Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Nama Anak


__ADS_3

"Matt?"


Dokter Joe ayah dokter Matt terkejut melihat puteranya keluar dari dalam mobil dengan wajah penuh biru lebam. Ia tau Matt baru saja dipukul seseorang, atau mungkin ia terlibat sebuah perkelahian.


"Kamu kenapa?" tanya dokter Joe khawatir.


Dokter Matt tak menjawab dan hanya memberikan sebuah tatapan. Dalam beberapa saat, dokter Matt sudah duduk di salah satu kursi meja makan dan masih saja terdiam. Sementara sang ayah dokter Joe tampak berdiri di dekat kaca sambil menatap ke arah halaman samping.


"Dua perempuan yang kamu sukai itu, adalah istri dari satu orang yang sama. Harusnya kamu lebih bijak menyikapi perasaan yang timbul di dalam hati. Karena bisa saja itu hanya euforia yang sesaat."


Dokter Joe menenggak minuman yang ada di dalam gelasnya, sambil terus memperhatikan keluar kaca. Sementara dokter Matt masih sama seperti tadi.


"Papa cuma takut terjadi sesuatu terhadap kamu. Papa nggak mau kamu di kecewakan keadaan. Papa membesarkan kamu sendirian dengan penuh perjuangan, Matt. Kamu nggak akan tau gimana rasanya, karena kamu belum punya anak."


Dokter Joe berbalik dan mendekat ke arah dokter Matt.


"Papa nggak masalah kamu mau menikah dengan janda sekalipun. Tapi jangan merusak rumah tangga orang. Kalau memang salah satu dari mereka mencintai kamu, suruh selesaikan dulu urusan dengan suaminya. Kamu cukup menunggu dan jangan melakukan tindakan yang persuasif."


Dokter Matt membuang pandangannya ke suatu sudut. Lalu sang ayah menggenggam tangannya dengan erat.


"Papa tau kamu, Matt. Hati kamu itu rapuh. Papa nggak mau kamu kecewa hanya karena urusan cinta. Karena cinta itu harusnya tidak mengecewakan. Dan lagi kita ini abdi masyarakat. Kita punya tugas yang lebih besar, dari sekedar mengurusi rumah tangga orang yang sedang timpang."


Dokter Matt tetap saja tak mampu memberikan jawaban apa-apa. Sementara sang ayah terus memperhatikannya.


***


Di telpon, siang hari pada jam istirahat kerja.


"Kenapa lo nggak bilang, kalau lo ada perasaan sama Aaron?"


Tari bertanya pada Shanin, usai mendengarkan curahan hati dari gadis itu.


"Gue juga baru menyadari akhir-akhir ini, Tar. Kalau gue punya rasa sama Aaron. Gue selalu nyariin kalau dia nggak menghubungi gue. Gue juga selalu ingat dia, khawatir sama keadaan dia. Tapi gue nggak enak sama Putri. Masa gue kayak pagar makan tanaman." ucap Shanin kemudian.


"Kan Putri udah nggak sama Aaron lagi."


"Ya tetap aja nggak enak, gimana sih lo. Mantan lo misalkan baru putus, putusnya terpaksa lagi. Terus abis itu jadian sama gue. Enak nggak perasaan lo?"


"Iya sih, berat juga kalau di posisi elo."


"Nah makanya. Gue tau Putri mungkin udah mulai cinta sama suaminya. Tapi kan nggak segampang itu dia bisa melupakan Aaron. Secara mereka berpacaran selama bertahun-tahun, hubungan mereka udah jauh. Gue sih lebih menjaga itu aja. Gue nggak mau Putri sakit ngeliat Aaron sama gue. Kalau misalkan Aaron nya juga mau ya. Gue rasa sih dia nggak mau sama gue."


Shanin berkata sambil tertawa, diikuti tawa Tari.


"Kayaknya gue bakalan bertepuk sebelah tangan." lanjutnya lagi.


Kali ini Tari menarik nafas.


"Rumit ya hidup ini. Kadang perasaan itu aneh, kita pengennya kesini, eh malah kesana."


"Itu dia makanya. Ini gue lagi mempelajari dulu tentang perasaan gue. Apa gue ini bener-bener suka sama Aaron, atau cuma simpati aja. Karena dia selalu curhat sama gue belakangan ini."


"Nah iya, itu paling bener sih Sha. Lo pelajari dulu perasaan lo, jangan buru-buru menyatakan cinta. Takutnya salah dan berakhir nggak bener. Terlanjur lo udah menyakiti hati Putri."


"Makanya." jawab Shanin lagi.

__ADS_1


"Lo sendiri gimana nih?" Ia bertanya pada Tari.


"Gimana apanya, Maemunah?"


Tari balik bertanya seraya tertawa. Ia paham jika Shanin menyinggung soal pasangannya, yang sampai saat ini masih abu-abu.


"Pasangan gue mah Jin BTS." seloroh Tari lagi.


"Halu." Shanin meledek sahabatnya itu dan kemudian mereka terkekeh-kekeh.


"Gue sih pengennya dokter Matt, tapi takut lo cemburu." Tari kembali berujar.


"Eh, dokter Matt itu milik bersama ya. Kalau lo maju, gue juga maju." Shanin berujar sambil masih tertawa.


"Maruk lo, Sha. Kan tadi katanya lo suka sama Aaron. Kasihlah dokter Matt ke gue." ujar Tari.


"Oh tidak semudah itu, Ana Maria. Saingan dulu sama gue." Shanin kian terbahak-bahak.


"Baiklah Elif, kita akan bersaing."


Tari membuat tawa mereka seakan tak pernah berhenti.


***


Sore hari di kediaman Putri. Adnan mampir lagi karena sekalian mengantar perempuan itu dan membawakan barang belanjaannya.


Ini kali pertama sebagai suami-istri, ia menemani dan memenuhi segala kebutuhan Putri.


"Nih mas, minum dulu."


"Makasih ya." ujar Adnan kemudian.


"Sama-sama mas."


Adnan kembali diam, jujur masalahnya dengan Anita belum lagi selesai. Tadi dirumah sehabis bertengkar, Anita buru-buru menuju ke kantor dan bahkan meninggalkan Adnan begitu saja.


"Mas hari ini tuh banyakan diem, kayak lagi mikirin sesuatu."


Putri berkata pada sang suami, sementara Adnan kini mengangkat pandangan dan menatap Putri.


"Namanya juga bos dan kepala keluarga, Put. Pikirannya pasti banyak."


Adnan berucap seraya mencoba bercanda. Ia tak ingin Putri terlalu memikirkan kondisinya saat ini. Sebab Putri tengah mengandung anak mereka.


"Iya, tapi jangan terlalu keras ya mas. Mas kan udah umuran, nanti sakit loh kayak tempo hari."


Adnan tertawa kali ini.


"Halus ya bahasanya, padahal simpel aja kalau mau bilang aku tua."


Putri menahan senyum, namun Adnan kemudian mencium pipi dan bibirnya.


"Hei, papa dikatain tua sama mama kamu."


Adnan curhat ke jabang bayi yang ada di kandungan Putri. Kemudian terasa ada yang bergetar di dalam sana.

__ADS_1


"Dia kayaknya ngerespon deh mas." ujar Putri.


"Kenapa, kayak gerak gitu ya?" tanya Adnan.


"Iya, bergetar gitu."


"Dia pasti marah karena papanya di katain."


"Kan mama bicara fakta." Putri membela diri.


Lagi-lagi Adnan tertawa. Ia mencium perut Putri dan mengusapnya beberapa kali.


"Nanti, aku mau kasih dia nama Adril." ucap Adnan pada Putri.


"Adril?"


"Iya, Adnan + Putri, Love forever."


"Hmmph." Putri menahan tawa namun berakhir pecah.


"Hahaha."


"Hahaha."


"Loh kenapa?" tanya Adnan sambil tertawa pula.


"Mas, kamu tua banget. Romantis nya lawas gitu loh. Hahaha."


"Ya nggak apa-apa dong."


"Geli tau nggak aku dengernya, kayak bapak-bapak Facebook. Hahaha."


"Tapi aku ganteng kan?"


"Iya untung ganteng, alaynya ketolong." jawab Putri.


Adnan ikut tertawa kali ini.


"Kalau nggak nanti namanya Adrian. Adnan + Putri + Atas Nama cinta."


"Hahaha."


"Hahaha."


"Haduh, masih nikah sama bapak-bapak." ucap Putri.


"Kenapa sih, kan bagus?"


Adnan makin menjadi-jadi. Ia tau Putri sewot dengan kealayannya kali ini. Namun ia suka melihat Putri seperti itu.


"Iya kan sayang?" Adnan bertanya pada anaknya di dalam.


"Tuh dia aja suka." ujarnya membela diri.


Sementara Putri masih saja tertawa geli.

__ADS_1


__ADS_2