
"Mbak, mbak Anita nginep aja. Barangkali mas Adnan butuh mbak ada di dekat dia."
Putri berbicara pada Anita, ketika suhu tubuh Adnan sudah turun. Ia dan istri pertama suaminya itu kini duduk berhadapan di meja makan. Sambil menikmati segelas teh hangat dan juga kudapan ringan.
"Kamu nggak apa-apa kalau mbak disini?" tanya Anita pada Putri.
"Nggak apa-apa mbak, mbak kan istrinya mas Adnan juga." jawab Putri.
Anita diam dan meminum teh hangat yang ada di hadapannya. Tatapan wanita itu masih tertuju ke arah meja.
"Maafin saya ya mbak, saya nggak bermaksud menyembunyikan kondisi mas Adnan. Sebab saya pikir dia cuma demam biasa."
Putri sedikit berdusta, padahal semalam ia memang egois ingin mengurus Adnan sendirian. Anita sendiri masih diam, dengan tenang wanita itu kembali meminum teh nya.
"Yang penting sekarang saya udah tahu. Mas Adnan itu kalau sakit, dia butuh ditemani oleh saya." ujarnya sambil menatap Putri. Sementara Putri kini makin merasa tak enak hati.
"Ya sudah, mbak nginep aja disini. Saya nggak apa-apa koq mbak. Mbak Anita nggak usah sungkan."
Anita menarik nafas.
"Terima kasih kalau kamu mengizinkan." ujar Anita.
Maka malam itu Putri membiarkan suaminya tidur dengan sang istri pertama. Melalui pintu kamar yang terbuka sedikit, tampak Anita tertidur sambil memeluk Adnan.
Hati Putri campur aduk jadinya. Ia cemburu melihat semua itu, sebab dalam dirinya kini tengah mengandung bayi Adnan. Namun Anita adalah istri pertama dan merupakan orang yang dicintai oleh suaminya itu. Putri pun akhirnya tidur di kamar sebelah sendirian.
***
Adnan terbangun di pagi hari dan ia baru sadar secara penuh. Ia kaget melihat Anita berada di sampingnya. Semalam ia rasa sadar tak sadar melihat Anita, akibat demamnya yang tinggi.
"An."
Kebetulan Anita juga baru terbangun.
"Kamu koq bisa ada disini?" tanya Adnan heran sekaligus cemas.
"Putri yang nelpon aku dan nyuruh aku nginep mas." jawab Anita lalu setengah beranjak, begitupula dengan Adnan.
Pria itu kini memikirkan bagaimana perasaan Putri.
"Putri nya mana?" tanya Adnan pada Anita.
"Kayaknya dia tidur di kamar sebelah." jawab wanita itu.
__ADS_1
Tak lama Putri pun tampak menongolkan kepala di pintu.
"Mas, mbak. Aku udah bikin sarapan, kita sarapan dulu." ujarnya kemudian.
Adnan terdiam, ia benar-benar terjebak dalam situasi yang begitu canggung.
"Iya Put, sebentar lagi." jawab Anita.
"Saya tunggu di meja makan."
Putri kembali berujar lalu menutup pintu. Kini Adnan menarik nafas panjang dan berusaha menetralkan perasaan.
"Mas udah baik-baik aja?" tanya Anita. Adnan mengangguk.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah mencuci muka dan pergi ke meja makan. Di sana Putri menyiapkan nasi goreng untuk ia dan Anita, lalu ada bubur dan susu untuk Adnan. Sedang ia dan Anita minum jus jeruk hangat murni.
"Mas, bisa makan sendiri?"
Putri dan Anita bertanya di waktu yang nyaris bersamaan. Adnan tersentak dan memperhatikan kedua istrinya itu, sementara Putri dan Anita kini mendadak menjadi canggung.
"Saya makan sendiri aja." ujar Adnan lalu menyendok makanannya.
Putri dan Anita kini tertunduk ke arah piring dan memakan sarapan mereka dengan tegang.
***
Anita berujar ketika ia dan Adnan sudah berada di jalan pulang. Mobil Adnan ditinggalkan di apartemen Putri, karena Anita khawatir jika suaminya itu menyetir sendirian. Saat ini pun Anita yang mengemudikan mobil.
"Aku liat, Putri kayaknya tertekan dan banyak pikiran. Mungkin bisa jadi akibat pernikahan ini, tekanan di sekitar, ataupun pekerjaan. Kalau dia terus-terusan kayak gitu, kasihan anak kalian mas. Nanti pertumbuhannya terganggu."
Adnan tak menjawab, dan terus membuang pandangannya ke sisi jalan.
"Ajak dia keluar kota selama beberapa hari, setelah kamu sembuh. Mungkin itu bisa mengurangi ketegangan dalam dirinya." ujar Anita lagi.
***
Flashback.
Sebelum mereka pulang Adnan sempat mandi untuk menurunkan suhu di tubuhnya. Di dalam kamar mandi tersebut ia berfikir. Bagaimana caranya memisahkan kedua perempuan ini, sebelum terjadi salah paham dan sakit hati nantinya.
Sebab bila selalu bersama sepanjang waktu, dikhawatirkan akan ada yang terluka atau sakit hati yang diawali kecemburuan. Adnan tau Anita masih mencintainya, dan ia juga tau jika Putri mulai menyerah dan tunduk pada dirinya.
Ia hanya tak ingin kedua wanita itu bertengkar, sebab ia belum pernah menghandle dua istri yang tengah berada di dalam satu emosi. Maka Adnan berpikir dan tercetuslah ide untuk pulang.
__ADS_1
Sebab tak mungkin mengusir Anita, ia takut istrinya itu akan sedih. Tapi tak mungkin juga ia meminta pengertian Putri untuk terus mengizinkan Anita berada disana.
Putri mungkin mengizinkan, tapi tak tau bagaimana dengan kecemburuan yang akan timbul setelahnya.
"Put, kami pulang dulu ya." ujar Adnan kala itu.
Putri hanya mengangguk, meski jujur ia lebih ingin jika Adnan ada dalam jangkauan pandangan matanya. Sebab akan lebih mudah mengawasi kondisi pria itu, ketimbang jika mereka harus berjauhan. Namun sebagai istri kedua, ia juga tau diri dan tak mau memaksa.
"Makasih ya, Put." ujar Anita seraya beranjak.
"Sama-sama mbak." jawab Putri.
Adnan berjalan bersama istri pertamanya menuju pintu. Hati Putri terpukul, sebab tak ada peluk dan cium disana. Ia mengerti pastilah Adnan tak ingin membuat istri pertamanya sakit hati. Namun ini justru membuat Putri yang bersedih.
Putri beralih ke dapur dan mengambil penyedot debu, ia bermaksud untuk bersih-bersih sejenak sebelum berangkat kerja.
"Tok, tok, tok."
Terdengar suara ketukan pintu setelah beberapa saat berlalu. Putri membukanya dan ternyata Adnan.
"Handphone mas, Put."
Adnan berujar seraya masuk, ia menemukan handphone di meja makan. Kemudian ia mendekat dan memeluk serta mencium bibir Putri. Putri pun membalas ciuman itu dengan penuh kerinduan. Sejak semalam mereka tidak bisa berpelukan.
"Maafin aku, Put." ujar Adnan.
Putri mengangguk dan mereka kembali berciuman. Adnan mengusap perut Putri dan berpesan pada anaknya.
"Jaga mama ya sayang, papa pulang dulu."
"Mas cepet sembuh ya." ujar Putri penuh harap.
"Iya sayang."
Adnan mencium bibir Putri sekali lagi dan memeluknya dengan erat. Sementara di dalam mobil Anita terdiam. Ia tau suaminya sengaja meninggalkan handphone, agar punya alasan untuk bisa berpamitan dengan Putri.
Namun itulah resiko yang harus ia hadapi, ketika bertahan dalam sebuah rumah tangga yang jantungnya ada dua. Terkadang memang harus berbagi meski begitu sakit terasa.
"Aku pulang." ujar Adnan pada Putri.
"Mas bisa turun sendiri?"
"Iya nggak apa-apa, banyak orang koq di lift. Kalaupun aku pingsan, udah pasti mereka lapor sekuriti. Anita juga masih nunggu aku di bawah." jawab Adnan.
__ADS_1
"Ya udah, mas hati-hati. Kalau udah di rumah kabarin aku."
Adnan mengangguk, sekali lagi ia mencium bibir Putri seakan enggan berada jauh dari istri keduanya itu. Namun waktu jualah yang akhirnya memisahkan mereka. Adnan menghilang dibalik pintu, dan menemui Anita di pelataran parkir apartemen.