Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Cukup Sudah


__ADS_3

"Putri, tante mau ketemu kamu sekarang."


Tante Putri yang telah ditemui oleh Aline kini mengirim pesan singkat pada Putri.


"Putri belum pulang kerja, tante." jawab Putri kemudian.


"Ya sudah, tante tunggu. Sebab ini penting dan juga mendesak.


Putri berpikir, ada gerangan apa tante nya sampai menyuruh dia datang dan tak boleh melewatkan. Hal penting apa yang sebenarnya ingin dibahas.


"Ok, nanti Putri kesana." jawab Putri.


Maka percakapan tersebut pun disudahi, Putri kini memilih melanjutkan pekerjaan.


***


"Si Putri mah kayaknya santai aja ya, udah disindir kayak tadi. Bener-bener tebal muka tuh perempuan."


Salah satu biang gosip berujar di kantin, saat jam istirahat kantor telah tiba.


"Biasa say, namanya juga pelakor. Ngambil laki orang aja mereka nggak malu, apalagi sekedar di sindir." tukas yang lain.


"Iya sih, masuk akal juga." ujar yang lainnya lagi.


"Gue sih nggak heran, liat aja pelakor-pelakor yang bertebaran kasusnya di sosial media. Pada ngerasa paling bener anjir. Pengen banget gue siram mukanya pake kuah cabe."


"Bener banget. Apalagi pelakor yang abis merebut laki orang, terus ganti pakaian jadi lebih religius. Itu mereka sok-sok merasa teraniaya. Ngomong-ngomongin soal takdir. Padahal mah nikah sama laki orang bukan takdir, anjir."


"Iya njir, lo punya mulut dan bisa menolak. Bilang aja emang gatel. Nggak usah posting-posting ayat, sok-sokan agamis. Malu sama yang belajar agama beneran dari kecil. Baru ngerebut laki orang aja, udah kayak langsung paham agama banget."


"Hahaha." Mereka semua tertawa-tawa.


Sementara dari suatu sudut Sita, Lusi, dan Firman mendengarkan. Namun mereka bertiga hanya bisa diam, meski hati mereka sangat panas.


"Kita harus bicara sama Putri mengenai hal ini." ujar Sita kemudian. Namun dengan suara yang pelan, agar tak di dengar oleh si biang gosip.


"Iya, ini udah nggak bisa di diemin. Harus ada kejelasan, biar nggak makin melebar kemana-mana." timpal Lusi.


"Eke panas deh nek denger mulut dia orang. Pengen gitu eke jepit pake tank."


Firman kembali melambaikan tangannya sambil berbicara. Ia tampak begitu julid pada para biang gosip itu.

__ADS_1


"Ntar juga mereka kena karmanya sendiri koq." ujar Sita.


***


Sore itu Putri menemui tantenya. Namun ditempat saudara mendiang ibunya tersebut tak hanya ada satu tante saja. Ada juga tante-tante lain, beserta om-om dan juga beberapa sepupu.


Semuanya kini menatap ke arah Putri. Seakan Putri telah melakukan sebuah kesalahan besar dan hendak di sidang.


"Tante, ini ada apa ya?" tanya Putri seraya memperhatikan sekitar sesekali. Ia merasa tidak begitu nyaman dengan keadaan tersebut.


"Benar kamu hamil anak dari laki-laki yang sudah beristri?" Salah satu om Putri bertanya dengan penuh kemarahan.


Putri terkejut mendengar semua itu. Pasalnya masalah yang ia tengah hadapi kini sangat-sangat ia tutup rapat. Belum pernah ada satu anggota keluarga pun yang mengetahuinya.


"Jawab Putri!"


Sang tante mendesak Putri, diikuti tatapan-tatapan mata yang meminta kejelasan.


"Tante, ini masalahnya rumit." ujar Putri.


"Ya rumit, salah sendiri buka celana sama laki orang."


"Jelaskan pada kami apa yang terjadi." pinta sang tante.


Putri pun menunduk dan mulai menceritakan kronologi kejadian.


"Putri tadinya mau melakukan pemeriksaan kesuburan, tante." ujar Putri.


"Lalu kartu pasien Putri, tertukar dengan kartu pasien orang yang mau menjalani program inseminasi buatan. Atau proses kehamilan yang dibantu dengan alat." lanjut wanita itu.


"Terus?" tanya tante nya lagi.


"Nama Putri dan nama pasien perempuan itu sama persis. Nama kami sama-sama Putri Anita, tanpa embel-embel apa-apa lagi dibelakangnya. Pada saat kejadian, Putri Anita yang satunya terpaksa pulang. Lantaran ibunya dikabarkan meninggal dunia hari itu. Tapi dia pulang tanpa sempat memberitahu pada perawat maupun dokter yang bertugas, kalau dia tidak bisa melanjutkan proses yang akan dia jalani."


"Ini cerita koq berbelit-belit sekali, langsung ke intinya saja." celetuk om Putri yang lain.


"Mas nanti dulu, dengar dulu sampai selesai."


Tante Putri yang masih waras mengingatkan sang kakak. Suasana pun kembali tenang.


"Intinya Putri salah masuk ruangan, dan membawa kartu pasien milik Putri Anita yang itu. Lalu benih yang seharusnya masuk ke rahim dia, malah di tanam ke rahim Putri."

__ADS_1


"Ini sepertinya kamu mengarang deh, mana ada cerita seperti itu." Tante Putri yang lain langsung menyatakan kontra.


"Benar." timpal tantenya yang lain lagi.


"Alasan kamu saja kan supaya terlihat benar. Mana ada kesalahan semacam itu. Lagipula masa dokter yang bertugas tidak hafal wajah pasiennya sendiri. Kan sebelum itu pasti ada pemeriksaan yang panjang."


"Dokter yang menangani perempuan itu dan suaminya, mengalami kecelakaan. Dia dan perawat yang biasa bertugas koma akibat kecelakaan itu. Lalu proses pun diganti oleh dokter dan perawat baru." ujar Putri.


"Lo nggak usah kebanyakan ngarang lah, Put. Intinya sekarang lo hamil anak laki orang kan?" salah satu sepupu Putri bersuara.


"Tapi mbak, ini bukan kehamilan alami, ini terjadi di luar kesadaran Putri."


"Ya iyalah nggak sadar, wong enak kan?" tantenya yang sudah judes dari awal kembali nyeletuk dan sangat menyakitkan hati Putri.


"Pokoknya laki-laki itu harus bertanggung jawab, dia harus menikahi kamu."


Om yang tadi sempat berkata, kini kembali berujar.


"Benar itu, timpal om yang lainnya lagi.


"Kamu sudah membuat malu keluarga kita Putri."


Tante yang kemarin di datangi Aline kini menatap mata Putri.


"Tapi tante, kalian ngerti nggak sih kejadiannya ini. Ini bukan salah Putri, tapi salah dokter dan perawat yang bertugas." Putri masih berusaha membela diri walau sia-sia.


"Sudah, sudah. Sekarang kasih tau kami, siapa ayah dari anak itu. Kita harus meminta pertanggungjawaban. Jangan sampai perutmu itu keburu membuncit."


Tante Putri yang ketus berkata masih dengan nada penuh kekesalan. Putri pun hanya bisa mengatakan siapa Adnan. Selebihnya ia memilih diam. Sebab suasana telah menjadi sedemikian runyam.


Keluarganya seakan enggan mendengarkan cerita secara rinci. Mereka tetap dengan persepsi yang ada di benak masing-masing.


***


Sepulang dari tempat keluarganya tersebut, Putri di dera rasa pusing dan lemas yang sangat hebat. Hingga terpaksa ia meminta kepada supir taxi untuk diantar ke depan instalasi gawat darurat.


Ketika Putri keluar dari dalam taxi. Dokter Matt yang tanpa sengaja melintas melihat perempuan itu.


"Buuuk."


Putri terjatuh. Dokter Matt dan beberapa perawat segera berlarian ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2