
Sejak pertemuan kedua kalinya itu, entah mengapa Putri jadi terbayang-bayang selalu pada Adnan. Ia semakin menyadari betapa tampannya pria tersebut.
Selain itu sikapnya yang baik dan manis. Serta pembawanya yang cool, tenang, dan membumi. Menjadikan Putri makin meleleh dibuatnya.
Kadang pria itu cukup serius, kadang juga suka bercanda. Yang jelas Putri menemukan sosok yang selama ini hilang dari dalam dirinya.
Ya, apalagi kalau bukan sosok seorang ayah. Meski memiliki ayah tiri, namun Putri tak pernah merasakan kasih sayang dari laki-laki yang disebut kepala rumah tangga tersebut.
Belum pernah sekalipun ada sosok ayah yang melindungi dan memberikan rasa aman serta perlindungan padanya.
Melalui diri Adnan, ia bisa menemukan semua hal yang ia inginkan tersebut. Putri benar-benar merasa nyaman jika berada di dekat pria itu.
Dan entah mengapa, malam ini Putri berkhayal di peluk oleh Adnan. Tanpa sadar ia memeluk bantal guling. Karena saat ini dirinya telah berada di atas tempat tidur.
"Tuh laki, dadanya bidang banget anjir. Pasti sixpack tuh badannya, yakin gue."
Putri berbicara pada dirinya sendiri.
"Hmmh, nyaman banget itu pasti kalau dipeluk sama dia. Ah, elah."
Putri senyum-senyum sendiri, sambil mengingat percakapan yang terjadi diantara mereka. Hal yang paling ia ingat adalah senyuman maut Adnan.
__ADS_1
Pria itu boleh dibilang memiliki senyuman yang sangat manis dan mampu menghipnotis siapapun yang melihat.
***
"Putri, aku akan bayar biaya sewa tempat tinggal kamu. Aku akan kasih semua yang kamu inginkan, tapi perut kamu buncit sembilan bulan ya sayang."
Putri melihat Adnan yang bergerak maju mundur di bawah sana. Sementara liang kehangatan milik perempuan itu terasa sesak, geli, dan juga nikmat.
Akibat benda tumpul keras dan panjang milik Adnan yang keluar masuk.
"Hmmh, pak. Hmmh, sssshhh."
"Putri, kamu buncit ya sayang. Kamu buncit sembilan bulan ya. Hmmh, ssshhh."
"Nggak apa-apa, ini enak sayang."
"Pak, hmmh."
"Terima ini!"
"Aaaaaah."
__ADS_1
Putri ikut berteriak dan akhirnya ia terbangun dari mimpi. Ia terdiam dan merasakan denyut nikmat dibawah sana. Betapa ini semua sangatlah nyata bagi Putri.
Candaan Adnan saat mereka menyantap sate bersama kemarin, melekat di benak Putri dan menjadikanya mimpi yang begitu real terasa.
Sementara di kediamannya, Adnan belum tidur. Ia sedang memompa istri tercintanya Dira. Namun saat sedang menikmati semua itu, tepatnya ketika nyaris *******.
Entah mengapa pandangan Adnan pada Dira berubah. Dira mendadak jadi Putri dan Adnan mengeluarkan benihnya yang banyak kemudian.
Ia terus memperhatikan Dira. Hingga ketika kenikmatan telah berangsur berkurang, wajah Dira kembali ke wajah aslinya.
Adnan benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia sama sekali tak menaruh perasaan apa-apa terhadap putri.
Ia hanya menganggap gadis itu sebagai teman baru yang mungkin akan banyak ia tolong nantinya. Mengingat Putri memiliki banyak masalah dalam hidupnya.
"Mas, enak."
Bisik Dira si telinga Adnan. Adnan pun lalu tersenyum dan mencium pipi istrinya itu. Ia lalu mengusap-usap perut Dira dengan lembut.
"Semoga kamu tambah sehat dan semua harapan kita tercapai." ujar Adnan.
"Iya mas." jawab Dira.
__ADS_1
Mereka kemudian saling berpelukan satu sama lain. Sementara Putri kini memeluk bantal guling. Gadis itu masih terngiang-ngiang dengan mimpinya yang barusan
***