
Putri meninggalkan kamar Aaron, ia keluar lalu langsung dihampiri oleh ibu dan tante Aaron. Putri menangis di pelukan wanita itu.
"Putri, sudah ya. Mami minta maaf kalau sikap Aaron ke kamu, bikin kamu jadi nggak enak hati. Nanti mami, papi, dan lainnya akan coba ngomong lagi ya sama Aaron."
Putri mengangguk, namun ia masih menangis. Ibu Aaron pun makin erat memeluk perempuan muda itu.
***
"Aaron tuh bener-bener pengen gue getok palanya." ujar Shanin dengan nada kesal.
"Nggak dewasa banget sih dia." timpal Tari.
"Emang, kesel gue lama-lama."
Shanin kembali berujar, sedang kini Putri memakan es campur yang dibelikan Shanin banyak-banyak.
"Lo puyeng, Put?" tanya Tari.
"Banget." ujar Putri seraya terus makan.
"Tapi kayaknya udah berkurang deh, abis ini gue mau makan lagi." lanjut perempuan itu.
"Jangan es lagi, apalagi es manis. Gede di dalem ntar itu bayi." seloroh Shanin.
"Biarin aja, paling gue suruh olahraga didalam sebelum dia lahir. Biar langsing dan nggak susah keluar."
Putri masih saja sewot, sementara Shanin dan Tari kini kompak menahan tawa.
"Gue suka cara lo sekarang ngadepin masalah." ujar Tari.
"Iya, udah nggak mewek mulu kayak waktu itu." timpal Shanin.
"Tadi mewek gue, waktu ketemu Aaron. Tapi capek mewek mulu. Sekarang mendingan gue makan, sebab dunia nggak akan selesai-selesai kalau di tangisin terus-menerus. Ada aja masalah, kayak tai emang."
Lagi-lagi Shanin dan Tari tertawa.
"Ya udah, drakoran aja yuk abis ini." usul Shanin.
"Mau, mau, mau." Tari antusias.
"Ya udah, boleh." ujar Putri.
"Mau nambah makanan lagi nggak lo?" tanya Shanin.
"Mmm, mau. Pengen pizza gue, sama spaghetti." jawab Putri.
"Ya udah gue orderin." ujar Tari kemudian.
Putri lanjut menghabiskan es campur. Shanin membuka laptop dan mencari drama Korea. Sementara Tari memesan pizza delivery.
***
"Lo sadar nggak sih, akhir-akhir ini si Putri jadi kayak selalu diandalkan sama pak Adnan."
Sebuah grup WhatsApp yang terdiri dari orang-orang kantor Putri, namun Putri sendiri tidak diikutsertakan. Kini tampak tengah membicarakan perempuan itu.
__ADS_1
Mereka terdiri dari empat sampai enam orang, yang memang sudah terkenal sebagai lambe turah kantor. Mereka tak begitu jauh dari Putri, namun juga tak begitu dekat. Putri hanya dekat dengan satu atau dua orang di kantor tersebut. Untuk para lambe turah itu ia hanya sekedar kenal, sebatas urusan kantor.
"Iya, kayaknya keluar masuk mulu dari ruangan pak Adnan." Salah satu dari mereka membalas.
"Jangan-jangan, ada batang di dalam lubang nih." celetuk yang lainnya lagi.
"Di semprot dong." balas anggota grup yang diam sejak tadi.
"Wkwkwkwk."
"Wkwkwkwk."
"Hahahaha."
"Parah."
Mereka semua tertawa-tawa dan terus mengetik balasan.
"Dari awal pak Adnan itu masuk dan jadi bos kita, sikapnya udah mencurigakan. Tiba-tiba ada office girl yang kasih Putri makanan, terus kita juga dikasih abis itu. Curiga nggak sih, itu semua dari pak Adnan buat Putri."
"Mmm, ia juga ya say kalau di pikir-pikir."
"Eke pernah mergokin dia berdua lagi ngobrol di area lobi belakang yang sepi. Mereka kayaknya serius banget."
"Gue sih curiga mereka ada apa-apa."
"Pak Adnan itu bukannya punya istri ya?"
"Iya ada, si Putri mau jadi pelakor kali."
"Ya kalau nggak bersyukur mah, kurang terus say. Kalau gue ya, mendingan sama cowok gue yang single ketimbang laki orang."
"Pesona laki orang emang beda say, apalagi laki orangnya kayak pak Adnan."
"Wkwkwkwk."
"Gue juga mau kalau di semprot pak Adnan secara cuma-cuma."
"Lontus ya say mode nya."
"Wkwkkwk, jarang dibelai say."
Keempat orang tersebut terus saja memenuhi grup dengan segala prasangka. Merek sangat menikmati membuang-buang waktu dengan cara seperti itu. Meskipun apa yang mereka bicarakan belum tentu kebenarannya.
***
Dokter Matt senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan sebuah gelang tali di pergelangan tangannya.
"Gelang dari siapa?" Tiba-tiba sang ayah muncul dan langsung bertanya pada dokter Matt.
"Eh, pa, papa." Dokter Matt terlihat salah tingkah.
"Papa belum pernah liat kamu seneng banget kayak gini, dari jalan sama siapa tadi?" tanya ayahnya lagi.
"Mmm, nggak sama siapa-siapa koq pa. Tadi Matt..."
__ADS_1
Dokter Matt menarik nafas dan menjeda ucapannya. Sementara sang ayah masih menunggu kelanjutan dari perkataan anaknya itu.
"Matt tadi nemenin Putri." tukasnya.
Dokter Joe tersenyum.
"Si pasien hamil itu?"
"A, iya." jawab dokter Matt kemudian.
"Bisa papa tebak, pasti perjalananya sangat menyenangkan. Sebab kamu senyum-senyum sendiri dari tadi."
Pipi dokter Matt mendadak bersemu merah, hal tersebut terlihat jelas sebab ia memiliki kulit yang putih dan bersih.
"Nggak koq pa, biasa aja." ujarnya berkilah.
Lagi-lagi dokter Joe tersenyum, namun kali ini sedikit agak ditahan olehnya. Sebab ia takut puteranya itu lebih salah tingkah lagi dan merasa tidak nyaman.
Seumur hidup dokter Matt belum pernah terlihat dengan wanita manapun. Ia nakal di sekolah, namun cuek jika ada perempuan yang kecentilan ingin mendekatinya.
Tetapi kali ini, ia seperti sedang menyenangi sesuatu atau bahkan seseorang. Dan dokter Joe curiga terhadap Putri.
***
Flashback.
Sebelum bertemu dengan Shanin dan juga Tari. Putri yang masih sedih lantaran baru saja menemui Aaron tersebut, meminta supir taxi online menurunkannya di suatu tempat.
Supir taxi online itu awalnya bertanya, mau kemana Putri. Sebab Putri yang masih menangis itu meminta stop, jauh sebelum titik pemberhentian dalam orderan.
Supir tersebut takut, jika Putri akan kenapa-kenapa. Sebab ia tak tahu permasalahan apa yang tengah dihadapi perempuan itu. Bisa saja ia nekat bunuh diri, pikirnya.
Namun setelah Puteri berhasil meyakinkan sang supir, supir tersebut pun akhirnya melepas Putri. Putri melangkah tak tentu arah, sampai kemudian ia berhenti di suatu titik. Dokter Matt yang kebetulan juga ada di tempat itu secara tak sengaja melihat Putri.
"Mbak."
Dokter Matt menghampiri Putri, sebab wanita itu berdiri dengan tatapan yang kosong.
"Mbak Putri. Mbak kenapa, mbak?. Kesini sama siapa?" tanya dokter Matt khawatir.
"Ikut saya dok...!" pinta Putri dengan mata yang terus tertuju ke depan.
"Iya tapi mau kemana mbak?"
Putri menarik lengan dokter Matt dan berjalan cepat. Hingga dokter Matt pun terpaksa harus membenarkan kacamatanya yang mendadak turun.
"Mbak ini kita mau kemana?. Sudah dua kali loh mbak Putri narik saya kayak gini. Mbak Putri ada masalah apa lagi, dan kenapa nangis?"
Dokter Matt menghujani Putri dengan berbagai pertanyaan, namun Putri terus menarik pria tampan itu tanpa berkata sepatah pun. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah warung bakso.
"Saya mau makan bakso, dok." ujar Putri seraya menyeka air matanya.
"Bakso?"
"Iya, ayo...!"
__ADS_1
Putri kembali menarik dokter Matt, dan pria itupun tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Putri.