
Esok harinya pun tetap sama. Anita yang ketika bangun tidur langsung memeluk Adnan tersebut, kini sibuk melihat handphone.
Namun ia juga masih bersikap sangat baik pada Adnan. Ketika Adnan menegur dan bertanya mengapa dirinya tidak dipeluk oleh Anita.
Anita langsung meletakkan handphone dan memeluk pria itu dengan erat. Akibatnya Adnan berada diantara rasa yang beragam. Seperti senang, namun penuh dengan prasangka.
Keduanya lalu mandi pagi, dan lagi-lagi Anita menunjukkan keanehan. Biasanya ia berdandan sangat minimalis. Namun kini ia lebih banyak menggunakan sentuhan.
Bila hari-hari sebelumnya hanya memakai cushion dan juga lip balm. Kini ia memakai eyeliner, mascara, eyeshadow, cushion, dan juga lipmatte. Rambut yang biasanya ia catok dan kemudian diikat rapi ke belakang, kini ia biarkan jatuh tergerai.
Pakaian kerjanya yang simpel kini menjadi semakin modis serta agak seksi. Ia benar-benar berubah 180 derajat.
"Mas aku berangkat ya."
Anita mencium pipi sang suami dari belakang, Saat itu Adnan masih sarapan pagi di meja makan.
"Kamu hati-hati di jalan." ujar Adnan lalu balas mencium pipi Anita.
"Iya mas." jawab wanita itu.
Ia kemudian beranjak dan meraih tas kerja serta kunci mobil. Tak lama ia pun menghilang di balik pintu. Tinggallah kini Adnan dengan segala persepsi di benaknya.
Tak lama Adnan pun meraih kunci mobil, tas kerja, dan kemudian beranjak. Ia buru-buru masuk ke dalam lift, ketika lift sudah tiba ketempat dimana unit apartemennya berada.
Saat sampai di halaman parkir ia bergegas masuk ke mobil lalu menghidupkan mesin. Ia melaju dengan kencang hingga masih bisa menyusul mobil Anita. Sebab Anita selalu santai jika mengemudikan mobilnya.
Adnan terus mengikuti istri pertamanya itu hingga tiba di kantor. Seusai parkir ia berjalan ke lobi, namun kemudian langkahnya di cegat oleh seorang pria tampan dan muda. Bahkan sepertinya jauh di bawah Adnan dan Anita sendiri.
"Degh." batin Adnan bergemuruh.
Terlihat mereka mengobrol begitu akrab, pria muda itu tampak seperti orang yang memiliki jabatan tinggi disana. Entah mereka sekantor atau tidak. Sebab ada banyak kantor yang menyewa di gedung tersebut, termasuk tempat dimana Anita bekerja.
Anita dan pria itu kemudian berjalan bersama dan masuk ke lobi. Sedang beberapa mobil di belakang mulai mengklakson mobil Adnan yang berhenti. Akhirnya Adnan pun menekan pedal gas mobilnya dan melaju meninggalkan tempat itu.
***
"Saya nggak tau, pak. Beberapa waktu belakangan saya sakit."
Dokter Matt berujar pada Adnan, ketika pagi itu ia ditemui di rumah sakit.
"Anda benar-benar nggak tau istri saya sedang dekat dengan siapa?" tanya Adnan sekali lagi.
"Saya nggak tau." Dokter Matt kembali menjawab.
"Sebagai teman dekat, saya juga nggak berhak mempertanyakan hal yang sifatnya pribadi bagi dia. Kecuali dia mau berbagi cerita dengan saya." lanjutnya kemudian.
Adnan menghela nafas seraya menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Baik, kalau begitu terima kasih banyak atas waktunya. Maaf kalau kedatangan saya pagi ini mengganggu."
"Sama-sama pak, tapi saya tidak merasa terganggu sedikit pun." ucap dokter Matt.
Kemudian Adnan pun pamit dan menuju ke kantor.
***
Sementara di kantor.
"Jawab, Put!"
Putri di desak oleh Sita, Lusi dan Firman di sebuah ruangan yang sepi.
"Lo hamil anaknya pak Adnan kan?" lanjut Sita.
Tatapan ketiga rekan kerjanya itu begitu mengintimidasi. Hal ini lantaran Sita, Lusi, dan Firman sudah tidak tahan dengan seisi kantor yang bergunjing perihal Putri. Sedang Putri sendiri tak mengetahui tentang itu.
"Kalian ini ngomong apa?" tanya Putri pura-pura tidak mengerti.
"Nggak usah pura-pura deh, put." Lusi menimpali dengan nada sinis.
"Sekantor ini udah tau kalau lo selingkuhannya pak Adnan."
Putri tersentak mendengar semua itu.
"Se, Selingkuhan?" tanya nya dengan nada tinggi.
Nafas Putri kini memburu.
"Kenapa lo lakuin ini, Put. Bukannya lo punya cowok." ujar Sita lagi. Sedang firman hanya mendengarkan dan tidak ikut bicara.
"Gue..."
Putri mulai kacau dan setengah terisak.
"Jawab, Put!" paksa Sita lagi.
Putri akhirnya tak bisa berbuat banyak kecuali mengaku.
"Gue emang hamil anaknya pak Adnan, tapi gue bukan selingkuhan dia. Kami menikah secara sah."
Sita, Lusi, dan Firman amat sangat terkejut dibuatnya. Bahkan ketiga orang itu tampak syok berat.
"Lo nikah sama pak Adnan?" Lusi benar-benar tak percaya.
"Nggak tau malu lo, Put. Merebut suami orang." timpal Sita.
__ADS_1
"Gue tau itu hak lo, tapi lo bikin gue kecewa sebagai teman." lanjutnya lagi.
"Dengerin dulu!"
Putri menatap tegas teman-temannya itu.
"Gue hamil anak pak Adnan karena kesalahan seorang dokter rumah sakit." ujarnya kemudian.
"Maksud lo?" kali ini Firman bersuara.
Putri menghela nafas dan menceritakan kronologi kejadian dengan sedetail mungkin. Sita, Lusi, dan Firman yang sebelumnya marah tersebut, kini mendadak menjadi kasihan terhadap Putri.
"Kenapa lo nggak cerita Put?" ujar Sita seraya menyesali sikap kasarnya yang tadi.
"Gue takut nggak semua orang akan percaya dan lagipula ini masalah gue. Gue nggak mau melibatkan orang lain, Sit." jawabnya.
"Seenggaknya lo bisa berbagi beban sama kita-kita. Berat loh ini masalahnya." Lusi menimpali.
"Iya Put, saat ini seisi kantor sedang ramai-ramainya ngomongin elo. Apalagi ngeliat perut lo yang makin buncit. Mereka semua menganggap elo sebagai pelakor." Sita kembali berujar, sementara Putri tertunduk dalam.
"Lo harus kasih tau pak Adnan, sebelum masalah ini melebar kemana-mana. Biarkan pak Adnan menjelaskan semuanya di depan seluruh karyawan. Biar hidup lo juga tenang dan nggak di gosipin lagi." lanjutnya kemudian.
"Bener Put, jangan sampai gosip itu justru memperburuk kesehatan mental lo nantinya." timpal Lusi.
Putri diam, apa yang dikatakan teman-temannya itu benar, namun ia juga masih berat untuk membicarakan hal ini pada Adnan. Takut membuat suaminya itu menjadi beban.
Putri, Sita, Lusi dan Firman kembali ke office. Kini pandangan Sita, Lusi, dan Firman menjadi lebih awas. Mereka siap menyemprot siapa saja yang berani menghujat Putri. Sebab kini mereka tau kejadian yang sebenarnya.
Sementara biang gosip masih belum menyadarinya akan hal tersebut. Mereka masih berpikir jika seisi kantor taunya Putri adalah selingkuhan Adnan.
"Perutnya makin buncit say. Pada ngeh nggak sih?"
Salah satu biang kembali berujar di grup."
"Iya, udah ketara banget meski berusaha di tutup-tutupi." timpal yang lainnya.
"Pasti di semprot mulu tuh sama pak bos. Makanya cepet banget keliatan."
"Hahaha."
"Hahaha."
"Ah, ah, pak jangan pak. Tapi enak pak."
"Hahaha."
"Gatel."
__ADS_1
"Cewek nggak bener."
Mereka kian menjadi-jadi di grup tersebut.