nit. Tapi suaminya bersikeras nggak mau. Katanya nggak apa-apa nggak punya anak, asal dia sama Rinda sampai mati. Eh taunya dikasih." timpal Ulfa.


"Laki gue juga gitu, sebenarnya. Tapi akhirnya ada cewek lain yang hamil."

__ADS_1


"Maksud lo, Adnan selingkuh?" tanya Rinda Kaget. Ulfa pun tak kalah terkejut.


Anita lalu menceritakan kronologi kejadian antara Adnan dan Putri secara lengkap, dan kedua sahabat lamanya itu pun mendadak tercengang. Karena ini merupakan sebuah berita yang mengejutkan bagi mereka.


__ADS_2