Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Hari Ini


__ADS_3

Pagi-pagi, sekitar pukul 07:49. Di sebuah minimarket plus, yang di luarnya terdapat kursi dan meja untuk duduk sambil ngopi.


"Lo bilang ke Anita?"


Tristan yang tengah berdiri seolah mencerca Adnan. Adnan sendiri terduduk diam dengan kedua siku tangan tertumpu pada meja. sedang jari-jemarinya ia kepal dan sedikit menempel di bibir.


Adnan memejamkan mata sambil mengangguk. Membuat Tristan menjadi tak habis pikir.


"Ad, lo nyakitin dia." ujar Tristan.


"Gue nggak sanggup untuk terus berbohong, Tris. Gue lebih jahat kalau gue pura-pura nggak ada apa-apa terhadap Putri. Apalagi berpura-pura kalau pernikahan ini nggak dilandasi oleh rasa." jawab Adnan.


"Gue tersiksa dengan kebohongan itu. Dan kalau gue terus bohong, suatu saat gue pasti ketahuan. Di saat itu Anita akan lebih sakit." lanjutnya kemudian.


Tristan menghela nafas panjang, sahabat Adnan itu membuang tatapannya ke suatu sudut.


"Tapi Anita sendiri gimana?" tanya nya lagi.


"Dia menerima, walaupun gue tau dia pasti sakit dan hancur. Karena gue bohong pun percuma. Gue hidup bertahun-tahun sama dia, dia tau siapa gue. Jujur atau nggaknya gue sama dia."


Tristan kembali menghela nafas, kali ini sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Meski masih merasa jika Adnan begitu kejam, namun ia paham akan maksud dari sahabatnya itu. Akan lebih sakit jika Anita mengetahui perkara ini nanti-nanti.


"Selanjutnya apa yang bakal lo lakukan?" lagi-lagi Tristan melontarkan pertanyaan.


"Gue belum tau, kedepannya harus gimana." jawab Adnan.


"Yang jelas gue mau mencoba berlaku adil terhadap keduanya. Walau mungkin ujungnya Putri akan kembali pada Aaron. Dia udah gue tiduri dan saat ini lagi hamil anak gue. Dia butuh perhatian lebih. Sementara Anita juga lagi terluka karena semua ini. Dia juga butuh kasih sayang lebih."


Tristan diam.


"Gue bingung, Ad. Mungkin gue cuma bisa bilang, lo pasti bisa menghadapi semua ini. Sebab gue nggak pernah punya istri dua. Gue nggak tau gimana cara menghandle permasalahan kayak gitu." ujarnya kemudian.


Adnan mengangguk. Dalam hatinya ia pun berharap demikian. Bahwa Rumah tangganya dengan Anita maupun Putri akan baik-baik saja.


***


"Put, kamu baik-baik aja kan?"


Tiba-tiba Aaron mengirim pesan singkat pada Putri.


"Iya baik, kamu gimana?" Putri membalas pesan tersebut dengan hati yang remuk redam.

__ADS_1


"Dia memperlakukan kamu dengan wajar kan?" lagi-lagi Aaron bertanya.


Putri tau siapa yang dimaksud Aaron dengan "Dia". Dia itu merujuk pada Adnan, yang merupakan sosok suami Putri saat ini.


Aaron mungkin hendak mempertanyakan, apakah Putri dan Adnan melakukan hubungan suami-istri atau tidak. Namun Aaron tak enak untuk memberi pertanyaan secara gamblang.


"Iya, dia memperlakukan aku dengan wajar." jawab Putri.


Padahal matanya tertuju pada sebuah meja sudut, dimana Adnan membuka kedua kakinya lebar-lebar dan memasukan miliknya ke rahim Putri.


Lalu seperti lupa akan segalanya, Putri mendesah-desah penuh kenikmatan. Sambil meneriakkan nama Adnan dan mencium bibir pria itu berkali-kali. Putri benar-benar merasa bersalah kali ini, namun nasi sudah menjadi bubur.


"Ya udah kalau kayak gitu. Aku cuma memastikan aja." jawab Aaron.


Putri diam, sebab ia bingung harus berkata apa lagi selanjutnya.


***


"Matt."


Dokter Joe yang baru selesai dinas malam, bertanya pada puteranya, dokter Matthew yang tengah duduk di meja makan.


"Kata bibik, kamu pulang pagi dan mabuk." lanjutnya kemudian.


Matt hanya diam mendengar pertanyaan dari ayahnya tersebut. Sementara dokter Joe kini duduk di hadapan dokter Matt, untuk sarapan. Sebelum nanti ia pergi mandi dan beristirahat.


"Papa tau kamu kecewa, karena perempuan yang kamu sukai menikah dengan pria lain."


Dokter Joe mulai mengambil dua potong roti dan meletakkan ke atas piringnya.


"Kamu kan sejak awal ketemu Putri sebagai pasien kamu. Kamu tau keadaan dia, tersandung kasus dan hamil anaknya Adnan. Dengan mengambil keputusan untuk mencintai dia, kamu sudah mengambil resiko untuk kecewa dan sakit hati."


Matt menghentikan makan, lalu meraih segelas air putih dan meminumnya. Ia kini makin diam dan terpaku dihadapan sang ayah. Matanya menunduk tanpa berani menatap mata pria itu.


"Kali ini papa maklumi kamu, tapi lain kali jangan terulang lagi. Jangan mengemudi di bawah pengaruh alkohol. Nggak bener." ujar dokter Joe seraya menatap sang putera. Sementara yang ditatap seperti sudah terkunci bibirnya.


"Resikonya kamu bisa kecelakaan, paling buruk meninggal karena kecelakaan itu. Iya kalau meninggal, kalau hidup tapi cacat?. Atau kamu nggak sengaja nabrak orang, bisa dipidana kamu karena kelalaian."


Dokter Matt menghela nafas, ia masih belum berani menatap mata ayahnya itu.


"Denger nggak kamu?"

__ADS_1


"Iya, pa." jawab dokter Matt kemudian.


***


Di kantor Adnan, sekitar pukul 10:00 pagi.


Para biang gosip tak menemukan Putri hari ini. Namun karena mereka adalah ahli dalam bergunjing. Ada tak ada target di depan mata, mereka selalu bisa membuka topik untuk membicarakan orang tersebut.


Sebab bergosip adalah sebuah penyakit hati yang cukup parah. Sekalinya menjadi hamba gosip, akan sangat sulit untuk keluar dari perangkap.


Gosip sama seperti candu yang begitu nikmat. Sekalinya kena, kita ingin lagi dan lagi. Sampai semua dosa bertumpuk dan sulit terhapuskan.


"Eh, dese nggak ngantor?" tanya salah seorang dari mereka, sambil berbicara berbisik-bisik dengan yang lainnya.


"Jadwal periksa kandungan kali say." celetuk yang lainnya lagi dengan sotoynya.


"Atau kalau nggak, abis di tancap pak bos kali semalem. Lelah ceritanya, padahal mah keenakan." Yang lainnya berujar lebih jahat lagi.


Tak lama Adnan pun melintas.


"Pak, Putri nggak masuk?" tanya salah seorang dari mereka.


"A, iya. Putri sakit." jawab Adnan lalu berjalan masuk ke ruangannya.


"Putri sakit, koq dia yang tau ya?"


Biang gosip yang tadi bertanya pada Adnan, berkata pada teman-temannya. Mereka semua tersenyum penuh maksud.


"Harusnya yang tau bagian perizinan dong. Kenapa langsung bos yang tau." celetuk salah satu dari mereka.


"Positif thinking say, mungkin bos barusan di kasih tau sama pihak perizinan."


Nada bicara salah satu dari mereka tersebut, mengundang senyum jahat dari para member lain.


"Ya kali bos tau itu sepagi ini. Abis bobo bareng kali semalem." ujar yang lainnya lagi.


Mereka semua tertawa, namun dengan suara yang sengaja di tahan. Sebab takut ketahuan Adnan.


"Udah, udah. Kerja say, kita harus cari duit. Nggak ada bos yang memelihara kita. Jadi nggak ada yang kasih kita duit setiap bulan."


"Hihihi, bener banget."

__ADS_1


Mereka kembali ke meja masing-masing sambil masih tertawa-tawa. Sementara Sita, Lusi dan Firman saling bersitatap satu sama lain dari tempat dimana mereka duduk.


__ADS_2