
Di kediaman orang tua Adnan, Putri disambut dengan baik oleh keluarga suaminya tersebut. Belum pernah sekalipun Adnan tiba bersama istrinya, kemudian di perlakukan dengan begitu ramah.
Tetapi hari ini ia mendapatkan itu semua bersama Putri. Apakah Adnan senang, tentu saja tidak. Meski saat ini Putri tengah mengandung anaknya, namun ia miris dengan kebaikan keluarganya yang terkesan pilih-pilih.
Mereka hanya bersikap baik pada orang yang dianggap mampu menyenangkan hati mereka. Mampu memberikan apa yang mereka inginkan. Yang mereka pikirkan hanyalah keuntungan bagi mereka semata.
"Ayo Putri, sini!."
Ibu Adnan menggandeng lengan Putri, sambil tak henti-hentinya tersenyum.
"Nah ini adalah kakak-kakaknya Adnan bersama pasangan mereka masing-masing."
Ibu Adnan mulai memperkenalkan saudara-saudara Adnan pada Putri satu persatu. Kakak-kakak Adnan, selain satu yang pro terhadap Anita. Sama menjijikkannya dengan sikap sang ibu.
Mereka terlihat begitu ramah terhadap Putri, sementara selama ini mereka sering membully Anita.
"Mereka ini punya anak, masing-masing ada yang dua dan ada yang tiga. Tapi tidak diajak, karena riweh kalau semuanya kumpul. Masih ada yang kecil-kecil." ujar ibu Adnan pada Putri.
"Iya bu." jawab perempuan itu.
Sebab ia bingung harus berkata apa lagi. Itulah jawaban yang sejak tadi keluar dari bibirnya, setiap kali ibu Adnan menjelaskan sesuatu.
"Ayo kita langsung makan saja."
Ibu Adnan mengajak semuanya ke meja makan, usai berbasa-basi. Adnan sejak tadi lebih banyak diam, dan hanya berbicara jika ditanya saja.
"Putri, kamu suka apa. Pilih saja sesuka hati kamu, ibu sudah masak ini semua khusus untuk kamu." ujar ibu Adnan pada Putri.
Putri yang merasa keluarga suaminya tampak berlebihan itu hanya mengangguk saja dan berusaha tersenyum.
Sementara di sebuah restoran, dokter Matt serta Anita terlihat baru tiba dan duduk pada sebuah kursi serta meja yang ada di sudut.
Cahaya remang dari lampu restoran menambah syahdunya suasana. Membuat hati Anita damai sekaligus miris di waktu yang bersamaan. Betapa tidak, dalam suasana yang sedemikian romantis. Ia bukan bersama dengan Adnan, melainkan bersama dokter Matt yang bukan merupakan pasangannya.
"Selamat malam, silahkan ini menu nya."
Seorang pelayan mendekat dan memberikan menu pada mereka berdua. Dokter Matt dan Anita lalu melihat-lihat makanan yang ada di sana.
__ADS_1
Jujur keduanya tak ada gairah sama sekali. Meski sejatinya menu yang tersedia dilengkapi gambar, yang mungkin menggoda bagi orang yang sedang tidak memiliki masalah. Namun seperti kata dokter Matt, mereka harus makan. Sebab tubuh sangat membutuhkan asupan energi.
"Jangan sampai tubuh kita dikuasi pikiran."
Dokter Matt sempat berkata seperti itu tadi di mobil, saat perjalanan menuju ke restoran ini. Karena sempat Anita mengatakan jika ia berubah pikiran dan benar-benar tak ingin makan sama sekali.
***
"Nanti melahirkan normal saja, Putri."
Ibu Adnan mulai masuk ke mode ingin mengatur. Saat ini acara makan telah selesai dan mereka semua beralih ke ruang keluarga.
Adnan masih sama seperti tadi, lebih banyak diam dan menunjukkan sikap yang tak begitu bersahabat. Sedang Putri hanya mengikuti alur saja. Ia berusaha menanggapi umpan balik yang dilempar ibu maupun saudara Adnan. Sebab ia tak mengenal keluarga itu sebelumnya.
"Betul, Put. Kalau caecar nanti nggak bisa punya banyak anak." celetuk salah seorang kakak Adnan yang perempuan.
"Ini tubuh Putri, terserah dia mau melahirkan dengan cara apa. Yang berhak mengatur tubuhnya, cuma dia."
Adnan membuat seisi ruangan itu tersentak dan mendadak terdiam.
"Tapi bener loh Adnan, yang dibilang ibu. Salahnya dimana coba, mertua menginginkan menantunya melahirkan normal."
"Salahnya dimana?" tanya Adnan dengan nada setengah marah.
"Ya jelas salah lah, jangan selalu berlindung dibalik kata nasehat, harapan dan lain-lain. Itu sudah merupakan sebuah bentuk pemaksaan dan ikut campur. Ini tubuh Putri, terserah dia mau melahirkan dengan cara seperti apa. Dengan menjadi istri saya, dia tidak harus tunduk kepada kalian. Dia istri saya, bukan istri kalian. Tugas dia hanya sebatas menghormati dan tidak kurang ajar terhadap kalian semua. Sisanya adalah urusan rumah tangga kami."
"Memangnya kamu nggak mau punya anak banyak?" Salah satu kakak Adnan yang laki-laki bertanya.
"Nggak semua orang berminat untuk punya banyak anak, mas."
Adnan menjawab dengan nada tegas. Putri sendiri diam, sama seperti anggota keluarga Adnan yang lain.
"Nggak semua yang menikah bertujuan untuk beranak pinak. Kalau tujuan menikah hanya untuk menghasilkan keturunan semata. Apa bedanya perempuan dengan ayam petelur?"
Adnan membuat semua saudara dan juga ibunya merasa tertampar. Adnan sekaligus menyindir sikap keluarganya itu pada Anita selama ini.
Ia kesal Anita dibully belasan tahun, lantaran tak bisa memiliki keturunan. Kini disaat ia memiliki istri yang bisa mengandung. Mereka mengatur pula kehidupan Putri. Tentang apa dan bagaimana dirinya harus melahirkan nanti.
__ADS_1
Hal ini mungkin lazim bagi beberapa mertua di negri ini, dan masih menganggapnya sebagai sebuah nasehat. Tapi sejatinya itu adalah suatu bentuk pemaksaan terhadap seseorang dan termasuk ikut campur dalam urusan rumah tangga anak.
Harusnya sebagai orang tua, doakan saja yang terbaik. Supaya ibu dan bayi yang di kandung bisa selamat. Bukan malah nengatur-ngatur sesuai apa yang di kehendaki.
***
"Put, maaf soal tadi ya."
Adnan berujar pada Putri ketika mereka telah berada di mobil. Adnan sengaja tak begitu lama di rumah orang tuanya tersebut. Sebab sikap keluarganya membuat ia menjadi gerah.
"Nggak apa-apa mas, ayo kita pulang." ajak Putri.
Adnan lalu menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas.
"Apa mbak Anita sering diajak kesana?" Putri bertanya ketika mobil telah berjalan cukup jauh.
"Sering, dulu. Tapi cuma untuk di bully aja sama mereka."
"Di bully?"
"Ya, karena Anita nggak bisa punya anak." ujar Adnan.
Mendadak hati Putri begitu miris, ternyata masih ada tipikal mertua dan keluarga yang seperti itu. Ia pikir selama ini kehidupan Adnan dan Anita baik-baik saja, serta penuh penerimaan dari masing-masing pihak.
"Ada lagi yang mau kamu tanyakan tentang mereka?" tanya Adnan.
"Nggak ada mas." jawab Putri.
Sejatinya ada banyak, namun Putri tak enak pada Adnan.
"Kita cari makan lagi yuk, mau nggak?"
"Tadi mas makan dikit ya?" tanya Putri.
"Iya." jawab Adnan.
"Kamu kan liat dari awal aja, aku udah nggak nyaman. Gimana mau makan banyak." lanjut pria itu.
__ADS_1
"Ya udah, ayok." ajak Putri.
Maka Adnan menetapkan sebuah tujuan, ia hendak mendatangi restoran tempat dimana ia dan Tristan sering makan. Selain kebiasaan mereka yang suka makan di warung tenda.