Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Sejenak


__ADS_3

"Mas, aku tuh capek sama ibu kamu. Dia mencecar aku terus dan minta aku supaya membujuk kamu untuk menikahi Putri."


Anita berujar pada Adnan ketika keduanya sudah berada di rumah.


"Ok aku mau." ujar Adnan kemudian.


Anita sendiri terkejut, sebab Adnan seolah tak ada perlawanan sedikitpun.


"Aku mau menikah dengan Putri. Supaya masalah di antara kamu dan ibu selesai. Tapi yang jadi masalah baru sekarang adalah, Putri nya mau nggak nikah sama aku?. Sebab dia punya calon suami dan mereka akan menikah."


Anita menatap Adnan.


"Emang calon suaminya masih mau nerima dia, mas?"


"Iya, dan saat ini calon suaminya sedang pulang dari luar negri. Calon suaminya tau, kalau saat ini Putri hamil. Bahkan keluarga calon suaminya sangat tidak mempermasalahkan hal tersebut." jawab Adnan.


"Dari mana mas tau?" tanya Anita.


Seketika Adnan tersentak. Mendadak ia takut jika Anita akan mengetahui, bahwa selama ini ia berusaha mendekati Putri.


"Aku pernah ketemu dengan ibu dari calon suaminya itu. Dan kami sempat berbicara selama beberapa saat. Intinya mereka semua menerima kondisi Putri."


Anita menghela nafas panjang, lalu duduk pada sebuah kursi sambil menjatuhkan pandangan ke bawah.


"Bisa kan untuk sehari dua hari, kita nggak usah membicarakan masalah ini dulu. Kepala aku sakit, Anita. Aku mau libur dulu dari memikirkan ini semua."


Adnan berjongkok di depan Anita, lalu pria itu menatap wajah sang istri dengan lembut. Anita pun melakukan hal yang sama. Sudah beberapa waktu berlalu dan mereka berada di dalam ketegangan. Bahkan Anita lupa kapan terakhir ia bermesraan dengan suaminya itu.


"Aku kangen kamu." ujar Adnan seraya mencium bibir sang istri.


Mulanya Anita diam, namun lama kelamaan ia pun membalas pagutan itu. Adnan mulai membuka baju Anita dan begitupun sebaliknya. Maka hal itulah yang terjadi. Mereka bercinta, diantara gelombang gairah yang cukup menggebu. Sebab sudah lumayan lama mereka tidak melakukannya.


***


"Tolong di segerakan, aku mau meletakkan bayi aku di sini."


Putri masih mengingat perkataan Aaron dan kini ia menghidupkan shower, lalu membiarkan air dingin menerpa tubuhnya.


"Hhhhh."


Andai hidup ini seperti cerita di dalam novel yang penulisnya ingin terburu-buru menyelesaikan, pikir Putri.


Pastilah hidupnya kini sudah mencapai chapter terakhir, yang menceritakan jika ia hidup bahagia selamanya. Dengan segala permasalahan yang tuntas tanpa bekas.


Tapi sayang ia tak bisa meloncat antara bab satu ke bab yang lain. Setiap hari adalah rasa pusing dan tertekan baginya. Entah kapan ini semua akan berakhir.


"Ok Put, gini."


Shanin menoleh ke kanan dan ke kiri, ketika Putri datang ke kediamannya bersama dengan Tari. Putri menceritakan permasalahan baru yang saat ini ia hadapi.


"Lo nyari apaan?" tanya Tari pada Shanin.

__ADS_1


"Papan white board gue." ujar Shanin.


Tak lama ia pun menemukan papan kecil yang dimaksud. Papan itu adalah alat untuk ia membuat konten belajar bahasa asing, di YouTube channel miliknya. Tapi kali ini akan ia gunakan.


"Nih, masalah lo."


Shanin mulai menulis dengan menggunakan spidol hitam.


"Masalah lo itu sebenarnya bisa di sederhanakan. Elo hamil, disini ada Adnan dan juga Aaron."


Shanin menggambar figur orang di dua sisi papan white board tersebut.



"Sekarang gue tanya sama lo. Lo mau anak ini digugurkan dan menikah dengan Aaron. Atau memilih mempertahankan anak ini, dengan resiko elo ditinggalin sama Aaron?"


Putri diam.


"Masalahnya ada di situ, Sha." ujarnya kemudian.


"Gue udah nggak bisa menggugurkan bayi ini dan gue juga nggak mau kalau di gugurkan. Tapi tuh gue juga nggak rela kehilangan Aaron."


"Hmm, ketemu kan masalahnya." ujar Shanin.


"Terus solusinya gimana?" Tari yang sejak tadi diam, kini bertanya.


"Aaron mau nggak menerima elo, tapi menerima bayi ini juga?"


"Nggak, dia maunya gue menggugurkan anak ini." jawab Putri.


"Ok, yang ini coret berarti."


Shanin mencoret pertanyaan tersebut.


"Berarti sekarang pilihannya cuma dua. Lo pilih anak ini atau Aaron?"


Putri makin terdesak dan bingung.


"Lo harus tentukan, Put. Mau nggak mau. Kalau nggak masalah lo nggak akan selesai-selesai." ujar Shanin lagi.


"Bener Put, lo mau sampai kapan hidup dalam pikiran yang runyam kayak gini?. Gue aja sakit kepala ngeliat lo, apalagi lo sendiri." timpal Tari.


Putri menatap kedua sahabatnya itu.


"Kalau gue pilih Aaron?" tanya Putri.


"Ya lo harus siap kehilangan anak ini. Kalaupun pengadilan nggak mengizinkan untuk di gugurkan, lo bisa gugurkan secara mandiri. Entah di klinik mana dan bagaimanapun caranya."


"Kalau gue pilih bayi ini, berarti gue akan kehilangan Aaron?" tanya Putri lagi.


"Mau nggak mau. Nggak ada pilihan lain." jawab Shanin.

__ADS_1


Dan kalaupun akhirnya pak Adnan bersedia menikahi elo. Lo harus siap berbagi suami sama mbak Anita. Pilihannya cuma itu."


Putri kini semakin dilema.


"Nggak usah banyak pusing-pusing, Put. Lo tentukan aja pilihan. Gue kasih lo waktu buat berfikir. Lo bisa memilih antara bayi ini atau Aaron. Pikirin lo beratnya condong kemana?. Salah satunya lepasin. Karena kalau lo mau dua-duanya, itu berarti lo egois. Kecuali si Aaron mau menerima bayi lo ini, itu nggak masalah. Tapi kan permasalahannya udah jelas, Aaron nggak mau." Shanin berujar panjang lebar.


"Bener, Put. Lo pikirin deh baik-baik." timpal Tari.


"Semakin cepat lo membuat sebuah keputusan. Semakin cepat juga beban serta masalah lo berkurang. Harus ada yang di korbankan dalam hal ini." lanjutnya kemudian.


Putri menghela nafas dan menjatuhkan pandangan ke arah lain. Ia semakin bingung kali ini, namun sudah saatnya ia mengambil keputusan. Agar tak berlarut-larut.


***


"Makasih mas."


Anita berujar pada Adnan ketika aktivitas suami-istri yang mereka lakukan telah usai. Ia kini berada dalam dekapan tubuh Adnan yang hangat dan masih sedikit berkeringat.


"Aku yang terima kasih. Sekarang pikiran aku lebih clear ketimbang tadi." jawab pria itu sambil tersenyum.


Anita membalas senyuman tersebut, lalu keduanya kembali berciuman dengan mesra.


"Jangan dulu bicarakan masalah apapun ya." pinta Adnan.


"Iya mas." jawab Anita dengan nada pasti.


"Aku janji nggak akan ngelakuin itu." lanjutnya lagi.


"Kamu mau makan apa abis ini?" tanya Adnan pada sang istri.


"Apa aja, yang penting kamu yang bikin." jawab wanita itu.


"Iya nanti aku yang bikin, dengan batuan ojek online." seloroh Adnan.


Keduanya kini sama-sama tertawa.


"Iya, tapi kita harus mandi dulu." ujar Anita lagi.


"Bareng ya." ujar Adnan sambil memberikan senyuman nakal.


"Aku tau nih, mas otaknya."


Adnan tertawa.


"Udah lama kan nggak di kamar mandi." ujar pria itu.


"Emang mas nggak capek?" tanya Anita.


"Belum dong, masih sanggup lah dua kali lagi."


"Kalau gitu aku nya yang capek." Seloroh Anita.

__ADS_1


Lalu mereka pun tertawa-tawa. Adnan memeluk tubuh istrinya itu dengan erat dan begitupun sebaliknya. Sejenak Adnan lupa pada Putri, berikut rasa cemburunya terhadap kehadiran Aaron.


__ADS_2