
"Put, nih."
Salah satu anggota geng gosip memberikan satu cup besar rujak, kepada Putri dan juga beberapa karyawan lainnya.
"Tumben pada beli rujak, dalam rangka apaan nih?" tanya Putri tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun.
"Hmm, nggak ada. Emang sengaja, kali aja lagi pada pengen yang asem-asem." ujar anggota geng gosip itu.
"Oh, makasih ya." ujar Putri.
"Sama-sama."
Karyawan lain yang juga ikut di beri pun sama mengucapkan terima kasih. Lalu mereka semua makan.
"Ready gaes?" tanya salah satu dari mereka di grup.
"Oh tentu dong mak." balas yang lain.
"Eke penasaran." celetuk yang lainnya lagi.
"Tunggu aja, bentar lagi juga ketahuan."
Mereka semua mulai makan, sambil mencuri-curi pandangan ke arah Putri. Putri memakan rujak tersebut, namun tidak dengan buah nanas yang sengaja di ikut sertakan di dalamnya. Salah satu anggota grup gosip yang menyadari hal tersebut pun, seketika heboh.
"Say, liat kan dese." ujarnya di grup WhatsApp.
Para anggota mulai meraih handphone masing-masing dan membaca pesan tersebut. Mereka melirik berbarengan ke arah Putri. Namun Putri tak menyadari jika dirinya tengah jadi bahan pergunjingan.
"See, dia misahin nanasnya ya say. Waktu itu gue pernah beberapa kali ada makan rujak bareng si Putri. Dan dia makan nanas cukup banyak. Tapi hari ini nanasnya di pinggir-pinggirin."
"Fix ini mah, tekdung." celetuk yang lainnya.
Ketika sore menjelang Putri keluar dari kantor, karena itu adalah jam pulang. Namun Putri lupa membawa bekas rujak yang tadi ia makan. Padahal ia selalu membuang sampah pada tempatnya.
"Nih lihat kan, ditinggalin gini aja. kagak dimakan."
Salah satu anggota grup itu kembali berujar. Sementara yang lainnya tersenyum jumawa. Sebab kecurigaan mereka kini terbukti, walau baru sedikit. Dan mereka berencana mencari bukti-bukti lain.
"Kalian ngapain sih?"
Sita yang sehari-harinya duduk di dekat Putri, baru saja kembali dari toilet bersama Lusi dan juga Firman si makhluk amfibi kantor. Ia heran mengapa para biang gosip berkumpul di meja Putri. Sedang Putri sendiri sepertinya sudah pulang.
"Eh, Sit. Temen lo nih bunting gosipnya." ujar salah seorang dari mereka kepada Sita.
Sita, Lusi, dan Firman mengerutkan kening.
"Maksud lo?" tanya nya kemudian.
"Ya si Putri hamidun, alias tekdung." ujar salah satu dari anggota geng gosip itu lagi.
"Lo jangan sembarangan ngomong ya, gue kasih tau Putri lo pada." ancam sita.
__ADS_1
Ia benar-benar emosi mendengar semua itu. Sebab dirinya cukup dekat dengan Putri selama ini.
"Ih kasih tau aja, palingan muka si Putri yang merah kayak udang rebus saking malunya."
Para anggota geng itu tertawa-tawa.
"Darimana lo tau si Putri melendung?"
Firman si pria melambai ikut-ikutan gusar atas sikap anggota geng gosip tersebut. Sebab ia juga memiliki hubungan yang baik dengan Putri selama ini.
"Nih ya, Cong. Kita ada ngasih rujak ke si Putri. Tapi Putri meninggalkan semua nanasnya disini, nggak dimakan sama sekali." jawab salah seorang dari mereka.
Firman melebarkan bibir, begitupula dengan Sita dan juga Lusi.
"Bego apa gimana sih lu pada?" Lusi yang tadinya diam kini ikut berbicara.
"Nggak semua orang suka nanas, anjir. Gue aja kadang gue tinggalin." lanjutnya kemudian.
"Iya, menarik kesimpulannya super bodoh." timpal Firman.
"Kalau perkara nggak makan nanas berarti hamidun, berarti eke juga hamidun dong?. Sebab eke kalau makan rujak, eke pinggir-pinggirin juga itu nanasnya." lanjutnya lagi.
Para biang gosip itu agaknya tak senang, apabila omongan mereka di bantah.
"Liat aja nanti, kita bakal bisa buktikan kalau si Putri itu beneran melendung."
Mereka semua membubarkan diri, sementara Sita, Firman, dan Lusi hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya mengelus dada. Mereka sangat-sangat tak habis pikir dengan sikap orang-orang tersebut.
***
Adnan berujar pada Putri melalu pesan singkat di WhatsApp, ketika Putri telah beberapa jam tiba di apartemen miliknya.
"Repot-repot banget pak, saya nggak enak loh." balas Putri.
"Nggak apa-apa, kan itu juga anak saya. Saya kesana ya?" ujar Adnan lagi, Putri pun tak begitu enak untuk menolak lebih jauh. Sebab Adnan terlihat sangat bersungguh-sungguh demi anaknya.
"Iya pak, saya ada di tempat koq." jawab Putri.
Adnan tersenyum, lalu menyudahi telpon tersebut dan mengarahkan mobilnya ke jalan yang menuju ke kediaman Putri. Tak lama Anita menelpon Adnan.
"Hallo, sayang." ujar Adnan pada istrinya itu.
"Mas, makan bareng yuk di luar!" ajak Anita.
"Kapan?" tanya Adnan.
"Sekarang."
"Mmm, kalau sekarang aku nggak bisa. Masih kerja soalnya."Adnan berdusta.
"Malem ya mas pulangnya?"
__ADS_1
"Iya, agak malem. Kasian kamu kalau nunggu aku. Makan aja duluan, ya." ujarnya kemudian.
"Oh, ok mas." jawab Anita.
"Sorry ya sayang."
"Nggak apa-apa mas, santai." ujar Anita lagi
Adnan kini mendadak dihantui rasa bersalah, namun ia sudah berniat untuk bertemu dengan Putri.
"Maafin aku Anita, aku mau lihat anak kita dulu." gumam pria itu.
Dalam waktu beberapa saat Adnan telah tiba di kediaman Putri. Ia datang dengan membawa buah-buahan serta beberapa kotak susu hamil.
"Nih buat kamu." ujarnya pada Putri, sambil menyerahkan semua itu.
"Banyak banget pak, makasih loh."
"Iya sama-sama."
"Masuk pak!"
Putri mempersilahkan bos sekaligus ayah dari bayinya itu untuk masuk ke dalam. Tak lama ia pun membuatkan minuman.
"Nih pak, minum dulu."
Adnan tersenyum.
"Malah jadi saya yang ngerepotin." ujarnya kemudian.
"Nggak koq pak, bapak kesini sendirian?"
"Mau sama siapa lagi?"
Putri yang gantian tersenyum. Ia masih mengingat saat mereka berciuman hari itu, begitupula dengan Adnan. Namun baik Putri maupun Adnan kini hanya ingin berkonsentrasi pada anak mereka. Apa yang telah terjadi, mereka ingin menganggapnya sebagai angin lalu.
Meskipun hal tersebut cukup sulit dilakukan. Mengingat ciuman yang terjadi tersebut melibatkan hati dan perasaan keduanya.
"Kamu sehat aja kan?" tanya Adnan.
"Maaf ya, kalau di kantor saya jarang berinteraksi dengan kamu. Kamu tau sendiri permasalahan kantor kita akhir-akhir ini." lanjutnya lagi.
"Iya pak, saya nggak masalah koq soal itu. Saya juga sibuk banget akhir-akhir ini."
"Maaf ya, soalnya siapa lagi yang bisa mengerjakan bagian itu kecuali kamu." Lagi-lagi Adnan berujar.
"Iya pak." jawab Putri.
Adnan melihat handphone, tampak sebuah notifikasi masuk.
"Saya tadi pesan makanan, nganternya kesini. Saya ke bawah dulu ya." ujar pria itu.
__ADS_1
"Iya pak."
Tak lama Adnan pun pergi ke bawah, untuk mengambil makanan tersebut.