
Anita masih terpikir akan ucapan suaminya, perihal ia yang melakukan hubungan suami-istri bersama Putri. Namun perempuan itu berusaha keras membesarkan hati, dengan mengingat segala kekurangan yang ia miliki.
Ia sedih, namun berusaha untuk tidak marah atupun dendam terhadap keadaan. Ia memiliki rencana malam ini, yakni ingin memasak sesuatu untuk Adnan.
Baginya yang terpenting saat ini adalah, bagaimana cara memperbaiki diri dan menjadi istri yang lebih baik lagi untuk Adnan.
Sebab Anita mencintai pria itu lebih dari apapun. Adnan telah mendampinginya selama dua belas tahun tanpa cela. Anita hanya ingin menjadi istri yang mengurus suaminya dengan sepenuh hati, tanpa memikirkan masalah yang tengah mereka hadapi.
Maka sore itu sepulang kerja, Anita pergi ke sebuah supermarket. Ia berniat membeli beberapa bahan makanan, yang pastinya di sukai oleh Adnan. Kebetulan hari itu kantornya pulang lebih cepat dari biasanya.
Sementara di kantor Adnan, tiba-tiba saja pria itu menerima telpon dari ibunya. Ketika ia belum lagi selesai bekerja.
"Iya bu, kenapa?" jawab Adnan pada sang ibu.
"Kamu itu mbok ya salam dulu dan basa-basi tanyain ibu. Perasaan kalau ibu nelpon, selalu saja diburu-buru." ujar ibunya panjang lebar.
Adnan menghela nafas, ia ingin kesal tapi itu adalah ibunya sendiri.
"Iya bu, ibu apa kabar. Ada perlu apa nelpon Adnan sore-sore kayak gini?"
Ia bertanya dengan nada yang sangat lembut, namun menahan keras kedongkolan yang sangat besar.
"Ajak istrimu kesini, ibu mengundang dia makan malam."
"Anita?" tanya Adnan.
"Ya nggak mungkin dong ibu mengundang dia. Istri barumu lah, si Putri. Dia kan belum mengenal betul keluarga kita. Kalau Anita kan sudah lama menjadi menantu di rumah ini."
Adnan diam, sejatinya ia enggan berkutat dengan urusan yang seperti ini.
"Adnan sibuk, bu." ujarnya kemudian.
"Kamu itu, kalau kerjaan selalu dijadikan alasan nggak akan pernah beres. Kerjaan itu akan selalu ada dan ada lagi."
"Tapi bu."
"Ibu sudah masak banyak, bawa si Putri ke rumah. Mas-mas dan mbak-mbak mu yang nggak sempat hadir kemarin, ingin melihat Putri."
Adnan benar-benar sudah tidak nyaman dengan percakapan ini. Bahkan belum pernah sekalipun di sepanjang pernikahan, ibunya bersikap manis kepada Anita.
"Ibu tunggu ya, jam tujuh sudah standby."
Ibunya menyudahi telpon tersebut, sementara Adnan terdiam dengan banyak kata yang gagal di ucapkan.
"Hhhhh."
Adnan menghela nafas. Ia tidak tahu kapan rasa sakit di kepalanya akan berakhir. Belakangan selalu saja ada beban dan masalah yang bersarang di benak dan batin pria itu.
"Hallo, Put." Adnan menelpon Putri.
"Iya pak, eh mas. Kenapa?" tanya Putri kemudian.
Adnan diam sejenak dan kembali menarik nafas, lalu ia pun berujar.
"Ntar malem ikut aku ke rumah ibu ya." tukasnya.
"Ke rumah ibunya mas?" tanya Putri.
__ADS_1
"Iya."
"Oh, ada apa ya mas?" tanya Putri lagi.
"Ibu, katanya mau ngajak makan malam. Sekalian mau ngenalin kamu ke kakak-kakak aku." jawab Adnan.
"Mmm, sama mbak Anita juga?"
Lagi-lagi dan lagi Adnan menghela nafas.
"Nggak." jawabnya kemudian.
"Ibu maunya ketemu kamu." lanjut pria itu.
"Mmm, tapi mbak Anita apa nggak apa-apa nggak di ajak?" tanya Putri.
Adnan kembali diam, ia sejatinya belum tau mengenai perasaan istrinya tersebut. Sebab ia belum ada memberi kabar sama sekali.
"Dia..."
"Dia nggak akan kenapa-kenapa." ujar Adnan berdusta. Semata agar Putri tak menambahi pertanyaan. Sebab ia bingung memikirkan jawaban.
"Ok deh kalau gitu."
Putri menjawab dengan agak ragu. Namun itulah satu-satunya jawaban, yang mungkin diinginkan Adnan saat ini.
"Ya udah nanti aku jemput ya, sebelum jam 7 malam." ujar Adnan.
"Iya mas." jawab Putri.
"Aku kerja dulu."
Adnan lalu menyudahi panggilan tersebut. Ia dan Putri kini sama-sama berada dalam kebimbangan.
***
Di supermarket.
Anita tengah memilah-milah bahan, sambil berfikir masakan apa yang akan ia buat. Sebab Adnan memiliki cukup banyak kesukaan terhadap makanan.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Handphone Anita bergetar, segera saja perempuan itu mengambil perangkat tersebut dari dalam tasnya. Ternyata Adnan yang menelpon.
"Hallo mas." ujarnya sambil coba tersenyum.
"An, ibu nyuruh aku ke rumahnya malam ini. Mau ngajak makan katanya." ujar Adnan.
"Sama Putri?" Anita menebak, Adnan diam sejenak.
"Iya." jawabnya kemudian.
"Hhhhh."
__ADS_1
Anita menghela nafas panjang. Semangat yang ada di hatinya untuk melayani Adnan malam ini, mendadak padam begitu saja. Bahan makanan yang kini berada di dalam troli yang ia dorong, terlihat seolah sia-sia.
"Maafin aku ya." ujar Adnan dengan perasaan yang campur aduk.
"Nggak apa-apa mas, santai aja."
Anita berusaha tersenyum, namun Adnan tau hati istrinya itu sedang terluka. Sebab belum pernah sekalipun ibu Adnan mengajak Anita untuk makan malam dengan ramah.
Kalaupun ada undangan untuknya, sudah pasti itu bertujuan untuk membully atau menyudutkan.
"Nanti aku pulang, dan tidur dirumah." ujar Adnan lagi.
"Iya mas." jawab Anita kemudian.
"Kamu nggak apa-apa kan?"
Adnan memastikan, sebab ia sangat takut terjadi sesuatu pada perasaan istrinya itu. Namun ia juga tak ingin berbohong.
Seperti apa yang telah ia ungkapkan pada Tristan, ia ingin jujur apa adanya pada Anita tentang segala hal. Ia tak ingin menambahi beban Anita dengan membuat banyak kebohongan.
"Aku nggak apa-apa mas, kamu santai aja. Jangan mikir ini-itu." ujar Anita pada suaminya tersebut.
Kini suaranya seperti orang yang biasa saja. Meski Adnan tau jika ia sedang berakting.
"Ya udah, aku lanjut kerja dulu ya." ujar Adnan.
"Mas belum kelar kerjanya?" tanya Anita.
"Belum, kamu?"
"Aku udah pulang sih, tapi lagi di supermarket. Beli peralatan mandi yang habis." dusta Anita.
"Ok, habis itu pulang ya." ujar Adnan.
"Iya mas."
"Bye sayang."
Anita diam, betapa berat kali ini untuk bersikap mesra pada suaminya itu.
"Iya mas."
Ia menjawab tanpa kata sayang, sebab lidahnya sedang tak bisa mengatakan hal tersebut. Adnan lalu mematikan telpon.
"Hhhhh."
Anita menatap lesu ke dalam troli. Sesaat kemudian ia mengembalikan apa yang sudah ia ambil, ke tempat semula. Percuma juga jika ia ngotot membeli. Toh Adnan tak akan makan di rumah malam ini.
Anita mengembalikan troli dan tak jadi berbelanja. Beberapa saat kemudian ia sudah tampak menyusuri jalan demi jalan dengan mobilnya.
Anita kemudian mampir ke sebuah kafe dan mencoba menenangkan diri disana. Ia memesan es kopi latte dengan ukuran large. Lalu ia duduk diam termenung di sebuah kursi dan meja, tanpa tau harus berbuat apa-apa.
***
Follow my Instagram @p_devyara
And my YouTube Channel @Devyara.
__ADS_1
Thank you.