Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Disaat Hendak


__ADS_3

"Sayang, aku bentar lagi bakal pulang. Kabari aku segera kalau masalah kamu udah selesai, dan kalau anak ini sudah di gugurkan."


Aaron berujar pada Putri, di hari-hari berikutnya. Hampir setiap saat ia mengatakan hal tersebut, hingga membuat Putri merasa sakit kepala.


"Aku udah nggak sabar mau punya anak dari kamu. Anak kita, bukan anak orang. Pasti mukanya lucu, karena perpaduan antara muka aku dan kamu."


"Aaron."


Putri menyerukan nama kekasihnya itu seraya menatap matanya dalam-dalam. Aaron pun berhenti berceloteh lalu memperhatikan Putri.


"Bayi ini udah nggak bisa di gugurkan." ujarnya kemudian.


"Maksud kamu?" tanya Aaron heran.


Putri menghela nafas dan menjelaskan apa yang sudah dikatakan oleh pengacaranya secara detail.


"Tapi kan anak ini bukan hasil perkosaan, lebih dari perkosaan malah. Ini malpraktek, Putri."


"I know, Aaron. Aku tau itu." jawab Putri.


"Ya terus kenapa nggak bisa di gugurkan?. Kalau pun rumah sakit itu menolak, kita bisa cari tempat lain."


"Aku sayang sama anak ini."


Tegas suara Putri terdengar, membuat seluruh persendian di tubuh Aaron mendadak melemah. Ia seperti orang yang tersedot energinya secara tiba-tiba.


"Sayang kamu bilang?" Aaron tak percaya.


Putri mengangguk.


"Put, anak ini dipaksakan ke rahim kamu. Bukan atas dasar kehendak kamu."


"Iya tapi aku sayang." tegas Putri lagi.


"Aku yang hamil, aku yang ngerasain." lanjut perempuan itu kemudian.


Aaron kini terlihat gusar. Antara cemas, pusing, serta bingung dan marah jadi satu. Ia lalu tertawa sejenak, namun bukan tawa yang benar-benar tertawa. Itu adalah tawa kemurkaan dan kekecewaan.


"Atau kamu sudah punya perasaan terhadap Adnan, karena kalian selalu ketemu setiap hari?"


Aaron menuduh ke arah sana. Membuat Putri seketika tersentak, sebab memang begitulah adanya saat ini. Ia memiliki rasa untuk Adnan, meski ia tak berharap dapat memiliki.


"Iya kan?" tanya Aaron lagi. Kali ini dengan kemarahan yang begitu nampak.


"Jawab, Putri. Jawab...!"


Ia membentak Putri, perempuan itu kini menangis. Karena memang kondisinya tengah hamil dan sensitif.


"Aku cuma mau anak ini lahir. Aku akan tetap sama kamu, kalau kamu mau menerima."


"Dengan adanya anak orang lain dalam kehidupan kita?. Begitu?"


"Kan bisa anak ini kita serahkan sama ayahnya." Yang jelas aku nggak tega buat bunuh dia."

__ADS_1


"Sama aja." Suara Aaron makin meninggi.


"Walau anak itu kamu serahkan sama Adnan, tetap aja itu anak kamu. Kamu punya anak sama dia dan itu nggak akan bisa di hapuskan. Selamanya kamu akan tetap jadi ibu dari anak itu. Aku nggak rela kamu sama orang lain, dalam bentuk apapun."


Putri kian menangis. Aaron kini mencoba menarik nafas, sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan.


"Aarrgghh."


Ia pun mengeram penuh emosi, kemudian membuang pandangan ke arah lain. Putri mengusap air matanya dengan tangan, tak lama ia pun meninggalkan Aaron sendirian.


Aaron tau perihal kepergian kekasihnya itu, namun ia sengaja tak mengikuti. Sebab jika iya, hanya akan mengundang keributan demi keributan berikutnya.


***


Putri menangis di sepanjang perjalanan pulang menuju ke apartemen. Namun ia lega karena telah menentukan pilihan. Beberapa hari ini ia berpikir secara mendalam, dan itu bukan suatu perkara yang mudah baginya.


"Yang sabar ya, Put. Lo emang harus memilih dalam hal ini." Shanin berujar di telpon.


"Iya, Sha. Gue udah menentukan pilihan untuk mempertahankan anak ini." jawab Putri.


"Tinggal gimana Aaron nya aja nanti. Kalau dia masih mau sama gue, ya syukur. Nggak juga, ya udah. Gue bisa apa coba?" lanjutnya lagi.


Shanin menghela nafas.


"Iya, tapi gue setuju dengan keputusan lo kali ini. Lo menyelamatkan dua hal, Put. Anak lo dan harapannya pak Adnan."


"Iya, Sha." jawab Putri.


***


Aaron menatap lesu dan datar ke arah keluarganya yang tengah berkumpul di meja makan. Ia tak menjawab sepatah pun ajakan sang ibu. Malah kini ia melengos dan berlalu menuju ke lantai dua.


"Kenapa anakmu?" tanya tante Aaron kepada ibu Aaron.


"Ribut mungkin sama pacarnya." jawab Ibu Aaron.


Mereka kemudian melanjutkan makan.


Esok hari di rumah Adnan. Pria itu bangun pagi-pagi sekali dan menemukan meja makan yang penuh dengan hidangan lezat.


"Tumben pagi-pagi udah rajin. Pasti mau nyogok aku ya?" goda Adnan pada Anita.


"Mmm, tepatnya perayaan kecil mungkin ya." jawab Anita.


"Perayaan apa nih?" tanya Adnan seraya mencomot cumi goreng saus tiram yang ada di meja makan, lalu memakannya.


"Karena kamu..." Anita menjeda ucapannya sambil tersenyum.


"Kita maksudnya." lanjut Anita lagi.


"Kita?" tanya Adnan sambil terus makan.


"Ya, kita berhasil mengembalikan kehangatan rumah ini lagi. Setelah kemarin-kemarin kita jadi tegang dan selalu runyam kalau pulang ke rumah, lantaran masalah itu."

__ADS_1


Adnan menghela nafas, ia kini mendekat lalu memeluk Anita. Rasa bersalahnya kembali muncul, sebab ialah penyebab suasana rumah selama beberapa waktu belakangan ini seperti mati.


Padahal sebelum mendapat masalah dengan dokter Fadly dan juga Putri, mereka begitu rukun dan harmonis. Setiap hari adalah kemesraan dan canda tawa. Meski mereka belum memiliki anak, namun kebahagiaan mereka tak pernah kalah dari orang yang memiliki keluarga lengkap.


"Maafin aku ya." ujar Adnan pada Anita.


"Iya mas, sekarang makan dulu. Kita sarapan tapi ala makan siang."


Adnan tersenyum bahkan tertawa. Anita pun ikut memperlihatkan barisan giginya yang rapi.


"Yuk, aku laper dan kangen masakan kamu." ujar Adnan seraya melepaskan pelukan.


"Ayo...!"


Anita kemudian melayani suaminya. Mengambilkan ia piring dan juga nasi.


"Lauknya aku mau ambil sendiri, soalnya aku mau banyak." ujar Adnan.


"Ok."


Anita menyerahkan piring berisi nasi itu pada sang suami. Lalu kemudian ia menyiapkan air minum untuk Adnan. Sesaat kemudian, mereka sudah terlihat makan bersama.


***


Ketika tiba di kantor Adnan lebih ceria dari biasanya, wajah pria itu tampak berseri-seri. Hingga mengundang siapapun yang memperhatikannya.


Ia juga bersikap lebih ramah kepada para karyawan. Ia telah memiliki semangat lagi, sejak suasana rumahnya kembali seperti sediakala.


"Pagi pak." sapa sang sekretaris padanya.


"Pagi." jawab Adnan, kemudian masuk ke dalam ruangan.


Ia meletakkan tas laptop dan mengeluarkan isinya. Sebelum mulai bekerja pria itu mengambil handphone dan menscroll laman sebuah online marketplace. Ia memilih perhiasan untuk Anita.


Ia sudah tidak begitu ambil hati pada Putri dan juga Aaron. Sebab perempuan itu sepertinya tak akan bisa meninggalkan sang kekasih. Ia juga sudah menyiapkan amunisi apabila ibunya kembali mengusik Anita dan mendesaknya untuk menikah dengan Putri.


Hanya saja, Adnan masih sedikit menyayangkan bayi yang ada di kandungan Putri. Tetapi tak banyak hal yang bisa ia lakukan.


"Klik."


Pesanan perhiasan itu ia buat dan dibayar otomatis dengan saldo yang ia miliki. Alamat pengirimannya langsung ke kantor Anita. Ia berharap Anita bahagia menerima semua itu.


"Pak."


Tiba-tiba Putri masuk ke ruanganya.


"Iya, Put." ujar Adnan sambil mencoba bersikap biasa saja.


Putri mendekat dan berhenti tepat dihadapan Adnan.


"Saya cuma mau bilang kalau, saya mau melahirkan anak ini."


Adnan tersentak mendengar semua itu, dan kini ia menatap Putri dalam-dalam. Antara percaya dan juga tidak.

__ADS_1


__ADS_2