Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Datang Lagi


__ADS_3

Adnan kembali datang ke rumah sakit untuk mengecek keadaan Putri. Namun belum sempat langkah kakinya sampai di muka pintu ruangan, tempat dimana gadis itu berada. Tiba-tiba Adnan dipanggil oleh salah seorang perawat.


"Pak Adnan." Sapa perawat tersebut seraya mendekat.


"Iya, Adnan menoleh lalu menatap perawat perempuan itu.


"Dokter memanggil bapak ke ruangannya." ucap perawat itu lagi.


Maka Adnan pun mengikuti. Mungkin ada hal penting yang ingin dokter bicarakan padanya.


Ketika tiba di ruangan tersebut, dokter menjelaskan jika Putri mungkin membutuhkan psikiater.


Sebab ia mulai histeris di beberapa momen. Adnan jadi khawatir pada gadis itu.


"Gimana baiknya aja, dok. Asal dia bisa sembuh dan jiwanya nggak terguncang lagi." ujar Adnan.


Kemudian mereka berdua lanjut berbincang hingga beberapa saat ke depan. Setelah itu Adnan mengunjungi Putri di kamarnya.


Semua tampak baik-baik saja. Putri terlihat seperti orang normal pada umumnya.


Ia menyapa Adnan dengan baik dan ketika Adnan mengajaknya berbicara, ia menjawab seperti sebelum-sebelumnya.


"Nanti ada psikiater yang akan mendampingi kamu." ucap Adnan pada Putri.


"Kamu bisa bebas mengungkapkan apapun sama dia. Jangan takut untuk menceritakan semua yang kamu rasakan." lanjutnya lagi.


"Iya pak, terima kasih." jawab Putri.

__ADS_1


"Katanya petugas kepolisian datang lagi?"


Adnan mempertanyakan hal tersebut pada Putri. Sebab dokter tadi ada menceritakan hal tersebut. Putri histeris dua kali katanya. Saat setelah petugas itu datang dan dimalam hari.


"Iya, pak. Mereka bilang...."


Suara Putri tercekat di tenggorokan. Ada keraguan yang menghalangi laju ucapannya.


"Mereka bilang apa?" tanya Adnan menanti kelanjutan dari kata-kata tersebut.


Putri diam, seperti ada hal berat yang ia pikirkan saat ini.


"Putri?"


"Pelaku mengaku kalau saya adalah cewek open B.O pak. Katanya saya datang atas kerelaan sendiri. Dan ketika bayaran nggak sesuai yang saya minta, saya pura-pura mau jadi korban perkosaan."


Air mata Putri menetes penuh emosi demi menceritakan hal tersebut. Adnan terasa begitu panas telinga dan hatinya.


"Udah kamu jangan nangis lagi!. Saya yang akan urus semuanya. Saya pastikan mereka dijerat oleh hukum yang berlaku." ucap Adnan.


Putri kian tersedu-sedu. Kemudian Adnan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


"Kita akan hukum mereka." ujarnya kemudian.


***


Dirumah Dira sangat gembira, karena ia akan menjalani perawatan kesuburan di rumah sakit mulai besok.

__ADS_1


Ia mengabarkan semua itu kepada keluarga Adnan dan tentu saja keluarga Adnan sangat antusias. Mereka mendukung Dira sepenuhnya, terutama sang ibu mertua.


"Pokoknya Dira kalau mau ke dokter, terus Adnan nggak bisa menemani. Bilang aja sama mama. Mama akan temani kamu, mau itu sampai seharian pun mama rela."


"Iya ma, Dira terima kasih banget sama mama dan kakak-kakak. Dira senang kalian mau mendukung Dira dalam hal ini."


"Kamu itu istri Adnan, menantu mama. Sudah sepatutnya sebagai mertua, mama mendukung dan membantu kamu."


Dira merasa sangat diberkati demi mendengar semua itu. Selama ini juga keluarga Adnan memang tak pernah melepaskannya begitu saja. Mereka selalu memberikan bantuan serta dukungan setiap kali diperlukan.


"Adnan sudah kamu kasih tau mengenai hal ini?" tanya ibunya kemudian.


"Udah ma, mas Adnan udah tau dan di juga mendukung banget." jawab Dira.


"Ya udah, bagus kalau gitu. Kamu dirumah?" tanya sang ibu mertua.


"Iya, dirumah ma. Mama dimana?"


"Mama di rumah, tapi sebentar lagi mau pergi arisan."


"Oh gitu, udah mau berangkat?" tanya Dira.


"Iya, ini mau pergi."


"Oh ya udah, kalau gitu mama hati-hati di jalan ya." ucap Dira lagi.


"Iya sayang, kamu baik-baik ya sama Adnan."

__ADS_1


"Iya ma."


Sesaat kemudian Dira pun menyudahi telpon tersebut. Ia kembali pada aktivitasnya dan sang ibu mertua pergi arisan.


__ADS_2