Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Salah


__ADS_3

Adnan selesai mengambil makanan di bawah.


"Kita makan ya, Put." ajaknya kemudian.


"Bapak, bukannya tadi bilang ke saya kalau belum makan. Biar saya masakin atau saya aja yang order makanannya." ujar Putri pada Adnan.


"Kayak gini kan bapak yang repot. Udalah beliin saya buah, susu, makan lagi." lanjut perempuan itu.


"Udalah, Put. Orang udah ada di depan mata koq." ujar Adnan seraya tertawa kecil.


"Ya udah saya siapkan dulu." tukas Putri


"Saya bantu." timpal Adnan.


Maka Putri pun mengambil piring, sendok, serta gelas untuk minum. Sementara Adnan membuka makan tersebut. Putri kemudian mengambil air minum, namun tiba-tiba ia nyaris terpeleset.


Adnan yang melihat hal tersebut refleks menangkap tubuh Putri. Dan kini keduanya berada dalam pelukan yang erat.


Sebab Putri juga refleks berpegang erat pada laki-laki tampan bertubuh kekar itu. Tadi ia sangat takut jika sampai terjatuh, apalagi menyangkut soal bayi yang tengah ia kandung.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Adnan pada Putri.


Putri mengangguk. Adnan meregangkan pelukannya, begitupula dengan Putri. Namun kini keduanya sama-sama di kuasai perasaan yang campur aduk. Ada gelombang aneh yang merayapi hati mereka. Ditambah lagi kini mereka hanya berdua saja.


"Putri."


Adnan menyentuh perut Putri dengan tangannya. Mata pria itu seakan menusuk kedalam hati dan jiwa Putri.


"Pak."


Adnan menarik perempuan itu kembali ke dalam pelukan. Putri melihat seolah bukan Adnan lagi yang berada di dekatnya. Seperti seseorang yang sudah dikuasai oleh perasaan menggebu.


"Pak, jangan pak. Ini salah."


Putri berusaha melepaskan pelukan Adnan, namun pria itu terlalu kuat baginya.


"I know, tapi biarkan kesalahan ini terjadi hari ini." Adnan menjawab.


"Pak."


"Please!"


Adnan memohon lalu mencium bibir Putri. Awalnya Putri masih mencoba memberontak. Namun kemudian ia pun menyerah juga dan membalas ciuman Adnan.


Lama-kelamaan ciuman tersebut semakin panas. Putri membiarkan saja tangan Adnan bergerak ke segala arah. Ia menikmati hal tersebut, sampai kemudian Adnan berhenti dengan sendirinya.


Putri mengerti, karena sepertinya Adnan sadar jika dirinya tengah hamil muda. Adnan tidak ingin melakukan hal itu lebih jauh. Ditambah kini mereka bukanlah suami istri.


Namun meski begitu, kegiatan yang barusan mereka lakukan tersebut cukup membuat jantung berdegup kencang. Kini keduanya seakan tak bisa mengelak lagi. Bahwa kehadiran bayi di dalam perut Putri, telah menjebak mereka kedalam sebuah perasaan cinta.


"Kita makan dulu ya." ujar Adnan.

__ADS_1


Putri mengangguk. Mereka kemudian makan sambil berbincang, kali ini keduanya terlihat lebih akrab dari biasanya. Dan terasa jarak antara mereka kian menipis.


***


Di lain pihak, Aaron mulai memikirkan semua perkataan Shanin dan juga Tari yang telah disampaikan padanya.


Aaron perlahan sadar jika dirinya begitu egois terhadap Putri. Padahal ia sangat menyayangi perempuan itu. Ia menyesal telah bersikap begitu kasar dan terkesan tak memiliki perasaan.


Maka dari itu, ia pun meraih handphone yang berada tak jauh darinya dan mencoba menelpon Putri.


Telpon tersebut tersambung, namun ternyata notifikasinya di silent oleh Putri. Handphone tersebut berada cukup jauh, sedang kini Putri tengah disuapi makan oleh Adnan.


"Enak kan makanannya?" tanya Adnan pada Putri.


Perempuan itu mengangguk.


"Makan yang banyak ya, biar dia sehat dan cepat besar." lanjut Adnan lagi dan lagi-lagi Putri hanya tersenyum.


"Pak..."


"Hmm?"


Putri mengurungkan niatnya untuk berkata. Padahal sejatinya ia memiliki niat untuk bertanya pada pria itu. Apakah Anita tidak apa-apa ditinggal suaminya seperti ini.


Namun entah mengapa Putri merasa pertanyaan itu hanya akan mengganggu waktunya bersama Adnan. Perempuan itu mendadak menginginkan bersama dengan Adnan tanpa terganggu sedikitpun mengenai Anita.


"Kamu mau ngomong apa, Putri?" tanya Adnan penasaran.


Putri mengalihkan topik dengan meraih segelas air putih yang ada di hadapannya. Ia lalu minum dan Adnan kembali menyuapi perempuan itu.


***


"Nomor yang anda tuju, tidak menjawab."


Berkali-kali sudah Aaron melakukan panggilan terhadap Putri, namun tak satu pun yang terjawab. Mungkin Putri benar-benar marah pikirnya. Sebab ia terlalu lama baru menyadari kesalahan yang ia buat.


"Kreeek."


Terdengar suara pintu dibuka. Ternyata Aline yang datang bersama salah seorang teman perempuan. Aaron sendiri tidak kenal dengannya.


"Nih, ini adek gue Bel. Namanya Aaron. Aaron ini Bella, temen sekantor gue." ujar Aline.


"Hai Aaron." Sapa Bella dengan ramah.


"Hai." jawab Aaron sambil tersenyum. Mereka saling berjabat tangan.


"Adek lo sakit apa ini, sorry." ujar Bella.


"Penyakitnya menular." seloroh Aline.


"Enak aja." Aaron sewot.

__ADS_1


Bella kini tertawa di buatnya, begitupun dengan Aline.


"Kapan kata dokter lo boleh pulang?" tanya Aline seraya duduk di sisi adiknya itu.


"Nih gue bawain makanan." lanjutnya lagi.


"Kata dokter sih masih dua atau tiga hari lagi. Itupun kalau kondisi gue nggak tiba-tiba drop." ujarnya.


"Makanya nggak usah banyak pikiran." ujar Aline menasehati.


Mereka pun lalu berbincang-bincang, sampai kemudian Bella pamit.


"Gimana tadi, si Bella menurut lo?"


Aline bertanya pada sang adik. Aaron mengerutkan keningnya.


"Lo mau deketin si Bella?" tanya Aaron.


"Lo suka sama sesama jenis sekarang?" tanya nya lagi.


"Bukan gue, tapi elu Bambang." Aline menoyor kepala adiknya itu dengan gemas.


"Gue kenapa?" tanya Aaron lagi.


"Lo mau nggak sama Bella?"


"Maksud lo mau jodohin gue sama temen lo itu?"


"Dari tadi pikiran lo kemana aja emang?. Masa gitu aja lama banget ngertinya."


"Ya mana gue ngeh, lagian ngapain sih pake acara jodoh-jodohin gue segala."


"Daripada lo sama si Putri, nyakitin mulu."


"Lin, soal Putri gue udah pikirin. Gue yang salah, bukan dia. Gue terlalu egois selama ini."


Aline mendadak emosi.


"Koq lo segampang itu sih maafin dia?" ujar perempuan itu.


"Setelah gue pikir, emang gue yang salah. Gue bukan maafin dia, tapi gue yang harus minta maaf."


"Dia itu nggak sayang sama lo. Buktinya aja dia lebih memilih mempertahankan bayi itu, ketimbang menjaga perasaan lo."


"Putri itu hamil, Lin. Yang dia kandung itu manusia. Wajar kalau pada akhirnya dia jadi punya ikatan batin dengan bayi itu, itu anaknya. Dia nggak tega untuk membunuh anak itu, sekalipun demi gue."


"Lo tuh lembek banget ya jadi cowok, kesel tau nggak gue. Mau-mau aja lagi lo di gituin. Udah jelas-jelas dia nggak memenangkan perasaan lo di atas semua ini."


Aline berkata panjang lebar seraya menatap Aaron. Sementara yang ditatap hanya membuang pandangannya ke arah lain.


"Pokoknya gue nggak suka kalau lo balikan sama Putri. Udah terlanjur kesel gue sama tuh anak." ujar Aline lagi.

__ADS_1


Tak lama ia pun meninggalkan ruangan Aaron saking kesalnya.


__ADS_2