Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Cemburu


__ADS_3

"Pak Adnan?"


Putri menyebut nama Adnan. Sedang pria itu kini mendekat dan secara serta merta mencium bibir Putri.


Putri yang terdiam itu pun hanya bisa pasrah. Sebab Adnan tak memberikannya kesempatan untuk menolak. Bahkan pria itu menahan tangan Putri untuk tidak mendorong tubuhnya supaya menjauh.


"Pak?"


"Ssssttt."


Adnan kembali mencium Putri, sambil memberikan usapan pada bayi mereka yang ada di dalam. Hingga gairah Putri pun tiba-tiba meningkat drastis.


Adnan terus mencium Putri, dengan tangannya yang mulai mengusap-usap ke bagian lain. Bahkan ke area terlarang yang sensitif di tubuh Putri.


"Pak."


"Ssssttt."


Adnan kembali menahan perlawanan Putri dan mendominasi permainan. Dalam sekejap ia menyibak bagian bawah baju yang dikenakan perempuan itu. Lalu ia membuka resleting celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.


Putri berusaha untuk kembali memberontak, namun Adnan terus memberi ciuman pada bibir perempuan itu dan mengunci pergerakannya. Kemudian dengan cepat ia mengarahkan benda tumpul miliknya tersebut tersebut ke liang milik Putri.


Dalam sekejap Tubuh Putri sudah naik turun, seirama dengan bunyi derit tempat tidur. Mereka terus berciuman agar Putri tak mengeluarkan suara *******, yang bisa didengar orang lain.


Cukup lama permainan itu berlangsung, hingga kemudian keduanya mengalami pelepasan yang begitu nikmat.


"Hhhhh."


Putri kemudian terbangun dari tidurnya, ini adalah kali kedua ia bermimpi seperti itu tentang Adnan. Ia melihat Adnan yang terlelap di sebuah kursi, dengan kepala yang bertumpu pada pinggiran tempat tidur.


Tanpa sadar Putri mengangkat tangan lalu membelai kepala pria itu, sambil mengingat mimpinya yang barusan.


Adnan pun terbangun, Putri buru-buru mengalihkan tangannya dan mencoba bersikap biasa saja. Namun Adnan sadar dan merasa jika tadi Putri telah menyentuh dan membelai kepalanya. Adnan pura-pura tidak tahu dan bertanya pada Putri.


"Kamu terbangun?" ujarnya pada perempuan itu.


"Iya pak." jawab Putri.


"Sering terbangun di jam segini, dan nggak tau kenapa." ujar Putri lagi.


"Kamu mau minum?" tanya Adnan lagi.


Putri menganggukkan kepalanya.


Adnan lalu beranjak dan mengambil air mineral, kemudian memberikannya pada Putri. Putri pun meminum air tersebut hingga hampir habis.


"Bapak tidur di sofa aja pak, nanti badannya sakit semua kalau tidur posisi kayak tadi."


Tiba-tiba Putri jadi memperhatikan Adnan. Adnan sendiri agak terkejut mendengar semua itu, namun ia mencoba bersikap biasa saja.


"Nggak apa-apa koq." jawabnya kemudian.


"Tapi saya jadi nggak enak pak." ujar Putri.


"Ya di enakin dong." goda Adnan.


Putri akhirnya tersenyum.

__ADS_1


"Kamu laper nggak, Put?"


Adnan bertanya pada Putri.


"Bapak laper ya?" Putri balik bertanya.


"Iya." jawab Adnan


"Mau order di online?" Lagi-lagi Putri bertanya.


"Nggak usah, seberang rumah sakit ini kan yang jualan sampai jam 3, jam 4." jawab Adnan.


"Oh ya?"


"Iya, mau makan apa kamu?" tanya Adnan.


Putri sejatinya merasa cukup lapar, sebab saat ini dirinya tengah mengandung.


"Mau nasi goreng deh pak."


"Nasi goreng apa?. Ada ayam, sosis, ati ampela, kambing, atau nasi goreng gila?"


"Mau nasi goreng gila tapi jangan pedes."


"Ok."


Adnan kemudian berlalu, pria itu berjalan menuju ke seberang rumah sakit. Tempat dimana banyak terdapat penjaja makanan. Di lain pihak, Anita tengah video call dengan Rinda.


"Lo jam segini masih aja keliaran."


"Abis laper, Nit. Laki gue lagi tugas luar kota. Makanya ini gue cari makan. Lagian dekat koq dari rumah, paling 600 meter." ujar Rinda lagi.


"Anak lu sama siapa?" tanya Anita.


"Ada mbaknya dirumah. Gue tuh kesengsem sama ini nasi goreng." jawab Rinda.


"Itu dimana sih tempatnya?" tanya Anita lagi.


"Di depan rumah sakit Citra Satya Medika."


"Oh, emang enak ya disitu?" tanya Anita lagi.


"Enak, nih tempatnya."


Rinda mengarahkan kamera. Namun kemudian Anita seperti melihat sosok suaminya yang melintas.


"Degh."


Hati Anita bergemuruh. Namun buru-buru wanita itu menepis segala pikiran buruk yang bersarang di benaknya. Ia percaya jika saat ini Adnan tengah ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Lagipula, tadi ia juga sempat berbicara dengan Tristan. Adnan pergi bersama Tristan.


Anita terus berbincang dengan Rinda, tanpa ia sadari jika yang masuk ke frame Rinda tadi memang adalah Adnan. Adnan berada di warung tenda yang bersebelahan dengan tempat dimana Rinda berada.


Adnan membeli makanan untuk dirinya dan juga Putri. Setelah menunggu cukup lama, makanan tersebut jadi. Ia membayar dan kembali ke dalam rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, ia menyiapkan segala sesuatu. Lalu ia dan putri pun makan bersama dan saling berdekatan.


Pada saat tengah makan tersebut, Putri seolah tercuri perhatiannya. Berkali-kali ia menatap Adnan hingga Adnan akhirnya menyadari hal tersebut.

__ADS_1


"Kamu kenapa ngeliatin saya?" tanya Adnan kemudian. Putri pun jadi gelagapan.


"Ah, nggak koq pak. Cuma..."


"Kenapa?" tanya Adnan lalu tersenyum kecil.


"Bapak dulu pasti idola kan pak di sekolah atau di kampus."


Adnan terkekeh dan nyaris tersedak. Ia pun lalu meminum air mineral yang ada di hadapannya.


"Koq kamu bisa ngambil kesimpulan semacam itu?" tanya Adnan.


"Ya, nebak aja. Soalnya dari muka-mukanya keliatan."


"Kenapa dengan muka saya?" Adnan kembali bertanya sambil masih tersenyum.


"Ya, gitu."


"Apanya yang gitu?" Kali ini Adnan benar-benar tertawa.


Putri sendiri terlihat memerah wajahnya karena malu. Untuk sejenak keduanya melupakan masalah yang terjadi diantara mereka.


"Saya nggak tau deh, idola atau bukan. Soalnya nggak pernah nanya sama orang lain. Apakah mereka mengidolakan saya atau nggak." ujar Adnan lagi.


"Tapi banyak nggak pak yang suka sama bapak?" Putri makin penasaran.


"Ya, adalah beberapa."


"Bapak pasti playboy dulunya."


Adnan kembali hendak tersedak karena tertawa.


"Playboy dari mana, pacar aja cuma Anita doang."


Seketika keduanya terdiam. Adnan ingat pada istrinya, sedang Putri ingat jika Adnan adalah suami orang. Maka keduanya pun kini masuk ke dalam suasana yang canggung.


Putri berusaha tersenyum, begitupula dengan Adnan. Lalu keduanya melanjutkan makan, tanpa bicara lagi.


Sementara di kediamannya, Anita telah selesai menelpon Rinda. Namun perempuan itu kini jadi kepikiran, pada seseorang yang tadi melintas di frame Rinda.


Tiba-tiba saja Anita menjadi gelisah, namun ia masih terus berusaha untuk percaya pada Adnan. Ia kemudian menelpon Adnan, disaat Adnan baru saja selesai makan.


"Iya sayang." Adnan menjawab sambil menjauh.


Mendadak hati Putri menjadi terganggu. Perempuan itu berusaha keras menetralisir perasaannya.


"Apa sih gue?" ujar Putri pada dirinya sendiri.


"Itu istrinya dia dan pak Adnan itu suaminya Anita. Ngapain gue mesti ada rasa nggak enak?. Kan gue ini bukan siapa-siapa." lanjutnya kemudian.


Namun seberapapun besarnya usaha Putri untuk mengatakan itu semua pada dirinya, tetap saja ia merasa cemburu pada Adnan.


***


Follow me on Instagram @p_devyara


Tiktok @pratiwidevyara

__ADS_1


__ADS_2