
"Mas pulang yuk, ngantuk aku."
Anita berujar pada Adnan sang suami, ketika acara dinner telah selesai. Mendadak Adnan pun menoleh ke arah tangga, yang menuju ke lantai dua restoran tersebut. Namun tak ada tanda-tanda Putri telah selesai dan turun.
Sejatinya Adnan khawatir melepaskan Putri yang masih lemah tersebut, di luaran seperti ini. Namun apa daya ia pun tak bisa mengatur hidup perempuan itu. Ia bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa bagi Putri.
"Mas."
"Eh, iya. Ayo...!" jawab Adnan kemudian.
Ia pun lalu bersiap, kebetulan makanan sudah dibayar sejak beberapa menit lalu. Anita beranjak, Adnan membantunya untuk berdiri. Lantaran wanita itu mengenakan sebuah long dress.
Mereka berjalan ke arah parkiran, tak lama setelah itu mobil yang dikemudikan Adnan pun tancap gas. Tanpa Adnan ketahui jika Putri melihat dirinya dan Anita dari kaca lantai atas. Kebetulan ia dan ibu Aaron duduk di kursi meja yang mepet ke arah sana.
Putri menyaksikan bagaimana Adnan menggandeng tangan istrinya itu dan memberikan perhatian padanya.
"Kamu sama Adnan itu memang kenal atau bagaimana?"
Tiba-tiba ibu Aaron melontarkan pertanyaan yang membuat Putri terdiam. Ia tak menduga saja jika ibu Aaron akan membahas soal Adnan.
"Mmm, sebelumnya nggak kenal mi. Cuma kita jadi saling berinteraksi setelah kejadian ini. Dia jadi merasa bersalah sendiri atas apa yang menimpa Putri, padahal bukan salah dia juga." jawab Putri.
Ibu Aaron menghela nafas lalu tersenyum.
"Mami suka dengan pribadinya dia. Dia orangnya baik dan sangat sopan." ucap ibu Aaron lagi. Putri coba tersenyum menanggapi perempuan itu.
"Dia itu punya anak?" tanya ibu Aaron lagi.
"Mmm, setahu Putri sih belum mi. Mereka sudah 11 tahunan menikah, sudah mencoba berbagai cara. Dan inseminasi ini harusnya jadi milik mereka. Tapi dokter Fadly malah melakukan sebuah kesalahan."
"Bisa ya nama kamu dan istrinya Adnan mirip seperti itu." ujar ibu Aaron lagi.
"Ya, namanya juga nama pasaran mi. Coba dulu orang tua Putri kasih nama jangan Putri Anita, mungkin ini semua nggak akan terjadi. Apa kek gitu kasih nama, yang susah dikit. Cleopatra kek, Alexandra atau apa gitu."
Ibu Aaron lagi-lagi tersenyum.
"Ya, namanya musibah. Mau diapakan." ujarnya kemudian.
"Iya mi."
__ADS_1
"Tapi kasihan juga Adnan, kalau anak ini di gugurkan."
"Degh."
Batin Putri bergemuruh mendengar semua itu. Seolah ibu Adnan menangkap permasalahan yang kini bertambah diantara dirinya dan juga Adnan.
"Tapi kalau tidak digugurkan, kasihan Aaron juga." ujar perempuan itu lagi. Dan pernyataan tersebut makin membuat hati Putri seperti benang kusut.
"Te, tetap akan di gugurkan koq mi. Kalau nggak di gugurkan, gimana mau menikah sama Aaron nantinya."
Putri terpaksa mengatakan hal tersebut, meski jauh di relung hatinya terasa ada yang mengganjal.
"Kamu yakin, Putri?. Nggak mau kamu pikirkan dulu masak-masak?"
Ibu Aaron kembali membuat Putri bingung. Ia seolah mendukung Putri untuk menggugurkan kandungannya demi Aaron. Namun juga seolah tidak tega bila anak itu dibuang dari rahim Putri.
"Ma, maksud mami?"
Ibu Aaron menghela nafas.
"Sudahlah, nggak usah dipikirkan. Mami cuma ngelantur aja." ujar wanita itu lagi.
Mereka pun lanjut makan dan membicarakan hal lain.
***
Malam itu setelah pulang ke rumah, Putri kembali mimpi erotis soal Adnan. Kali ini terasa seperti begitu nyata. Sampai-sampai ketika bangun, Putri merasakan seluruh area sensitif di tubuhnya berdenyut. Bahkan ada bagian yang terasa basah.
Di dalam mimpi tersebut Putri melihat Adnan begitu bergairah memompakan miliknya ke dalam milik Putri. Putri kini bangun dengan nafas yang terasa memburu, seperti seseorang yang tak tuntas hasratnya. Sebab di mimpi tersebut mereka sama-sama belum mencapai *******.
"Hhhhh."
Ia mencoba menarik nafas panjang dan mengingat sosok Aaron. Ia tak ingin semakin lepas kendali atas semua ini. Ia adalah milik Aaron dan Adnan adalah milik Anita.
***
"Itu reaksi wajar mbak Putri."
Dokter Matt menjawab ketika Putri jujur menceritakan keluhannya. Mengenai hasrat yang meningkat tajam akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Kehamilan mbak Putri sudah masuk di akhir trisemester pertama. Beberapa ibu hamil akan mengalami penurunan kadar estrogen dan progesteron menjelang trisemester kedua. Hal tersebut menjadikan beberapa ibu hamil tersebut mengalami peningkatan hasrat untuk berhubungan."
Putri menghela nafas, ia baru memahami hal tersebut. Kini ia pun menjadi bingung.
"Kenapa mbak Putri?" Dokter Matt bertanya, pasalnya Putri menjadi terdiam dan tertunduk sekarang.
"Terus saya gimana, dok?. Masa saya minta di tidurin sama suami orang?"
Dokter Matt tersentak mendengar semua itu. Sebagai dokter ia pun bingung pada kasus yang kini dihadapi Putri. Masalahnya Putri mengandung benih dari suami orang, yang bukan kekasih ataupun selingkuhannya.
Ia mengandung bayi suami orang yang sebelumnya tak ia kenal sama sekali. Tak mungkin juga Putri meminta suami orang tersebut untuk menuntaskan hasrat yang ia miliki.
"Ya, mbak Putri bisa mencoba mengalihkan pikiran dan perhatian ke hal lain. Menonton drama Korea misalnya, atau mendengarkan K-Pop. BTS, NCT, Blackpink. Atau mendengarkan musik klasik, healing dan sebagainya." ujar dokter tersebut.
Putri kini mencoba tersenyum. Karena sepertinya dokter Matt terdeteksi seorang fanboy.
"Iya dok, saya akan coba." jawab Putri.
***
Putri berangkat ke kantor setelah dari dokter Matt. Sebelum itu ia ada meminta izin pada Adnan jika ia akan datang sedikit terlambat.
Adnan mengatakan kepada kepala divisi yang menaungi Putri, bahwa Putri sedang ia tugaskan mengantarkan sesuatu untuk klien. Kepala divisi yang baru itu percaya saja ucapan Adnan, sebab Adnan adalah bosnya kini.
Setelah beberapa saat berlalu, Putri tiba di kantor dan bekerja seperti biasa. Ia menuruti saran dokter Matt untuk mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Seperti saat ini, ia berusaha fokus pada pekerjaan. Sebab hasratnya kepada Adnan benar-benar masih menggebu.
"Put, ini tolong kerjakan ya."
Adnan tiba-tiba muncul di hadapan Putri. Menyerahkan pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh Putri. Seluruh tubuh Putri pun berdenyut, ia menatap Adnan seperti seseorang yang tengah kehausan.
Apalagi hari ini, Adnan mengenakan kaos hitam di dalam jas yang ia kenakan. Bagi Putri hal tersebut menambah kesan sexy tersendiri di tubuh pria itu.
"Putri?"
"Ah, oh, iya pak. Sa, saya kerjakan." ujarnya.
"Terima kasih." ujar Adnan kemudian berlalu. Jantung Putri kini berdegup dengan kencang.
Perempuan itu berusaha menarik nafas panjang berkali-kali, untuk menetralkan perasaanya.
__ADS_1
"Duh, ingat Put. Itu suami orang, suami orang." Ia berujar kepada dirinya sendiri. Seakan mengingatkan untuk tidak berkhayal terlalu jauh.