Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Keputusan


__ADS_3

"Tolonglah mbak mu ini, Rin."


Rianti ibu Adnan memohon pada Rina, ibu Aaron. Sedang ibu Aaron kini masih diam, karena bingung harus berkata apa.


"Mbak mu ini sudah tua, mbak hanya ingin melihat Adnan punya anak. Tetapi dari sebuah pernikahan. Mbak nggak mau suatu saat anak itu tau kalau dia dilahirkan di luar pernikahan. Itu akan jadi sesuatu hal yang buruk untuk dia."


"Apa mbak sudah bicara dengan Putri?" tanya Ibu Aaron kemudian.


"Sudah, tapi Putri sepertinya tidak menyetujui hal tersebut. Walaupun dia tidak menolak secara gamblang pada saya."


Ibu Aaron menghela nafas, ia kini memikirkan nasib Aaron.


"Tolong keluarga kami, Rin. Pernikahan ini hanya sampai anak ini lahir saja. Setelah itu Putri boleh meninggalkan Adnan. Lagipula Putri itu hamil bukan dengan cara alami, mbak rasa dia dan Adnan juga tidak akan melakukan hubungan suami istri walau sudah terikat pernikahan. Karena sebelumnya mereka itu tidak saling kenal. Dan yang mbak tau Adnan sangat mencintai istrinya, Anita. Aaron boleh percaya terhadap Adnan."


Ibu Adnan tidak mengetahui bahwa sejatinya Putri dan Adnan bahkan nyaris berhubungan badan. Akibat perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka akhir-akhir ini.


Lagi-lagi ibu Aaron menghela nafas.


"Ini berat untuk saya mbak." ujarnya kemudian.


"Masalahnya Aaron dan Putri itu saling mencintai." lanjutnya lagi.


Wanita itu juga tidak mengetahui apa yang telah terjadi dengan perasaan Putri saat ini. Yang ia tau Putri mencintai Aaron dan begitupula sebaliknya.


"Saya nanti coba pikirkan dulu mbak. Kalau memang keputusan saya sama dengan mbak Rianti, saya akan coba bicara dengan Aaron. Tapi mbak Rianti dan Adnan harus janji, setelah bayi itu lahir serahkan kembali Putri kepada Aaron. Sebab Aaron sangat mencintai Putri. Lagipula saya nggak tega kalau ada perempuan yang di madu. Anita akan sakit, begitupula dengan Putri."


"Mbak janji, Rin. Mbak juga akan bicarakan dengan Adnan soal ini."


"Baik mbak, kasih saya waktu." ujar ibu Aaron lagi.


***


"Gue kecewa banget sama Putri, kenapa sih dia jadi pelakor."


Sita berkata dihadapan Lusi dan juga Firman. Saat ini mereka tengah makan di rumah Sita. Sebab ibu Sita yang menyuruh mereka datang, untuk mencicipi menu baru dari mini resto yang dimiliki keluarga Sita.

__ADS_1


"Eke juga nggak habis pikir nek, kan dese centes ya nggak jelong. Bersih gitu, kinclong, bohay, sexy apalah-apalah." Firman menimpali.


"Punya pacar ganteng, tajir, pengusaha. Kenapa atuh masing buka celana juga buat lekong orang lain." lanjut pria bimbang tersebut.


"Bicara apa sih?. Koq tegang dan heboh sekali." Ibu Sita datang dengan menambahi makanan.


"Putri bu, tau kan yang temen kantor kita. Yang pernah bantu ibu bikin masakan Perancis." Lusi mengingatkan ibu Sita.


"Iya dia kenapa?" tanya ibu Sita sambil duduk di hadapan mereka semua.


"Dia hamil bu, anaknya bos kita yang baru." ujar Sita.


"Oh ya?"


Ibu Sita terkejut, namun tidak memberikan reaksi yang berlebihan.


"Iya bu, dia jadi pelakor." timpal Sita.


"Bos kita itu udah punya istri dan belum punya anak." lanjutnya lagi.


"Bener bu, ini buktinya."


Sita memperlihatkan rekaman berikut suara yang di forward oleh biang gosip kantor padanya. Sang ibu pun memutar video tersebut dan menonton serta mendengarkan secara seksama. Kemudian setelah selesai ia pun berujar pada ketiga anak itu.


"Kita kan nggak tau cerita sebenarnya. Ini video juga cuma sepotong-sepotong. Kelakuan kalian jangan kayak netizen sosial media, yang apa-apa langsung menjudge, menghujat. Nanti dulu, cari informasi yang valid atau memilih tidak mau tau sama sekali. Jangan kebelet untuk ngatain orang, karena siapa tau kejadiannya tidak seperti itu. Coba tanya langsung sama Putri nya, biar jelas. Daripada menebak-nebak kayak gini, ujungnya jadi fitnah kalau salah."


Sita, Lusi dan Firman saling bersitatap satu sama lain.


"Bukan apa-apa, Sita dan Lusi kan perempuan." ujar sang ibu lagi.


"Ih, eke juga pere bu." Firman tak mau kalah.


Ibu Sita hanya tertawa, Sita dan Lusi pun sudah tidak terlalu kaku seperti tadi.


"Kalau kejadian sama kalian gimana?" tanya sang ibu.

__ADS_1


Sita dan Lusi diam.


"Ini ibu ngomong di luar konteks pelakoran ya. Nggak ada pembenaran untuk pelakor, lelaki peselingkuh dan pelakornya itu tetap salah dan nggak bisa dibenarkan. Tapi disini ibu mau menasehati kalian, untuk jadi orang yang tidak gampang menghujat orang lain. Sebelum mengetahui berita yang pasti dan valid. Kalau dari forward beginian kan bisa aja di manipulasi atau di edit, di potong. Jaman sekarang orang ada aja caranya untuk menghebohkan suasana." ujar wanita itu lagi.


Sita, Lusi, dan Firman pun agaknya mulai mengerti kini. Jika mereka tidak boleh gampang di provokasi atau terpengaruh oleh apapun yang belum jelas kejadiannya.


"Wes, pada makan gih. Lebih baik makan dari pada ngomongin orang. Perut kenyang, nggak dosa."


Sita, Lusi dan Firman tersenyum, detik berikutnya mereka pun mulai makan.


"Ibu tinggal dulu ya." ujar ibu Sita kemudian.


"Iya bu." jawab mereka bertiga serentak.


***


"Ok, Adnan mau menikahi Putri. Tapi ibu juga harus janji, bahwa ibu, mas-mas, dan mbak-mbak akan berhenti membully Anita mulai hari ini."


Adnan berujar pada sang ibu, ketika mereka akhirnya bertemu. Ibu Adnan kini diam dan menatap puteranya tersebut.


"Adnan akan mengorbankan perasaan Anita, untuk pernikahan ini. Dan itu merupakan hal besar bagi dia, bagi kami berdua. Tolong ibu, mas-mas dan mbak-mbak jangan tambahi lagi penderitaan Anita. Dia sudah cukup berbesar hati dengan menerima kalau dia sulit punya anak. Dia juga rela membujuk Adnan untuk memenuhi permintaan ibu, supaya Adnan menikah sama Putri. Cuma itu permintaan Adnan, dan tolong penuhi."


Ibu Adnan menghela nafas panjang.


"Baik." ujarnya kemudian.


"Ibu akan peringatkan mas-mas dan mbak-mbak mu untuk tidak mengganggu Anita lagi." lanjut wanita itu.


"Ibu harus menjamin dan memastikan. Karena Adnan nggak mau melihat atau mendengar bullyan dalam bentuk apapun terhadap Anita."


"Iya, ibu janji dan ibu akan pastikan itu semua." jawab sang ibu pada Adnan.


"Kalau sampai Adnan dengar sedikit saja, Adnan nggak akan memaafkan kalian selamanya."


Sang ibu mengangguk, lalu secara serta merta ia pun memeluk Adnan. Mau tidak mau Adnan membalas pelukan itu, meski masih tersisa banyak kemarahan dihatinya. Akibat sikap dan perilaku sang ibu selama ini, terutama terhadap Anita.

__ADS_1


"Ibu senang Adnan, akhirnya kamu punya anak." ujar wanita itu kemudian.


__ADS_2