Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
122


__ADS_3

"Makasih ya, Darr." ujar Mikha setelah pipinya tak lagi basah.


"Sama-sama kak." jawab Darren.


"Kalau kamu kenapa?. Mama sama papa kamu berantem juga dirumah?" tanya Mikha seraya menatap wajah Darren.


"Nggak sih, kak."


Darren menjatuhkan pandangannya jauh ke depan, lalu menghela nafas panjang.


"Kakak kan tau, mama sama papa Darren itu jarang berantem. Hampir nggak pernah malah. Tapi ya gitu, biasa penyakit lama. Kayak yang sering Darren ceritain ke kakak, mereka terlalu sibuk. Sampai-sampai waktu buat Darren itu nggak ada.


Mikha memperhatikan Darren.


"Dari kecil Darren diasuh sama bibi yang kerja dirumah. Darren pikir semakin Darren besar, mereka akan semakin menyadari keberadaan Darren. Tapi nyatanya mereka malah semakin sibuk, seolah Darren ini nggak penting. Darren juga pengen di perhatikan dan diajak ngobrol secara intens dan intim sama kedua orang tua Darren. Banyak hal yang kadang ingin Darren ceritakan ke mereka, tapi terbentur masalah waktu dan pekerjaan mereka."


Mikha lalu menggenggam tangan Darren, ada perasaan hangat yang tiba-tiba menjalar.


"Sabar ya Darr, Kita sama koq. Sama-sama kurang perhatian dan kasih sayang orang tua, mereka cuma mikirin diri mereka sendiri. Mereka nggak pernah menyadari kalau kita juga punya mata, telinga, hati, perasaan. Mereka nggak pernah tau kalau kita juga bisa terluka atas sikap mereka terhadap kita."


Darren membalas genggaman tangan itu, dan perasaan keduanya pun kian bertambah hangat.


***


***


"Iya kak. Oh iya, kakak udah dikasih tau pak Andrew belum soal Olimpiade matematika dan fisika?"


Darren mengalihkan topik pembicaraan, agar suasana tidak bertambah sedih. Ia tidak ingin lagi menceritakan perihal kedua orang tuanya. Sebab apabila diceritakan, yang muncul hanyalah perasaan sedih, marah, dan juga benci.


"Belum, emang pak Andrew bilang apa?"


"Katanya sih salah satu perwakilannya untuk fisika itu, aku sama kakak. Kita dipasangkan."


"Oh ya?" Mikha nyaris tak percaya.


"Iya, dan kita cuma punya waktu kurang lebih tiga bulan doang."


"Waduh kenapa pak Andrew baru bilang sekarang, ya. Waktu tiga bulan itu mepet banget loh, mana kakak mau ujian nasional juga lagi. Mesti belajar juga untuk itu. Sekolah ini emang kadang-kadang ya, suka mendadak kalau ada apa-apa."


"Darren juga nggak ngerti kak. Mungkin selama beberapa bulan ini, mereka menyeleksi kita dengan melihat hasil belajar kita dulu. Dan baru dapat hasil keputusannya sekarang."


"Bisa jadi sih. Tapi itu berarti kita harus belajar dengan giat, waktu kita mepet soalnya."

__ADS_1


Darren mengangguk.


"Kita belajar sama-sama seperti biasa."


Mikha tersenyum, begitupun dengan Darren


"Abis ini kamu mau kemana?" tanya Mikha kemudian.


"Nggak tau juga kak, mau pulang males. Kalau kakak sendiri?"


"Kakak juga nggak tau mesti kemana ini, balik juga palingan mereka masih bertengkar. Nggak ada capeknya. Kadang saking gregetannya, kakak tuh pengen mereka cerai. Kelar kan semuanya?"


"Loh koq gitu?" tanya Darren heran.


"Ya, buat apa. Berumah tangga cuma buat berdebat doang, tiap hari debat. Pagi, siang , sore, malem. Nggak secara live, di handphone. Di sms juga berantem, capek kakak liatnya. Ada gitu, orang yang mau menjalani neraka rumah tangga kayak gitu. Kalau kakak mah mending cerai daripada begitu."


Darren menarik nafas, ucapan Mikha ada benarnya.


"Iya juga sih kak, kalau papa sama mama Darren mah terlalu kompak. Kompak buat membangun bisnis, tapi lupa sama anak. Apa Darren cerai aja sama mereka berdua?"


Kali ini Darren mengeluarkan pernyataan yang membuat Mikha tertawa. Ia sengaja melucu demi agar gadis itu tersenyum dan menyudahi kesedihannya.


Dan itu cukup berhasil meski sedikit garing. Ia berhasil membuat Mikha akhirnya terlihat sedikit bahagia, ditengah kegalauan hati yang melanda mereka.


"Kita cari sarapan aja yuk, gimana?"


"Boleh, aku juga belum sarapan. Tadi dirumah males. Jangan kan sarapan, denger suara mereka berantem aja udah bikin kenyang duluan."


"Hahaha."


Keduanya lalu tertawa.


"Mau makan dimana nih?" tanya Darren kemudian.


"Ya jangan tanya aku lah, kamu sendiri mau makan apa?"


"Cewek emang selalu gitu, ya."


"Maksudnya?"


"Iya, diajak makan aja susah nentuin mau makan apa dan dimana."


Mikha kembali tertawa.

__ADS_1


"Nggak gitu, oke deh aku yang tentukan ya."


"Ok."


"Gimana kalau di abah nasi uduk yang deket sekolah kita?"


"Wah boleh juga tuh, tapi emang abah buka? Kita kan pada libur sekolah."


"Abah mah buka tiap hari."


"Oh ya?"


"Ya, iya. Kalau ngandelin anak sekolah doang mah, terbentur libur. Terus mereka nggak makan masa?. Kalau nggak jualan kan gimana bisa dapet duit."


"Iya juga ya, koq aku nggak kepikiran sih."


"Kamu kan emang bodoh."


"Hahaha enak aja, aku juara umum ya."


"Kan nggak menjamin analisa nya panjang."


"Buuuk."


Kali ini Darren memukul kepala Mikha, namun dengan pukulan yang bahkan nyaris tak bertenaga. Hanya sebuah peringatan untuk perempuan nakal yang mengatainya bodoh.


"Kurang ajar ya kamu dek, sama kakak."


Lagi-lagi dan lagi mereka tertawa. Agaknya kedua remaja itu sudah mulai melupakan permasalahan rumah, yang tengah mereka hadapi.


"Ya udah ah, jalan sekarang yuk. Ntar nasi uduknya abis lagi." ajak Mikha kemudian.


Darren pun beranjak, begitu juga dengan Mikha. Mereka sama-sama masuk ke mobil masing-masing. Sesaat kemudian, keduanya pun meninggalkan tempat itu dan menuju ke tempat dimana mereka ingin pergi.


Hari itu berlalu dengan penuh kegembiraan. Meskipun tatkala ingat akan keadaan rumah, mereka akan sedikit merasa sedih. Namun mereka segera menepisnya, karena rasa bahagia itu mahal bagi mereka. Maka mereka tak ingin menodainya barang sedetik pun.


Usai sarapan, Darren pergi kerumah Reno dan menumpang mandi disana. Kebetulan ia membawa pakaian di mobilnya.


Sementara Mikha masih menemani pemuda itu dan mengobrol bersama Reno. Seharian itu mereka habiskan dengan mencari buku-buku bacaan, di salah satu toko buku terbesar di kota itu.


Darren dan Mikha memang suka membaca dan membahas apapun. Mereka juga dikelilingi teman-teman yang gemar menghabiskan waktu dengan buku.


Hingga malam mulai beranjak naik, keduanya berpisah dan kembali ke rumah masing-masing. Mereka kembali di saat jam orang tua mereka belum kembali dari kerja. Mereka tak ingin berhadapan ataupun bertegur sapa dengan kedua orang tua mereka tersebut.

__ADS_1


Sesampainya dirumah, keduanya langsung mandi dan tidur dengan earphone yang disambungkan ke pemutar lagu. Mendengarkan musik sleep song dengan volume yang keras.


Esok harinya mereka bangun di pagi-pagi sekali agar bisa berangkat lebih awal, dan menghindari melihat hal negatif yang biasanya terjadi setiap pagi dirumah mereka. Seperti pertengkaran dan perdebatan. Begitulah kehidupan mereka berlangsung setiap hari.


__ADS_2