
"Put, Putri."
Adnan berusaha menghentikan langkah Putri yang tampak berusaha menghindarinya.
"Put, please."
Adnan berdiri di depan Putri. Untung saat ini mereka tengah berada di salah satu koridor yang cukup sepi di lantai bawah. Ini sudah jam istirahat, Putri memang meninggalkan pekerjaan untuk mendapatkan makan siangnya.
"Put, jangan menghindar kayak gini dari saya."
"Pak, kita sudah melakukan sebuah kesalahan kemarin dan itu nggak bener."
"Iya saya tau, tapi kita sama-sama salah. Dan tolong tidak usah saling menyalahkan juga. Maksud kamu apa menghindari saya seperti ini?"
Putri diam.
"Jawab, Put...!" pinta Adnan.
"Saya, saya takut hal yang sama terulang." jawab Putri.
"Karena kamu juga menginginkannya kan?"
Tembakan Adnan tepat sasaran, namun Putri berusaha menghindar.
"Nggak pak, saya nggak pernah berkeinginan untuk itu."
"Terus kenapa kamu takut hal tersebut akan terjadi lagi?. Kalau memang kamu tidak punya keinginan terhadap hal itu."
Putri kembali diam. Kali ini dijatuhkannya pandangan ke bawah.
"Kamu mulai jatuh cinta kan sama saya?"
Putri tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia kini menatap Adnan, namun tak bisa berkata apa-apa. Seolah bibir dan lidahnya terasa kelu.
"Iya kan?. Kamu nggak usah bohong."
"Pak, saya..."
"Saya juga punya rasa seperti itu."
Adnan kembali membuat Putri tersentak.
Saya merenunginya dan memikirkan hal ini terus menerus. Saya punya rasa sama kamu Putri, dan kami juga demikian kan?"
"Pak, saya..."
"Sampai kapan kita akan mengingkari ini semua?"
"Pak, saya punya Aaron dan bapak punya mbak Anita. Apa itu nggak cukup untuk menegaskan bahwa rasa yang terjadi diantara kita itu salah."
"Tapi itu berarti kamu punya rasa kan terhadap saya?"
"Iya." tegas Putri menjawab pertanyaan Adnan, membuat pria itu kini terdiam menatapnya.
__ADS_1
"Sayangnya, iya." lanjut Putri.
"Dan sayangnya lagi, saya tidak mau mengkhianati Aaron." Perempuan itu meneruskan perkataan.
"Bapak juga nggak sanggup kan, mengkhianati mbak Anita?"
Putri menatap Adnan dalam-dalam, sedang pria itu kini terpaku dengan tubuh yang perlahan membeku.
"Aaron akan segera pulang, tolong adegan seperti ini jangan terulang. Saya nggak mau kita menimbulkan kesalahpahaman dan juga permasalahan yang baru."
Putri berlalu meninggalkan Adnan, sedang Adnan masih tak bergeming sedikitpun.
***
Aaron akhirnya tiba, setelah menempuh perjalanan udara selama belasan jam. Pria itu disambut dengan hangat oleh keluarganya. Ia ingin menelpon Putri dan mengatakan jika ia sudah mendarat dengan selamat.
Tapi berhubung hari sudah sangat larut, Aaron pun menunda niatnya hingga esok pagi. Saat pagi menjelang, Putri dikabari oleh kekasihnya tersebut. Tentu saja Putri senang dan meminta untuk bisa segera bertemu. Aaron bilang, ia akan menjemput Putri saat Putri pulang kerja nanti dan putri pun menyetujui hal tersebut.
"Put, muka lo ceria banget hari ini. Mentang-mentang si doi pulang." Salah satu rekan kerja Putri menggodanya. Hal tersebut bertepatan dengan melintasnya Adnan ke suatu arah.
"Degh."
Batin Adnan bergemuruh demi mendengar hal tersebut. Namun ia berusaha bersikap biasa saja, bahkan terkesan tak peduli.
"Iya, lagi happy gue." jawab Putri.
Sebelum itu memang Putri ada cerita mengenai kepulangan Aaron. Sebab rekan kerja Putri juga rata-rata mengenal Aaron, meski tidak dekat.
"Kalau nanti lo nikah, jangan nggak ngundang loh Put." seloroh temannya itu lagi.
Rekan kerja Putri itu kemudian menggeser tempat duduk hingga ke dekat meja Putri. Tak lama ia pun membuka handphone lalu membicarakan gosip hangat yang tengah beredar di internet.
***
Sore harinya Aaron menjemput Putri. Dulu saat sebelum melanjutkan S2, mengantar ataupun menjemput Putri adalah agenda wajibnya setiap hari.
"Hai sayang."
Aaron menghampiri Putri dan begitupun sebaliknya. Tak lama kemudian mereka berpelukan sambil menangis haru.
Putri merasa begitu bersalah pada Aaron atas apa yang sudah terjadi. Terutama soal perasaanya terhadap Adnan kini.
Aaron sendiri mengira Putri merasa jika dirinya sudah tak bisa diterima. Padahal Aaron menerimanya dengan tangan terbuka.
"Udah, jangan nangis lagi. Semua akan baik-baik aja." ujar Aaron.
Putri mengangguk, Aaron lalu merenggangkan pelukannya dan menatap sang kekasih. Sesaat kemudian keduanya sama-sama tersenyum.
Sementara di suatu sudut, Adnan memperhatikan mereka dengan hati yang remuk redam. Putri lalu masuk ke mobil Aaron, dan mereka meninggalkan tempat itu dengan segera.
***
Di sepanjang perjalanan, Aaron terus menggenggam erat tangan Putri. Dengan satu tangan lain tetap berada di setir kemudi. Mereka berjalan perlahan, seakan enggan melewatkan waktu sedikitpun.
__ADS_1
Sementara di jalan lain Adnan terus mengingat saat ia berciuman dengan Putri, dan mengingat bagaimana tadi Putri di peluk oleh Aaron.
Aaron adalah pria tampan, yang terlihat begitu penyayang serta perhatian terhadap Putri. Ibunya sempat bercerita jika Aaron adalah seorang trader hebat sekaligus pialang saham. Dengan kata lain secara sosial ekonomi, Aaron tidak kalah dengan Adnan. Dan dari dari segi penampilan fisik pun, mereka imbang.
Andai saja Aaron ada dibawahnya, mungkin Adnan bisa lebih unggul dan bisa punya kesempatan lebih untuk menarik Putri ke dalam hidupnya.
"Tapi kalaupun itu terjadi, bagaimana dengan Anita?."
Kali ini Adnan teringat pada istrinya tersebut. Ia mulai menyadari keegoisan dalam dirinya. Mengapa ia menggebu sekali ingin memiliki Putri, sedang Anita masih ada dan setia bersamanya.
"Ah."
Adnan memegang keningnya, dengan siku tangan yang tertumpu pada pintu mobil. Pria itu benar-benar pusing dan tak sembuh selama beberapa waktu belakangan. Bukan pusing secara harfiah, namun secara pikiran dan juga psikis.
***
"Aku kangen pecel ayam deh." ujar Aaron pada Putri.
"Ayo, kamu pasti udah mengkhayal pengen makan itu kan sejak di pesawat." Putri sok tau.
"Iya nih, tau aja kamu." jawab Aaron.
"Makan ditempat biasa ya." ujar pemuda itu lagi.
"Ok." jawab Putri.
Mereka pun kemudian pergi ke tempat biasa mereka makan. Sesampainya disana, mereka langsung mencari tempat duduk dan memesan apa yang ingin mereka makan.
"Udah nggak sabar." ujar Aaron.
Putri tersenyum. Mereka kemudian berbincang di sela-sela menunggu makanan. Sama sekali Aaron tak membahas soal kehamilan Putri. Karena takut kekasihnya itu akan tersinggung.
***
"Ad."
Tristan menelpon Adnan yang masih berada di jalan.
"Iya, bro." jawab Adnan kemudian.
"Gue udah balik nih, makan yuk." ujar Tristan lagi.
"Dimana?" tanya Adnan.
Tristan lalu mengatakan dimana ia ingin makan.
"Ok" jawab Adnan.
Maka pria itu pun mengubah arah. Yang tadinya hendak menuju ke rumah, kini menuju ke tempat makan tersebut.
Sementara di lain pihak makanan yang dipesan oleh Aaron dan Putri kini sudah jadi.
"Wah, ini baru makan." ujar Aaron dengan ekspresi wajah gembira.
__ADS_1
"Kamu bahagia banget ya pasti." ujar Putri.
"Cium aromanya aja, aku udah bahagia ini." jawab Aaron seraya mencuci tangan pada air kobokan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Putri. Sesaat kemudian mereka pun mulai makan