Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Cinta Yang Terus Tumbuh


__ADS_3

Putri masuk kerja hari ini, dan tentu saja kedatangannya sangat di tunggu oleh para biang gosip. Meski Putri sendiri tak sadar bila dirinya tengah jadi bahan perbincangan.


"Eh Putri, kemana aja. Koq baru masuk?"


Salah seorang biang gosip iseng bertanya padanya.


"Gue dari di tugasin bos keluar kota." jawab Putri lalu duduk di kursi meja kerjanya.


"Ditugasin say."


Bisik salah satu biang gosip kepada biang gosip lainnya.


"Ditugasin buat ngangkang." timpal yang lainnya.


Mereka tertawa namun dengan suara yang sangat pelan. Tak lama Adnan tiba dan mereka semua kembali ke meja masing-masing.


***


Adnan melihat Putri makan dihadapannya banyak sekali, pada jam makan siang. Awalnya ia biasa saja, namun kemudian pria itu pun tertawa. Sebab baru pertama kali ia melihat Putri makan sebanyak itu.


"Put, mau nambah lagi?" tanya Adnan.


"Mau pak, laper banget soalnya. Sebelum-sebelumnya saya nggak gini loh." ujarnya.


Mereka memang sepakat untuk tetap memanggil dengan panggilan formal di kantor atau area sekitarnya. Sebab meskipun saat ini mereka tengah jauh dari karyawan lain, takut keceplosan bila tidak dibiasakan.


"Nggak apa-apa kamu makan aja, kalau selera makan kamu lagi baik." ujar Adnan.


"Ya udah, saya pesen lagi ya pak."


"Iya, pesen apa aja yang kamu mau."


Putri pun kembali memesan makanan. Adnan terus tersenyum dan tertawa melihat tingkah istri keduanya itu. Ia mulai menikmati perannya sebagai calon ayah sekaligus pelindung bagi anak yang tengah dikandung Putri. Termasuk Putri nya sendiri.


***


"Dese nggak ada di sini say."


Para biang gosip melihat ke segala penjuru kantin. Mencoba menemukan keberadaan Putri. Sebab mereka ingin sedikit ada bahan pergunjingan agar suasana menjadi seru. Namun sepanjang mata memandang, Putri tak ada di sekitar mereka.


"Tadi di atas juga nggak ada." salah satu dari mereka berujar.


"Bos juga pergi."


"Hmmm."


Mereka saling menatap satu sama lain sambil tersenyum.


"Tau lah mereka kemana, ya kan?"


"Hehehe." Mereka semua tersenyum jahat.


Sementara Putri kini telah menghabiskan makanan tambahannya. Tak hanya itu ia juga menghabiskan minuman hingga dua gelas.


"Koq bapak ngeliatin saya terus dari tadi?" tanya nya ketika piring dan gelas telah kosong. Sejak tadi memang pandangan mata Adnan terus tertuju kepada dirinya.


"Lucu." jawab Adnan sambil tertawa.


"Saya kayak orang yang nggak pernah makan ya pak?" tanya nya kemudian.


Adnan masih tertawa.

__ADS_1


"Nggak apa-apa." ujarnya kemudian.


"Kalau kamu mau makan apa, bilang aja. Nanti saya belikan." lanjut pria itu.


Putri tersenyum lalu tertawa kecil. Tanpa sadar Adnan membelai kepala wanita itu dengan lembut. Ada damai yang mendadak menyeruak di hati Putri. Suasana seperti itulah, yang membuatnya lupa jika Adnan juga merupakan suami Anita.


Entah ini benar atau tidak. Perasaan cinta di hatinya terhadap pria itu mulai tumbuh dan berkembang.


"Kita pulang bentar lagi ya." ujar Adnan.


"Iya pak." jawab Putri.


***


"Eh, eh, eh. Itu bos sama si Putri."


Salah seorang biang gosip melihat Putri yang berada di dalam mobil Adnan. Mobil tersebut baru saja kembali lagi ke kantor. Namun Adnan menurunkan Putri, di lobi sebelah yang sepi.


Dan sialnya entah mengapa para biang gosip itu melintas di lobi tersebut. Padahal seumur-umur, selama bekerja di kantor itu. Mereka sangat jarang bahkan nyaris tidak pernah melewati bagian sana.


"Kaaan"


"Apa gue bilang."


Salah seorang dari mereka berujar penuh antusias.


"Udah pasti ada burung di dalam celana." lanjutnya kemudian.


"Dasar perempuan gatel."


Salah satu dari mereka mengumpat kesal.


"Dari hotel tuh pasti mereka." lanjutnya kemudian.


Mereka semua kini tengah mengintip dari balik tembok.


"Pak Adnan nya juga pengkhianat anjir, kesel gue."


Salah satu dari mereka tiba-tiba nyeletuk.


"Tapi harusnya si cewek juga punya prinsip dong. Udah tau di deketin laki orang, malah buka celana sampe melendung. Kan dikasih otak sama mulut buat berpikir dan berbicara. Kan bisa nolak kalau emang nggak mau."


"Iya sih."


"Eh pak Adnan ke arah sini tuh."


Salah satu dari mereka melihat Adnan yang baru saja selesai memarkir mobil, dan berjalan ke arah mereka.


"Cabut, cabut, cabut."


Mereka semua kini berlarian ke arah lain dan masuk ke sebuah lift. Tak lama lift tersebut membuat mereka kembali ke ruang kerja.


Di atas, mereka duduk tertib. Tak lama Putri masuk, diikuti Adnan. Para biang gosip langsung mengambil handphone dan membuat spekulasi sendiri.


"Liat rambut si Putri, nggak serapi tadi pagi kan?"


Salah satu dari mereka berujar di grup WhatsApp.


"Iya ya, ketara banget dari di tusuk sama rudalnya pak bos." timpal yang lainnya lagi.


"Murahan." celetuk yang lainnya.

__ADS_1


"Asli murahan, nggak punya harga diri anjir."


"Ember."


"Jijik gue."


Para biang gosip itu saling menimpali.


"Viralin aja biar mampus."


Salah satu dari mereka memberi ide.


"Belum banyak bukti valid say, walau gue udah yakin 100% soal perselingkuhan mereka. Maunya tuh ada istrinya pak bos yang melabrak, jadi seru." timpal yang lain.


"Iya, jadi viral juga bukan salah kita. Salah Putri sendiri, siapa suruh ngambil laki orang."


"Bener, apa kita adukan aja ke istri bos?"


Salah satu dari mereka bertanya.


"Hmmm, boleh juga. Tapi usahakan kita kelihatan nggak terlibat dan nggak bersalah." ujar salah satu dari mereka.


"Gimana caranya tuh?" tanya yang lain heran.


"Ya gimana kek caranya. Yang penting istri bos tau dan kita keliatan nggak terlibat."


Para biang gosip itu kini berpikir.


***


"Kenapa Put, koq kamu diem aja dari tadi?"


Adnan bertanya ada Putri pada sore hari. Ketika mereka sudah berada di jalan pulang. Adnan sengaja pulang belakangan agar bisa bersama putri. Mereka keluar dari kantor setelah seluruh karyawan bubar.


"Kepikiran martabak telor deh pak." ujar Putri.


Adnan tiba-tiba tersenyum.


"Laper kamu ya." ujarnya seraya mengelus perut Putri. Putri pun ikut tersenyum jadinya.


"Iya mas." jawabnya kemudian.


"Ya udah kita beli." ujar Adnan.


Maka pria itu pun mengikuti keinginan Putri. Ia mencari lokasi dimana bisa mendapatkan apa yang Putri inginkan. Dan setelah mendapatkannya, mereka kemudian pulang ke apartemen Putri.


"Mas nginep kan?" tanya Putri.


"Nggak Put, aku pulang."


Putri sedikit terdiam. Sejak semalam ia merindukan Adnan berada di sampingnya. Meski telah berusaha ia lawan perasaan itu. Namun bayinya merindukan kehadiran sang ayah.


"Mungkin Sabtu atau Minggu. Nggak apa-apa ya?"


Putri mengangguk, ia kembali sadar di mana posisinya berada. Inilah mengapa banyak perempuan di luar sana yang menentang suaminya untuk menikah lagi. Karena seadil-adilnya seorang laki-laki, tetap akan selalu terasa tidak adil bagi masing-masing pihak.


Putri memang baru menikah dengan Adnan, dan perasaan dihatinya untuk pria itu baru saja muncul. Tetapi ia sendiri butuh akan perhatian dan waktu sebagai seorang istri.


Ia sudah kehilangan Aaron demi semua ini, dan sekarang ia tak bisa mendapatkan kasih sayang serta perhatian yang utuh dari Adnan.


***

__ADS_1


Follow my Instagram @p_devyara.


__ADS_2