Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Penat


__ADS_3

Adnan memarkir mobil, tepat di depan sebuah restoran. Tak lama ia dan Putri pun keluar, lalu menuju ke pintu masuk.


"Non smooking area untuk dua orang."


Adnan berujar pada petugas penerima tamu di bagian depan.


"Baik silahkan!"


Petugas tersebut mengarahkan Adnan dan juga Putri ke sebuah area. Dimana tak terdapat orang merokok disana. Sebab Adnan memikirkan kesehatan bayinya. Ia berjalan lalu menggandeng lengan Putri, karena di dalam sana cukup padat pengunjung.


"Silahkan ke meja yang disana pak."


Petugas itu menunjukkan meja yang masih kosong. Adnan pun membawa Putri melangkah. Namun baru saja mereka hendak duduk, tiba-tiba dua orang melintas dan berpapasan dengan mereka.


Adnan dan Putri terkejut, begitupula dengan kedua orang itu. Mereka adalah Anita dan juga dokter Matt yang kebetulan telah selesai dan berniat untuk pulang.


"Mas?"


Anita tanpa sengaja menyebut nama Adnan. Sebab kini ia dan dokter Matt mendadak berhenti.


"An?"


Adnan dan Anita saling menatap satu sama lain. Adnan juga bertatapan dengan dokter Matt, sedang Putri hanya diam menunduk.


"Kami ketemu disini."


Dokter Matt menjelaskan, diikuti anggukan Anita. Adnan pun hanya bisa turut mengangguk, sebab ia juga bingung harus bersikap seperti apa. Jujur ia marah dalam hatinya, ia sangat mencintai Anita dan ia pun memiliki rasa cemburu terhadap istrinya itu.


Tapi saat ini dirinya pun tengah bersama dengan Putri. Yang mana itu semua juga membuat Anita merasa cemburu sedikit banyak.


"Aku pulang mas, Put."


Anita menyebut nama sang suami dan juga istri barunya. Putri hanya mengangguk dan lebih banyak menunduk. Sedang kini Adnan dan dokter Matt masih terlibat adu tatap. Namun kemudian ia mengikuti langkah Anita.


Adnan terdiam, detik berikutnya ia berbalik dan menyusul Anita hingga ke halaman parkir.


"An."


Anita menoleh.


"Aku nanti pulang, hati-hati di jalan." ujarnya kemudian.


Anita mengangguk lalu masuk ke dalam mobil, tak lama Adnan pun kembali kepada Putri.


***


Adnan dan Putri makan, namun dalam suasana yang begitu canggung. Pikiran keduanya kini berkecamuk.


"Mas, apa mbak Anita nggak apa-apa liat kita berdua kayak gini?" Putri merasa tak enak hati.

__ADS_1


"Aku juga nggak tau, Put. Tapi tadi pas aku susul dia, dia nggak ada marah atau membahas kamu. Dia biasa aja terus pulang." ujar Adnan.


Putri menunduk dan mencoba menghabiskan makanannya.


"Maafin aku ya, suasananya jadi nggak enak." ujar Adnan lagi.


Putri mengangguk.


"Nggak apa-apa mas." jawabnya kemudian.


"Yang harus minta maaf itu aku. Aku nggak enak sama mbak Anita."


Adnan menghentikan makan, lalu memegang tangan Putri.


"Jangan banyak pikiran, kamu lagi hamil" ujar pria itu. Dan lagi-lagi Putri mengangguk.


***


Anita tiba di rumah, ia lalu melepaskan seluruh pakaian yang ia kenakan. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan berdiri di bawah shower.


Tak lama ia pun menghidupkan shower itu dan membiarkan air hangat menerpa tubuhnya. Anita memejamkan mata, namun kemudian ia teringat pada peristiwa tadi. Saat ia tanpa sengaja melihat Adnan dan juga Putri.


Hati Anita mendadak sakit, meski ia terus mengafirmasi diri. Dengan mengatakan jika Adnan masih mencintai dirinya dan menikah lagi hanya untuk anak yang dikandung oleh Putri.


Tapi Anita juga kembali teringat, jika Adnan sudah melakukan hubungan intim dengan istri keduanya itu. Ia melihat jelas dalam benaknya, Adnan yang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh. Tampak tengah memasukkan miliknya ke rahim Putri. Lalu Putri dibuat mendesah-desah karena hal tersebut.


Hati Anita rasanya seperti di iris-iris. Adnan yang ia cintai dan ia miliki di sentuh dan menyentuh wanita lain.


***


Sama seperti Anita, dokter Matt yang terlanjur jatuh hati pada Putri. Kini terpikir akan apa yang ia lihat tadi. Saat perempuan itu datang bersama suaminya.


Telah berkali-kali ia coba memberi pengertian pada dirinya sendiri. Bahwa mungkin apa yang ia rasakan terhadap Putri, hanyalah sebuah rasa simpati dari dokter ke pasien. Bukan cinta yang sesungguhnya.


Namun setiap kali ia memberitahu dirinya soal itu, setiap itu pula dirinya mengingkari hal tersebut.


"Matt."


Tiba-tiba sang ayah muncul dan memergoki dokter Matt yang tengah menghisap sebatang rokok di balkon rumah. Dokter Matt segera mematikan rokok tersebut.


"Sejak kapan kamu ngerokok lagi?" tanya dokter Joe kemudian.


Dokter Matt diam sejenak.


"Baru tadi koq, pa." jawabnya.


Dokter Joe menghela nafas.


"Why?" tanya nya kemudian.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, pengen aja."


"Kamu ini kan dokter, dan kamu tau kalau itu nggak baik untuk kesehatan."


"Tapi kan kita ini juga manusia biasa, pa. Kadang kita ingin mencoba sesuatu yang merusak sekali-kali."


Dokter Joe tersenyum tipis.


"Jangan terlalu sering tapi." ujarnya kemudian.


Maka dokter Matt pun mengangguk, ia tak ingin memberikan bantahan dalam bentuk apapun lagi. Sebab saat ini dirinya ingin tenang.


***


"Koq lo bisa sih nyimpen beban


segede ini sendirian?"


Salah satu sahabat Anita dari kecil yang saat ini tengah tinggal di luar negri, menerima telpon serta curhat dari Anita.


Ia sejatinya tak ingin menceritakan kesedihan yang ia alami. Namun ia juga manusia biasa, ia butuh seseorang yang bisa dipercaya untuk mendengar segala keluh kesahnya.


Dan ia kini tengah bercerita pada orang yang tepat. Sebab temannya itu adalah teman yang benar-benar mengerti Anita selama ini.


"Gue takut membebani orang, Liv." ujar Anita.


"Kan gue udah buka orang lain lagi, Nit. Lo sendiri yang pernah bilang kalau kita harusnya jadi saudara. Masa lo nggak terbuka sama gue. Ini masalah gede loh, suami nikah lagi itu bukan perkara yang gampang. Kalau nggak cerita bisa gila lo." ujar Livia.


Anita menghela nafas, ia memang sudah hampir gila saat ini.


"Makanya ini gue telpon elo, Liv. Rasanya pengen healing gue. Pergi kemana kek, liburan gitu. Biar ada senengnya dikit gue." lanjut Anita.


"Lo kesini aja, ke tempat gue. Biarin tuh si Adnan tinggalin dulu sejenak. Biar dia ngerasa kehilangan." ujar Livia.


"Iya kalau kehilangan, kalau nggak?"


Livia menghela nafas.


"Nit, lo itu udah berumah tangga 12 tahun. Segala suka duka, badai, petir, angin, badai udah lo lalui berdua. Mustahil Adnan nggak kehilangan elo, kalau lo pergi." ujar perempuan itu.


"Iya sih, ntar deh. Gue juga kerja kan. Ngambil cuti di kantor gue nggak gampang."


"Oh iya, kan lo pernah cerita ya. Kalau orang kantor lo isinya workaholic semua." ujar Livia.


"Itu dia makanya."


"Udalah bakar aja kantor lo." Livia memberi saran. Kali ini Anita tertawa, dan itu cukup mampu meredam segala kepenatan serta prasangka yang ada di benaknya.


"Nah gitu dong, ketawa." Livia menyemangati.

__ADS_1


Dan kedua sahabat itu pun lanjut berbincang.


__ADS_2