
Adnan dan Tristan terus minum, sambil berbincang. Sesekali ada perempuan lewat dan mencoba menggoda keduanya.
Namun Adnan dan Tristan memang pergi ke tempat tersebut untuk minum dan curhat. Bukan untuk mencari perempuan untuk dijadikan sebagai penghibur. Maka dari itu keduanya cuek saja, dan terus berada pada line mereka.
"Bro gue balik ya."
Adnan pamit pada Tristan, ketika malam telah begitu larut.
"Hati-hati, bro." jawab Tristan.
Keduanya berpisah di parkiran. Adnan masuk ke dalam mobilnya, begitupula dengan Tristan. Usai saling membunyikan klakson, mereka berjalan ke arah rumah masing-masing.
Tiba-tiba Adnan teringat jika ia ada janji dengan Anita. Pria itu lalu mengecek handphone yang ternyata ia silent, tanpa ingat kapan dan dimana ia melakukan hal tersebut. Adnan panik, sebab ada banyak panggilan dari Anita di sana.
Ia lalu menghubungi nomor istrinya itu namun tak diangkat. Jelas saja, mungkin Anita sudah tertidur di jam segitu. Adnan menekan pedal gas mobil dalam-dalam, ia melaju dengan kecepatan tinggi.
Hingga dalam sekejap ia pun sudah sampai di rumah. Buru-buru ia mengambil kunci dan membuka pintu. Pria itu kemudian masuk dan mencari keberadaan Anita. Tampak Anita yang cantik mengenakan dress serta berdandan, telah tertidur dengan nyenyak di sofa. Bahkan rambutnya yang di hair do sudah terlihat lumayan kusut.
Adnan di dera rasa bersalah yang teramat sangat, sebab ia hanya sibuk memperhatikan Putri selama beberapa jam sebelumnya.
"Anita, sayang."
Adnan mendekati Anita dan membangunkannya.
"Mas, kamu dari mana aja?"
Ia bertanya pada Adnan, sambil berusaha menahan kekecewaan. Sebab sepanjang pernikahan berlangsung, baru kali ini Adnan tak memenuhi janjinya.
"Maafin aku, aku bener-bener lupa. Tristan ngajak aku minum tadi."
Anita menghela nafas cukup panjang. Sejatinya ia ingin marah dan memaki sang suami. Namun hal tersebut tak jadi ia lakukan, sebab marah pun tak akan mengembalikan waktu yang telah terbuang.
"Ya sudah mas, aku mau ke kamar dulu. Ganti baju."
Anita beranjak, sementara Adnan kian di dera rasa bersalah. Adnan menyusul masuk ke kamar, ia memeluk istrinya itu dari arah belakang. Pengaruh alkohol membuat hatinya jadi semakin mellow.
"Maafin aku ya, lain kali aku janji nggak akan kayak gini lagi."
"Iya mas, nggak apa-apa koq. Lagian hari ini juga nggak penting-penting banget." ujar Anita.
"Besok ya, kita pergi keluar sama-sama." ujar Adnan.
Anita mencoba tersenyum, meski hatinya telah kecut. Pagi hari Adnan buru-buru bersiap, sebab ia akan segera pergi ke kantor.
"Sayang, nanti malam kita dinner ya." ujar Adnan pada Anita.
"Aku ada lembur sampai malam mas. Baru dikasih tau pagi ini." jawab istrinya itu.
__ADS_1
"Oh?"
Adnan cukup kaget mendengar hal tersebut. Itu artinya ia tak bisa mengobati kekecewaan Anita semalam.
"Malam besok bisa tapi kan?" tanya nya kemudian. Ia masih ingin terus berusaha.
"Nggak tau mas, mungkin bisa. Tapi aku nggak janji." ujar Anita lagi.
Adnan tau, jika di dalam nada bicara Anita masih menyimpan sebuah kekecewaan yang besar. Meski berusaha keras ia tutup-tutupi dari sang suami.
"Ok." jawab Adnan.
Lalu mereka pun sarapan, dan berpisah di parkiran pada beberapa menit berikutnya.
***
Adnan luar biasa sibuk hari itu. Sebab ada hal-hal yang menuntut perhatiannya. Jika tidak segera di selesaikan, maka perusahaan yang ia pimpin tersebut akan mengalami kekacauan.
"Pak, saya istirahat ya."
Sekretaris Adnan meminta izin, karena ini sudah jam makan siang. Bahkan sudah lewat 15 menit.
"Iya silahkan." jawab Adnan.
Tak lama sekretarisnya tersebut berlalu dan pergi ke bawah menuju kantin. Sedang Adnan masih berkutat dengan pekerjaan.
"Dert."
"Dert."
"Mas."
"Iya wi, gimana wi."
"Chef nya lagi nggak libur." ujar Dewi.
"Mau Chef lain nggak?" tanya nya kemudian.
"Tapi sama ok kan?" tanya Adnan.
"Sama, dijamin koq." ujar Dewi lagi.
"Ya udah atur aja, pokoknya jadwalnya besok. Soalnya mas nggak enak sama Anita. Janji makan malam tapi mas lupa. Malam besok di bikin di balkon rumah aja atau di rooftop. Biar Anita nggak bisa nolak lagi."
"Anita nya marah ya mas?" tanya Dewi.
Adnan memang tak bercerita padanya soal itu. Namun sebagai wanita, sudah pasti ia akan marah apabila sang suami mengingkari janji. Begitupun hal nya dengan Anita.
__ADS_1
"Iya marah, cuma dia berusaha nutupin. Mas mau ajak lagi sebagai penebus kesalahan. Tapi dia kayak mau nggak mau." ujar Adnan.
"Ya udah deh, aku hubungi chef nya dulu ya mas."
"Ok, thank you ya Dew."
"Sama-sama mas." Dewi menutup telpon.
Adnan meletakkan handphone ke atas meja dan kembali sibuk pada urusannya.
"Dert."
Sebuah notifikasi lain masuk. Adnan melihat dan ternyata pemberitahuan Instagram, yang menyatakan jika Anita baru saja mengupload sesuatu. Adnan hendak cuek saja, namun kemudian ia merasa penasaran. Maka dibukanya lah notifikasi tersebut.
"Klik."
Udara mendadak dingin dan seakan membeku. Sebab Adnan melihat postingan Anita yang begitu menyentakkan hati.
Ya, Anita memposting foto yang di edit dengan grid. Di sisi kanan adalah foto disaat ia dan Adnan masih sekolah. Dan di sisi kiri adalah foto dimana mereka mengikat janji suci dihadapan pencipta alam.
Adnan membaca caption di bawahnya yang berupa tanggal pernikahan mereka dan tanggal kemarin. Pria itu makin di serang rasa bersalah yang bertubi-tubi. Sebab ia telah melupakan anniversary pernikahan mereka yang ke 12, dan harusnya di peringati kemarin.
"Mas, nanti kita dinner ya. Aku udah pesan tempatnya. Kamu pasti suka."
Adnan ingat perkataan Anita saat mereka masih berada di rumah.
"Biar kita bisa flashback ke masa lalu." lanjutnya kemudian.
Adnan mendekat lalu mencium kening Anita, ia tersenyum dan mengiyakan hal tersebut. Namun hati dan pikirannya tengah memikirkan Putri saat itu.
Kini Adnan memejamkan matanya, menumpukan kening pada kedua tangannya yang terkepal. Ia benar-benar merasa menjadi suami paling jahat. Ia telah melupakan hari pentingnya bersama Anita.
Adnan segera mengambil kunci mobil dan meninggalkan kantor meski pekerjaannya masih menumpuk. Ia menitipkan sebagian pekerjaan pada sang sekretaris.
Pria itu buru-buru mendatangi tempat penjual bunga, yang sudah langganan dengannya sejak belasan tahun lalu.
"Kemarin saya tungguin loh pak Adnan. Biasanya kan ditanggal kemarin atau sebelumnya pak Adnan sudah datang atau pesan bunga dari sini."
Salah seorang karyawan toko bunga yang biasa melayani Adnan, berkata pada pria itu.
"Saya dari luar kota." dusta Adnan.
"Kan bisa dipesan by phone dan bisa dikirim via kurir pak."
Batin Adnan tersentak sekali lagi. Ia memang jahat dan lupa pada ulang tahun pernikahannya.
"Saya itu nggak puas kalau nggak milih sendiri, karena kan buat orang yang saya sayangi. Walaupun udah pesan by phone, tetap saya harus liat dulu." jawab Adnan lagi.
__ADS_1
"Iya sih, ya udah pilih aja dulu pak. Ada yang baru soalnya. Kali aja mbak Anita suka." ujar karyawan tersebut pada Adnan.