
Adnan mendorong Dira keatas tempat tidur. Hingga wanita itu kini terlentang dibawah, sambil tersenyum padanya.
Adnan pun balas tersenyum dan mencium kening Dira. Dira memejamkan mata, sama halnya dengan Putri yang saat ini tengah berkhayal dicium keningnya oleh Adnan.
Dira tersenyum, begitupula dengan. Putri. Bedanya Dira mengalami hal nyata dan Putri hanya senang berimajinasi. Adnan mencium bibir Dira dan Putri membayangkan itu terjadi padanya.
"Mas." ucap keduanya di waktu yang bersamaan.
Dira berkata pada Adnan sungguhan, sedang Putri pada Adnan khayalan. Tapi kedua-duanya memiliki perasan dan getar yang sama.
Adnan lalu bergerak tangannya kesana kemari. Terutama pada dua gundukan sintal padat milik sang istri.
Sedang Putri melakukannya sendiri dengan tangannya dan membayangkan jika itu adalah perbuatan Adnan.
"Mas."
Ia dan Dira kembali berkata pada Adnan. Tetapi dalam kondisi yang satu nyata dan yang satu lagi sebatas impian.
Lalu Adnan mulai melakukan aksinya dan kedua perempuan itu mengeluarkan suara erangan yang terdengar nikmat.
"Mas."
"Hmmh."
"Sssshh."
Keduanya larut dalam buaian cinta yang begitu besar. Adnan memang tak dapat ditolak, dengan alasan apapun. Ia tampan dan begitu menggoda.
Dira beruntung menikahi pria itu, sementara Putri beruntung di pertemukan dengannya.
__ADS_1
"Dira, sayang."
Adnan menarik Dira untuk berdiri. Kemudian Dira menghadap tembok dan membungkukkan badannya sedikit. Tak lama sebuah hantaman ia terima di bawah sana, dari arah belakang.
Putri melakukan adegan yang sama. Ia benar-benar membayangkan hal tersebut terjadi. Hingga ketika Adnan dan Dira mencapai puncak kenikmatan, Putri pun demikian.
"Aaaaaakh."
Ketiganya sama-sama terhempas. Adnan memeluk Dira dan begitupun demikian. Sementara Putri kini memeluk bantal guling dengan nafas yang tersengal-sengal.
***
"Mama koq semalam mimpi Adnan gendong bayi ya."
Ibu Adnan berujar pada Adnan. Ketika sesi bercinta dengan Dira telah berakhir.
"Apa Dira hamil?" tanya sang ibu.
Adnan tersenyum dan memperhatikan Dira yang baru saja ditanam benih olehnya.
"Doain aja ma. Mudah-mudahan Dira segera hami." ujar Adnan..
"Aamiin, nak. Mama selalu doain kalian, supaya dikasih yang terbaik." ujar ibu Adnan.
"Papa dimana ma?" Adnan mempertanyakan perihal keberadaan ayahnya.
"Biasa, kayak nggak tau papamu aja. Sibuk melulu dari muda." Seloroh sang ibu.
Adnan pun lalu tertawa.
__ADS_1
"Dira mana?" sang ibu balik bertanya.
"Ada, tidur." jawab Adnan.
"Oh ya sudah kalau begitu, mama pamit ya. Mama cuma mau ngabarin itu aja." ucap ibu Adnan.
"Kirain mama khawatir sama Adnan." Seloroh Adnan kemudian.
"Ngapain khawatir sama kamu, udah bangkotan." Sang ibu menjawab sambil tertawa.
Adnan pun jadi ikut-ikutan tertawa.
"Udah ah, mama mau nonton ikatan cinta." ujar sang ibu kemudian.
"Hahahaha." Adnan tertawa.
"Ya udah kalau gitu, dah mama."
"Daaah."
Sang ibu menyudahi telponnya pad Adnan dan Adnan kini kembali ke dekat Dira.
Sementara di kosan Putri masih lanjut dengan khayalannya. Ia kini melihat kearah kaca sambil memperhatikan perutnya dari samping.
"Lucu kali ya kalau gue nikah sama pak Adnan terus gue hamil." ujarnya kemudian.
Putri senyum-senyum sendiri sambil mengusap-usap perutnya yang tampak membuncit karena kebanyakan makan di malam hari.
Ia membayangkan dirinya mengandung bayi Adnan, setelah dinikahi oleh pria tampan itu.
__ADS_1