Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Panas Namun Bimbang


__ADS_3

"Putri."


Adnan membuka pintu kamar Putri, dan tanpa sengaja ia melihat istri keduanya itu tengah memakai sebuah pakaian tipis yang menerawang. Putri kaget, sebab ia lupa jika dirinya telah bersuami.


Namun keduanya kini saling bersitatap dalam diam, dengan tubuh dan gairah yang berdesir-desir.


"Saya..."


Adnan menghentikan ucapannya, sebab tak tau lagi harus berkata apa kali ini. Mendadak akal sehatnya seperti tertutup kabut. Padahal ia ingin pamit pulang kepada Putri, sebab ia terpikir akan Anita.


Namun kini ia malah terjebak oleh situasi, yang bahkan tak pernah terprediksikan sebelumnya. Mendadak ada yang terasa sesak serta memberontak, di balik resleting celana yang ia kenakan.


Pasalnya Putri terlihat begitu sexy, dengan bagian dalam menerawang jelas sekali. Ditambah perut wanita itu kini sedikit menyembul, sebab ia tengah mengandung.


Nafas Adnan perlahan memburu. Sementara tubuh Putri mendadak berdenyut, dan terasa ingin di sentuh di segala sisi oleh pria itu.


Udara dingin dari air conditioner menerpa tubuh keduanya. Hingga dalam hitungan detik, Adnan mendekat seperti orang yang terhipnotis. Lalu secara serta merta ia merapatkan tubuh Putri ke tubuhnya.


Putri diam, namun pasrah. Ia berusaha keras mengingat jika Adnan adalah milik Anita. Tetapi ia juga teringat akan hari-harinya yang tersiksa ingin di sentuh Adnan, sebelum mereka menikah.


"Putri."


Putri bisa merasakan hangatnya nafas Adnan dan begitupun sebaliknya. Nafas perempuan itu juga ikut memburu. Apalagi pada detik berikutnya Adnan secara serta merta mencium bibir Putri.


"Hmmh."


Putri mengeluarkan suara lalu membalas ciuman Adnan. Otaknya berusaha mengingat Aaron dengan keras, namun gagal. Adnan sudah keburu mendorong istrinya itu untuk bersandar ke sebuah meja, yang ada di sudut kamar.


Kemudian ia mengusap bayinya yang ada di perut Putri. Sambil terus mencium bibir dan menatap mata wanita itu dalam-dalam. Tentu saja Putri seperti melayang di udara dan nyaris lupa akan segalanya.


"Pak." ujarnya setengah mendesah.


"Jangan panggil pak."


Adnan terus menatap Putri dan masih mengelus perut istrinya itu. Sementara satu tangan Adnan lain, sudah berada dan mencakup bagian dada Putri sebelah kiri.


"Aku suami kamu." ujarnya lagi, seraya memberikan remasan dan kembali mencium bibir Putri.


"Ini anak aku."

__ADS_1


Adnan terus memberikan usapan di perut Putri, hingga wanita itu tanpa sadar menyentuh bagian sensitif milik suaminya.


Adnan lalu membuka resleting dan mengarahkan tangan Putri untuk memegang benda tersebut. Adnan mengangkat gaun tidur yang Putri kenakan hingga ke atas.


Ia melihat perut wanita itu sedikit menyembul, namun belum terlalu buncit. Ia mendudukkan Putri ke atas meja, lalu menekuk dan membuka kedua kaki wanita itu lebar-lebar.


Di usapnya bagian terlarang milik Putri dan ia putar-putar usapan tersebut. Sebab itu sudah tidak terlarang lagi baginya kini. Putri telah menjadi istrinya yang sah di mata hukum, dan juga kepercayaan yang ia anut.


"Hmmh, maaas."


Putri mengangkat-angkat pinggulnya secara tanpa sadar, sambil bergoyang memutar-mutar. Sementara Adnan terus memberikan usapan di bagian sensitif istri keduanya itu. Sesekali di ciumnya perut Putri dengan lembut. Lalu ia mengecup bibir atau gundukan di kiri-kanan dada Putri.


"Maaaas, ah."


Adnan makin menyukai aktivitas tersebut. Pria itu lalu membuka seluruh baju yang ia kenakan. Tampak sebuah tubuh atletis dan juga sexy terpampang nyata di hadapan Putri. Ditambah lagi kini Putri melihat keseluruhan batang cinta milik suaminya itu.


Tadi ia hanya memegang dan kini melihat secara keseluruhan. Benda itu dalam keadaan tegang dan membuat Putri cukup terbelalak. Sebab milik Adnan ukurannya membuat Putri langsung berdenyut disana-sini.


"Mas."


Adnan kembali memulai aktivitasnya dengan mengusap milik Putri. Namun kali ini bukan dengan tangan lagi, melainkan dengan miliknya. Sesekali ia memukul-mukul benda tersebut hingga Putri mendesah-desah tak karuan.


"Maaas, ah."


Putri mengulang terus kata-kata tersebut, ketika Adnan berusaha mendorong miliknya untuk masuk ke dalam milik Putri. Hingga kemudian ia benar-benar mendesah panjang saat benda tersebut benar-benar telah terbenam seutuhnya.


Lupa lah keduanya pada siapapun juga. Tak ada lagi wajah Aaron maupun Anita dalam benak mereka. Yang ada kini hanya nikmatnya milik Adnan yang terhujam-hujam di rahim Putri.


"Putri, sayang. Ah, ah."


"Mas, mas, maaaas."


Adnan menemui anaknya di dalam untuk pertama kali. Dengan penuh gairah, cinta, serta ego yang begitu tinggi. Putri makin melebarkan kaki, guna menerima segala hantaman kenikmatan yang selama ini selalu terbawa-bawa dalam mimpinya.


Adnan membawa Putri ke atas tempat tidur, lalu menghujamkan kembali miliknya disana. Cukup lama aktivitas tersebut berlangsung, hingga kemudian Putri berteriak kencang. Saat cairan Adnan menyembur dan memenuhi rahimnya yang tengah hamil tersebut.


Tubuh keduanya bergetar hebat, dengan gelombang kenikmatan yang terasa dari area sensitif hingga ke perut bagian bawah.


Adnan dan Putri terhempas, lalu keduanya saling berpelukan. Saat mereka mencapai ******* tersebut, disaat itu pula Anita dan Aaron sama-sama teringat pada keduanya. Dengan dada yang sama-sama sesak.

__ADS_1


Mereka sepertinya merasa dan tau, atas apa yang terjadi pada diri pasangan mereka tersebut.


Aaron yang baru sadar dari pingsannya itu mendadak menangis. Hingga Gerry sang sahabat mesti menenangkannya.


Sementara Anita, ia tidak menangis. Namun wajahnya begitu murung. Ia adalah seorang istri yang memiliki ikatan batin kuat terhadap suaminya. Apapun yang dilakukan suaminya di luar, ia merasakan semua itu.


"Are you ok?" tanya dokter Matt pada Anita.


"No." jawab Anita seraya menunduk.


Detik berikutnya ia pun memeluk dokter Matt secara serta merta. Dokter Matt kaget, namun akhirnya ia membalas pelukan tersebut.


***


Kembali ke kediaman Putri.


Adnan membelai Putri dan mencium kening wanita itu beberapa kali. Mereka kini masih berada di tempat tidur, dengan sekujur tubuh basah oleh keringat serta ****** *****.


"Mas, apa aku egois kalau aku bilang. Aku menyukai apa yang kita lakukan tadi."


Putri melontarkan pertanyaan yang membuat Adnan sedikit terdiam. Pasalnya ia juga memiliki pertanyaan yang sama.


"Kamu cinta sama aku, Put?" Adnan balik bertanya.


"Aku nggak tau, mas. Aku nggak berani bilang apa-apa untuk itu."


Kedua sudut mata Putri mengeluarkan air. Ia berada diantara rasa suka dan penyesalan yang datang bersamaan.


Ia merasa bersalah namun suka, sama halnya seperti Adnan. Pria itu juga merasa ini begitu salah, namun juga begitu benar.


"Mas?"


Adnan makin erat memeluk tubuh Putri kemudian ia memejamkan mata.


"Jangan mikir apa-apa, Put. Untuk saat ini jangan, please." ujar Adnan.


"Kamu tidur aja disini, di pelukan aku." lanjutnya kemudian.


"Jangan mikir apa-apa, sedikitpun." tukasnya lagi.

__ADS_1


Putri lalu mengangguk dan memejamkan matanya sama seperti Adnan.


__ADS_2