Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
121


__ADS_3

Usai membersihkan diri, Xander memakai kembali pakaiannya. Saat itu ia melihat Larina yang juga sudah memakai pakaiannya. Namun perempuan itu tampak terdiam dan menangis di sofa.


Xander mendekat lalu duduk disisinya dan membelai kepala Larina dengan lembut.


"Rin, terima aku. Semua akan baik-baik aja." ujarnya penuh meyakinkan.


Larina tak memberikan jawaban.


"Aku akan menikahi kamu. Bahkan sebelum anak ini ada di rahim kamu." ujar Xander lagi.


Larina makin terisak. Cintanya pada Kenzo memang sulit untuk ditawar. Kenzo pria yang baik dan lembut. Tetapi benih Xander kini ada di rahimnya dan Xander memiliki video atas percintaan mereka tadi.


Jika ia mencoba menggagalkan semua ini, bisa jadi Xander akan melakukan apa yang tadi telah ia katakan.


"Udah jangan nangis lagi."


Xander mencium kening wanita itu dan Larina tak memberikan perlawanan apa-apa. Bukan karena ia menyukai Xander, tapi melawan pun untuk apa. Xander telah berhasil meniduri dirinya lagi dan ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Kamu makan dulu ya." ujar Xander.


Larina menggelengkan kepala.


"Kamu belum makan dari tadi kan?" ujar pria itu lagi.


Larina lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


"Aku suapin."


"Saya mau pulang pak." ujar Larina.


"Aku anterin."


"Nggak usah."


Larina beranjak, lalu mengambil tas dan handphone yang masih terletak di atas meja kerja. Xander keluar dan mengikuti wanita itu.


"Aku antar kamu pulang, jangan membantah lagi!"


Larina benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Ia seperti kehilangan daya apabila berada di dekat Xander. Ia turun bersama pria itu, kemudian Xander mengantarnya pulang sampai ke apartemen.


"Kamu tinggal disini?" tanya Xander ketika telah tiba di muka apartemen perempuan itu.

__ADS_1


Larina mengangguk perlahan.


"Kamu bisa tinggal di apartemen aku kalau mau. Kita bisa tinggal bersama."


Lagi-lagi Larina membeku, namun kemudian dirinya beranjak keluar dari mobil. Xander memperhatikan perempuan itu hingga ia menghilang di balik pintu lobi.


Tak lama pria tersebut mulai menekan kembali pedal gas mobilnya dan bergerak meninggalkan lobi apartemen tersebut.


Larina naik ke atas unit yang disewanya dengan perasaan gamang. Tak lama Kenzo mengirim pesan singkat melalui WhatsApp.


"Sayang kamu udah pulang?. Boleh telpon sebentar?"


Batin Larina seperti di acak-acak, dan dibuat berantakan. Kepala perempuan itu mendadak sakit dan berdenyut-denyut. Ia benar-benar tak tau harus berbuat apa saat ini.


Ia diamkan saja pesan tersebut. Toh Paling Kenzo mengira dirinya sudah tidur. Besok jika perasaanya lebih baik, ia akan membalas pesan dari kekasihnya itu.


Larina merasa semakin kotor saat ini. Tak pantas Kenzo mendapatkan perempuan yang tidak bisa menjaga kehormatan seperti dirinya.


Tetapi ia juga tak siap jika harus berpisah, lantaran ia sangat mencintai kekasihnya tersebut.


***


Seorang pria yang tiada lain adalah Ray Wira Atmaja, yakni ayah dari Xander menegur puteranya itu. Xander sendiri memang tumben-tumbenan pulang ke rumah sang ayah.


Biasanya ia sangat betah di kediamannya sendiri dan jarang pulang. Kalaupun pulang haruslah di minta terlebih dahulu.


Wira begitulah sang ayah memanggilnya. Karena itu nama tengah sekaligus nama kecil Xander, yang juga merupakan nama tengah sang ayah.


"Wira disini dulu ya pa. Soalnya besok kan peringatan hari kepergian mama." ucap Xander.


Ray pun baru teringat jika besok adalah tanggal dimana sang istri pergi untuk selama-lamanya.


"Iya, kamu istirahat dulu sana. Makan dulu!" ujar sang ayah.


Xander mengangguk lalu naik ke atas dan menuju ke kamar pribadinya. Kamar itu selalu dibersihkan oleh pembantu yang bekerja disana. Agar jika Xander pulang, ia bisa langsung menempati.


***


Larina membiarkan dirinya berada di bawah terpaan shower. Rasa hangat dan nikmat masih jelas berdenyut-denyut di dalam rahim perempuan itu.


Ada semacam perasaan suka dan aneh, ketika mengingat benda tumpul milik Xander keluar masuk dari dalam liang miliknya.

__ADS_1


Sungguh nikmat namun sangat membawa luka. Seperti sebuah siksaan batin yang bercampur rasa bahagia. Tetapi juga sedih di saat yang bersamaan.


Larina mengencangkan laju air yang keluar dari shower. Ia benar-benar ingin menepis segala ingatan tentang hal tadi.


Namun rasa berdenyut-denyut di dalam rahim wanita itu semakin kuat. Bahkan kedutannya terasa sampai ke area vital yang kini basah oleh air.


"Jangan coba ditekan atau di urut-urut biar keluar. Awas kalau sampai berusaha menggagalkan lagi!"


Baru saja Larina hendak melakukan hal tersebut. Namun keburu mendapatkan pesan seperti itu dari Xander.


Larina merasa Xander seperti seorangĀ  psikopat atas rahim yang ia miliki. Ia dan sel telurnya seperti telah di klaim oleh pria itu. Benar-benar membuat Larina ingin berteriak rasanya.


Larina pun tak jadi melakukan apa-apa dan akhirnya memutuskan untuk pergi tidur. Disepanjang malam ia bermimpi perutnya tiba-tiba membesar. Lalu ada Xander yang terlihat begitu bahagia.


Xander menjaganya dengan baik dan menuruti segala keinginan. Pria itu bahkan selalu memeluk dan mengawasi Larina kemanapun ia pergi.


"Mas, kenapa sih ngeliatin aku terus?" tanya nya dalam sebuah adegan di mimpi tersebut.


"Cantik." jawab Xander seraya mendekat.


Ia mencium bibir Larina seraya tangannya memegang perut buncit wanita itu.


"Dia nggak nakal kan?" tanya Xander kemudian.


Larina tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Larina terbangun, ia menyadari hal tersebut hanyalah mimpi belaka.


Namun perasan yang ditinggalkan benar-benar nyata. Ada semacam rasa bahagia yang ia rasakan kini. Dan Larina berusaha menepis semua itu dengan beralih mengingat Kenzo.


Tetapi hatinya kembali kepada perasaan yang muncul di dalam mimpi. Larina kemudian melirik jam, dan ternyata sudah pukul setengah lima pagi.


Segera saja ia beranjak untuk membereskan tempat, lalu berencana pergi mandi. Sementara di kediaman sang ayah, Xander juga terbangun di jam yang sama.


Tampak pria itu diam, lalu bangun dan beranjak. Ia melirik sebuah foto yang ia letakkan di meja samping tempat tidur. Foto itu adalah foto dirinya bersama sang ibu dan ayah. Diambil ketika ia masih berumur 7 tahun.


"Maafkan mama, Wira. Mama harus pergi secepat ini. Mama berharap mama bisa hidup lama. Mama ia ingin lihat Wira lulus SMP, SMA, kuliah, bekerja dan menikah. Mama ingin lihat wajah anak Wira nanti. Mama ingin gendong dia."


Sekilas ingatan tentang sang ibu melintas begitu saja di benak Xander. Ia memang tak mengeluarkan ekspresi apa-apa. Tetapi tak dapat dipungkiri jika hatinya terluka.


Ia sedih mengingat semua itu dan kemudian ia pun benar-benar beranjak. Ia pergi ke bawah untuk mendapatkan air minum dan kopi paginya.


Sesaat setelah itu ia kembali ke kamar, lalu membuka laptop. Ia mengerjakan tugas kantor, sebelum akhirnya ia mandi dan berpakaian.

__ADS_1


__ADS_2