
Dira dan Adnan sudah menyelesaikan film yang ketiga, dan kini keduanya dilanda kantuk yang amat berat.
"Hoahm."
Dira menguap, lalu kemudian disusul oleh Adnan.
"Mau tidur mas." ucap wanita itu kemudian.
"Iya, aku juga ngantuk ini." jawab Adnan lalu beranjak.
Mereka mematikan televisi, kemudian membereskan semuanya. Adnan menonaktifkan laptop, sementara Dira membawa sampah bekas cemilan ke belakang.
Setelah membuang sampah, ia pun mencuci muka dan menggunakan serum wajah. Setelah itu ia menyusul Adnan yang sudah duluan merebahkan diri, sambil memeluk bantal guling.
"Mudah-mudahan tahun depan, kita udah bisa dengar tangisan bayi malam-malam ya mas." ucap Dira seraya membelakangi Adnan. Wanita itu juga kini memeluk bantal guling.
"Iya sayang, aku yang akan ngurus dia malam-malam." ucap Adnan sambil tersenyum.
Pria itu memang sering berkhayal mengurus bayinya di malam hari. Terhitung sejak dokter mengatakan jika program bayi tabung mereka telah berhasil.
"Kamu mau kasih dia nama siapa mas?" tanya Dira.
"Kalau laki-laki, mau aku kasih nama Bambang."
"Ih, kamu mah."
Dira berbalik dan memukul lengan suaminya itu. Adnan lalu ikut berbalik sambil tertawa.
"Kalau perempuan, Zubaedah." ujar Adnan lagi.
"Mas, ih. Yang bener lah ngasih namanya."
"Loh, apa salahnya coba?"
Adnan lanjut menggoda Dira, sebab ia sangat suka melihat Dira yang merengek seperti anak kecil. Ia berharap kelak di kemudian hari, rengekan itu akan ia dengar dari anak-anak mereka.
"Ya nggak salah namanya, tapi jamannya yang salah." ucap Dira.
__ADS_1
"Loh, kenapa?" tanya Adnan heran.
"Mas, Bambang sama Zubaedah itu vibes-nya kayak era-era 60 an tau nggak. Tahun 70-80 aja nama udah pada keren-keren koq."
Adnan tertawa kali ini.
"Iya sayang, aku kan cuma bercanda."
Adnan menyingkirkan bantal guling dan ganti memeluk istrinya itu.
"Nanti kalau cowok, aku mau kasih dia nama Axel, atau Aaric, atau Keanu juga boleh."
"Jangan Keanu, mas."
"Loh kenapa?. Keanu Reeves aja bagus koq namanya." ujar Adnan lagi.
"Kalau Keanu, aku ingatnya yang selebgram mas. Yang suka ngomongnya nyablak itu loh."
Adnan diam sejenak.
"Tau kan?"
"Hahaha, iya." jawab Adnan.
Lalu ia kembali diam.
"Iya juga ya. Yang iklan sampo itu kan?" tanya nya lagi.
"Iya." jawab Dira.
Lalu mereka kembali tertawa.
"Ya udah apa kek, Nathan, Jason, Aksara. Banyak yang bagus." ucap Adnan.
"Kalau cewek?" tanya Dira.
"Samain aja sama mamanya."
__ADS_1
"Koq disamain dengan nama aku?" tanya Dira heran.
"Biar makin banyak Dira dalam hidup aku." jawab Adnan.
"Karena Dira itu yang selalu bikin aku jadi semangat mau ngapa-ngapain." lanjutnya kemudian.
Pipi Dira memerah. Adnan tidak pernah berubah, bahkan sejak pertama kali mereka bertemu.
Dira ingat kala itu. Mereka bertemu di kampus sebagai calon mahasiswa baru. Kemudian mereka bertemu lagi di BEM dan akhirnya menjadi satu kelas di semester tiga.
Lalu mereka merasa jika diantara mereka telah tumbuh benih-benih rasa. Kemudian keduanya sepakat menjalin hubungan, dan sampai menikah.
"Dira."
Adnan menyadarkan lamunan Dira.
"Iya mas, hehe."
"Pasti mikirin sesuatu yang berat lagi."
Adnan menebak.
"Nggak koq, orang lagi ingat saat pertama ketemu kamu." ucap Dira.
"Oh, yang kamu terpesona itu kan sama aku." ucap Adnan.
"Dih ge-er." ucap Dira.
"Emang iya kan?"
Adnan mendesak pengakuan sang istri sambil tertawa.
"Yang ada kamu tuh yang terpesona sama aku, karena aku cantik."
"Emang iya kamu cantik?"
Adnan menatap dalam ke mata Dira dan begitupun sebaliknya. Tak lama keduanya pun berciuman, lalu kantuk mereka mereda. Dan mereka pun akhirnya menyatu dalam kenikmatan cinta.
__ADS_1