Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Apa Iya?


__ADS_3

Dira mengganjal pinggangnya dengan bantal, usai rahimnya menerima benih sang suami yang begitu banyak.


"Koq diganjal?" tanya Adnan heran.


"Siapa tau bisa jadi secara alami. Namanya juga usaha." ucap Dira.


"Terus bayi-bayi kita yang didalam tabung gimana?" tanya Adnan.


"Ya lahirkan untuk berikutnya aja, kalau misalkan yang ini bisa hamil secara alami. Nggak masalah kan kalau kita punya anak lebih dari satu." ujar Dira lagi.


"Nggak masalah sih. Lagian lucu pasti liat kamu hamil terus." ucap Adnan.


"Degh."


Batin Dira tersentak.


"Kamu udah pengen banget ya mas, liat aku hamil?"


Dira bertanya dengan nada seperti sedih. Seketika Adnan menyadari jika ia telah salah ucap.


"Bukan gitu, sayang." ujarnya meralat. Namun Dira terlanjur luka.


"Ya maksudnya aku akan senang liat kamu hamil. Tapi aku nggak maksa juga. Kalau nggak bisa ya nggak apa-apa."


Dira diam dan makin bersedih hati. Adnan yang semula hendak beranjak itu kini kembali mendekat. Ia mencium bibir dan kening sang istri dengan lembut.

__ADS_1


"Mama Dira jangan ngambek dong. Kalau mama Dira ngambek, nanti mama Dira sakit. Kalau mama Dira sakit, papa Adnan pasti sedih."


Dira menatap mata suaminya itu sambil sedikit merajuk.


"Jangan marah lagi ya. Biar pikirannya selalu positif dan badanya sehat." ujar Adnan.


Dira lalu memeluk Adnan dan Adnan balas memeluk istrinya itu dengan erat.


***


"Elo sama pak Adnan itu apa sih?. Bos lo gitu atau siapa?"


Ghea yang saat ini tengah menjaga Putri mulai kepo. Dari kemarin ia ingin mengetahui siapa Adnan, tapi waktunya belum tepat untuk bertanya.


"Bukan bos gue juga." jawab Putri.


Putri lalu menceritakan awal pertemuannya dengan Adnan, hingga bisa sampai ke hari ini.


"Oalah, gue pikir bos lo atau temen kerja. Tapi masa iya teman kerja, mobilnya mahal, jam tangannya juga mahal." ujar Ghea.


"Nggaklah anjir. Ya kali dia kerja jadi kasir kayak gue, tapi outfitnya puluhan juta."Seloroh Putri.


Mereka pun lalu tertawa-tawa.


"Tapi lo suka sama dia?"

__ADS_1


Ghea melontarkan pertanyaan tak biasa, yang membuat Putri seketika terdiam dan berpikir.


"Nggak tau gue." ujar Putri seraya tertawa kecil.


Jika melihat ia seperti itu. Ia tampak seperti bukan korban pelecehan. Tapi Ghea senang akhirnya Putri bisa sedikit tertawa.


"Koq nggak tau?" Goda Ghea lagi.


"Kalau gue ambil gimana?" lanjutnya kemudian.


"Ya..., jangan!" ujar Putri.


Ghea yang tertawa kali ini.


"Berarti lo suka sama dia." Seloroh gadis itu.


Putri kini jadi berpikir. Bahkan sampai saat Ghea permisi karena harus menerima telpon dari ayahnya, Putri jadi semakin teringat akan Adnan.


Pesona pria itu seakan tak bisa hilang dari benaknya begitu saja. Ia semakin menyadari jika Adnan memiliki kharisma yang begitu kuat.


Putri jadi senyum-senyum sendiri demi mengingat pria itu. Ia membayangkan bisa berada dalam pelukannya setiap saat.


Caranya memperlakukan dan melindungi putri. Membuat Putri jadi ingin memiliki pria itu. Meski mereka baru kenal dan Putri belum mengetahui segala hal tentangnya.


Sementara di lain pihak, Adnan kini tengah tertidur di sisi istri tercintanya. Mereka yang selsai bercinta kemudian pergi mandi bersama.

__ADS_1


Tak lama setelah itu mereka makan, kemudian rasa kantuk yang amat sangat menyerang. Hingga akhirnya mereka menyerah dan pergi tidur.


__ADS_2