
"Udah nggak bisa di gugurkan?"
Putri akhirnya mendengar semua itu secara langsung dari sang pengacara.
"Iya, tapi gini. Ini kan bukan anak hasil pemerkosaan, melainkan malpraktik yang dilakukan oleh seorang dokter. Mungkin ini bisa jadi pengecualian." ujar sang pengacara kemudian.
Putri diam, ia sejatinya telah berada dalam perasaan bimbang selama beberapa waktu belakangan ini. Antara ingin menggugurkan bila ingat Aaron. Namun hendak mempertahankan bila ingat Adnan. Dan sekarang ia harus menghadapi kenyataan yang seperti ini.
"Mbak Putri."
"Mbak."
Pengacara tersebut akhirnya menyadarkan Putri yang tengah melamun.
"Eh, oh, eh. Iya pak." ujar Putri lagi.
"Saya serahkan sama bapak, lakukan apa yang mesti dilakukan." lanjut wanita itu.
"Baik mbak, saya akan usahakan." jawab pengacaranya tersebut. Sesaat kemudian sambungan telpon pun di akhiri.
Kebetulan taksi yang membawa Putri telah tiba di depan kantor. Putri lalu keluar dan berjalan dengan gontai menuju lobi.
***
"Anita."
Ibu Adnan tiba di kantor Anita dan meminta bertemu, di siang hari. Karena seisi kantor tau jika itu adalah ibu mertua Anita. Maka mereka tak menyembunyikan Anita dari ibu Adnan. Lagipula semua mengira jika hubungan antara Anita dan ibu mertuanya itu baik-baik saja.
"Ada apa, bu?" tanya Anita kemudian. Ia mengajak sang ibu mertua untuk berbicara di kantin kantor, yang kebetulan tengah sepi.
"Kamu sudah bicara sama Adnan, soal menikahi Putri?" Ibu Adnan berkata seraya menatap tajam ke mata sang menantu.
"Sudah bu, tapi mas Adnan marah-marah. dia bilang itu adalah hal yang nggak masuk di akal. Kenapa harus di nikahi, ambil saja bayinya."
Anita membeberkan apa saja yang telah dikatakan oleh Adnan. Tanpa ia ketahui jika itu adalah pikiran Adnan di awal saja. Kini pria itu sudah berubah memiliki rasa terhadap Putri, bahkan berharap bisa menarik Putri lebih jauh ke dalam kehidupannya.
"Kamu harusnya usaha lebih keras dong. Masa membujuk suami untuk melakukan hal sepele kayak gitu aja nggak bisa."
Ibu Adnan benar-benar membuat darah Anita naik ke ubun-ubun. Namun perempuan itu masih mencoba untuk bersabar. Ia tak ingin membuat suasana menjadi kian bertambah runyam.
"Pokoknya dalam waktu dekat, kalau Adnan tetap tidak mau menikah dengan Putri. Ibu yang akan paksa dia menikahi perempuan itu." Ibu Adnan tampak begitu kesal.
"Apa jangan-jangan kamu yang memang tidak mengatakannya?. Lantaran kamu cemburu kalau Adnan menikah lagi?"
Anita tersentak di tuduh seperti itu.
"Anita bilang koq bu." ujarnya berusaha meyakinkan
"Tapi memang mas Adnan jawabnya begitu. Dia nggak mau menikah lagi." ia melanjutkan.
Sang ibu mertua memberikan tatapan yang penuh kecurigaan.
"Ibu nggak percaya sama kamu." ujarnya kemudian.
__ADS_1
Anita tak bisa berkata apa-apa lagi. Sangat percuma bila terus berusaha meyakinkan perempuan tua itu. Hatinya telah dipenuhi kebencian terhadap Anita.
"Awas kalau kamu terbukti menghalangi semua ini."
Ibu Adnan pun beranjak, lalu berlalu begitu saja. Meninggalkan luka yang mendalam di hati Anita.
***
Sore hari.
"Sayang."
Aaron kembali menjemput Putri di kantor. Namun bedanya kali ini tak ada Adnan. Adnan tidak masuk, katanya pria itu tengah berada di kantor yang satunya. Dan segala pengurusan pekerjaan di kantor Putri hari ini, di urus secara virtual.
Jujur Putri merasa agak kehilangan. Seperti sebuah perasaan yang tiba-tiba rindu. Mungkin si jabang bayi yang memberikan rasa seperti itu padanya. Namun dampaknya menjadikan Putri tak begitu bersemangat dalam bekerja.
"Hei."
Putri memeluk Adnan dan begitupun sebaliknya.
"Putri."
Tiba-tiba ibu Adnan muncul dan memperhatikan Putri serta Aaron. Putri terkejut, Aaron sendiri menatap wanita itu sambil mengira-ngira dalam hati. Siapa sesungguhnya ia.
"I, ibu?" ujar Putri dengan nada yang terbata-bata.
Mendadak muncul berbagai kekhawatiran di hatinya. Ia takut perempuan tua itu akan mengacaukan keadaan.
"Ibu cari kamu selama beberapa hari ini. Adnan bilang, kamu selalu nggak masuk kantor. Katanya sedang di tugaskan ke luar kota."
"Mmm, i, iya bu." jawab Putri.
"Sa, saya memang ditugaskan ke luar kota selama beberapa hari." lanjutnya lagi.
"Oh, pantas. Ini ibu bawakan buah-buahan untuk kamu."
Ibu Adnan memberikan satu plastik buah-buahan kepada Putri.
"Eee, nggak usah bu." Putri berusaha menolak.
"Nggak apa-apa, ambil aja. Ibu sengaja beli ini untuk kamu. Oh ya apa Adnan masih ada di dalam?" tanya wanita itu lagi.
"Degh."
Seketika batin Aaron berdetak. Ia mulai teringat akan nama itu, padahal si wanita tua telah membahasnya sedari tadi. Wajah Putri pun mendadak pucat. Sebab kini Aaron sadar, jika Adnan adalah nama ayah dari bayi yang tengah di kandung oleh Putri.
"Mmm, pak Adnan nggak masuk bu. Ada di kantor satunya." jawab Putri dengan nada yang gemetaran. Ia tak enak pada Aaron karena belum memiliki keberanian untuk jujur akan hal ini. Bahwa ia sekantor dengan Adnan.
"Oh." jawab ibu Adnan kemudian.
"Oh ya bu, ini...."
Putri menarik Aaron.
__ADS_1
"Ini calon suami saya, Aaron."
Kali ini ibu Adnan yang tersentak. Ia tadi mengira jika Aaron adalah saudara ataupun teman Putri.
"Sore bu." sapa Aaron berbasa-basi.
Ibu Adnan menatapnya dalam-dalam.
"Sore." ujarnya dengan nada yang tak begitu nyaman terdengar. Seperti terpaksa dan penuh tekanan, namun syarat akan rasa yang tidak suka.
Ia ingin bertanya lebih jauh. Bagaimana mungkin Putri yang seorang selingkuhan Adnan, bisa memiliki kekasih lain selain anaknya. Tetapi ia juga mendadak menyimpulkan dalam hati. Jika Putri juga berselingkuh dari kekasihnya ini dan kekasihnya ini tidak mengetahui, perihal saat ini Putri sedang mengandung bayi Adnan.
"Eee, ibu. Ibu pulang dulu ya."
Wanita itu kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Aaron dan juga Putri. Beberapa saat kemudian Aaron dan Putri sudah terlihat berada di dalam mobil. Mobil itu melaju degan kecepatan yang sedang, namun keduanya berada dalam mode diam.
"Aaron fokus ke jalan, sedang Putri melempar pandangan jauh ke depan. Semua terasa kaku dan juga bisu.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sekantor dengan ayah dari bayi yang kamu kandung?"
Aaron akhirnya bersuara setelah sekian lama. Putri masih bungkam untuk sejenak, sampai akhirnya ia pun menjawab.
"Tadinya nggak, tapi kemudian ada kabar kalau sebagian saham perusahaan tempat aku kerja sudah di kuasai oleh seseorang. Kami mendadak punya bos baru dan ternyata itu adalah pak Adnan." ujar Putri.
"Apa kalian saling berkomunikasi?" tanya Aaron lagi.
"I, iya. Sebatas pekerjaan." Putri berdusta.
"Apa dia pernah membahas soal bayi ini?"
"Nggak."
Putri semakin berdusta. Namun kecepatan dan intonasi suara perempuan itu, membuat Aaron menjadi curiga.
"Kenapa ibunya bisa sebegitu baik sama kamu?"
"Dia..."
Kali ini Putri berpikir keras untuk mencari alasan apa lagi. Namun tak ada jalan lain kecuali berkata jujur.
"Dia tau kalau aku mengandung anak pak Adnan. Dia pikir aku ini selingkuhan pak Adnan. Dia nggak tau kalau bayi ini bakalan aku gugurkan."
Putri mendadak teringat ucapan pengacaranya tadi pagi. Soal anak yang ia kandung sudah tidak bisa lagi di gugurkan.
"Tolong di segerakan."
Tiba-tiba Aaron memegang perut Putri dan hal tersebut membuat Putri terkejut.
"Maaf kalau aku egois, tapi aku mau masukin bayi aku ke sini. Aku nggak peduli pernikahan kita masih cukup lama, kamu harus segera hamil anak aku."
Hati Putri seperti di putar-putar dan di bolak-balik.
"Nanti kalau aku udah balik ke London, kabari aku kalau anak ini sudah di gugurkan. Aku akan pulang untuk segera menghamili kamu "
__ADS_1
Putri diam, ia mengerti jika Aaron sangat mencintainya. Sampai-sampai ia memiliki pemikiran seperti itu. Namun bayi yang ada di perut Putri kini sudah tak mungkin untuk dibuang, apabila di tilik secara hukum.
Sang pengacara tengah mengusahakannya, tetapi belum tentu akan berhasil. Kalaupun berhasil, Putri sendiri ragu ingin melakukannya atau tidak. Pasalnya ia memiliki rasa sayang terhadap bayi ini meski belum 100%.