
Malam itu, Putri tidur sendirian lagi. Memiliki suami tapi rasa tak memiliki suami. Menikah tapi serasa lajang. Memang inilah resiko jika kita menikah dengan suami orang.
Sekalipun ini semua tidak dilandasi perselingkuhan, dan pernikahan terjadi akibat kesalahan orang lain.
Tetap saja nasib Putri sama dengan para perebut laki orang lainnya. Harus rela berbagi dengan istri pertama. Harus ikhlas ketika suami tak bisa menemani disaat kita membutuhkan.
Ia sendiri tak pernah terpikir akan menjalani kehidupan seperti ini. Ia dari dulu bahkan tak pernah ingin jatuh cinta pada suami orang.
Mungkin ini yang dinamakan takdir. Atau hanya kebodohan dirinya saja. Sama seperti perempuan yang sengaja merebut suami orang diluar sana. Lalu mengkambinghitamkan takdir sebagai pembelaan. Padahal jelas-jelas lamaran suami orang bisa di tolak.
Tapi mungkin juga mereka ada di posisi yang sama terjepitnya dengan Putri. Tak bisa menolak padahal bisa. Bisa menolak tetapi tidak cukup punya pegangan yang kuat.
"Hhhhh."
Putri resah di atas tempat tidurnya yang lebar dan empuk. Serasa ia tidur di tumpukan kayu yang keras. Saking tak nyamannya tubuh serta pikiran perempuan itu.
***
Sementara di rumah, Adnan sedang mencumbui istrinya Anita. Mencoba memberikan apa yang menjadi hak perempuan itu. Yakni di nafkahi secara batin.
Tapi, Anita sedang tidak berada dalam mood yang baik. Ia bahkan tak memiliki gairah sama sekali, lantaran pikirannya yang berkecamuk.
Mungkin inilah yang di katakan orang-orang di luar sana. Khususnya orang-orang yang mendukung praktek poligami. Bahwasannya istri harus benar-benar ikhlas apabila suami menikah lagi, sehingga kita tidak memiliki beban apapun dalam hal memberikan pelayanan.
Tapi pada prakteknya, untuk bisa ikhlas dengan cepat itu adalah omong kosong. Perempuan mana di dunia ini yang bisa sedemikian ikhlas, hanya dalam tempo singkat?. Kalau pun ada maka itu biasanya seribu berbanding satu.
Lalu mengapa masih banyak wanita yang dipaksakan untuk menerima, apabila suaminya tiba-tiba menikah lagi tanpa izin.
Apakah dunia ini hanya di ciptakan untuk laki-laki saja. Sehingga mereka bisa seenaknya bertindak berdasarkan keinginan mereka. Lalu perempuan hanya diwajibkan diam dan menerima, kemudian dijanjikan ganjaran pahala.
Sekarang bagaimana sebuah pernikahan dengan banyak istri akan menghasilkan pahala untuk istri pertama. Sedang hati istri pertama saja sangat sulit untuk ikhlas, bahkan mungkin beberapa diantaranya jadi cenderung dendam dan membenci.
Kini Anita mengerti, bagaimana rasa sakitnya perempuan-perempuan di luar sana yang tiba-tiba di duakan suaminya tanpa izin. Yang asal menikah lagi dengan mengkambinghitamkan sebuah pemahaman untuk membenarkan tindakannya.
Adnan yang tak selingkuh dan meminta izin saja, Anita sudah sebegini sakitnya. Apalagi jika Adnan selingkuh, tidur dengan Putri sampai hamil, lalu menikahi Putri diam-diam di belakangnya. Pastilah Anita akan lebih terluka dan lebih sakit lagi.
"An, kamu kenapa?" tanya Adnan ketika melihat istrinya seolah menolak tindakan yang ia berikan.
__ADS_1
"Maafin aku mas, lagi nggak mood." jawab Anita.
Adnan menghentikan aktivitas dan tak memaksakan. Walau seorang istri berdosa apabila menolak keinginan suami. Tapi disini Adnan mencoba mengerti. Pastilah tak enak dan tak nyaman berada di posisi Anita.
Sebagai laki-laki ia tak bisa seenaknya mengatakan, jika istrinya harus menurut. Karena kalau tak menurut, maka akan berdosa. Sementara dirinya sendiri yang mengacaukan serta menghancurkan perasaan Anita.
"Ya sudah, kamu mau minum teh hangat atau apa?. Aku mau bikin." ujar Adnan seraya membelai kepala dan pipi istrinya itu.
"Nggak mas." jawab Anita.
"Ok."
Adnan lalu keluar kamar. Sementara Anita menghela nafas dan membuka laman sosial media.
Mendadak ia membenci pelakor-pelakor terkenal, yang saat ini masih berkeliaran di sosial media. Sebagian lagi sengaja di beri panggung oleh stasiun televisi.
Diundang dan bahkan di normalisasi tindakannya. Hanya karena dia sudah berganti kostum menjadi lebih religius. Tertutup dari atas kebawah dan terlihat sudah sangat bertobat.
Padahal tobat kepada sang pencipta pun tak cukup. Sebab dosa menghancurkan rumah tangga orang, adalah dosa kepada sesama perempuan. Dan juga dosa kepada anak-anak yang rusak mentalnya. Akibat ayah mereka menikah lagi dan orang tua mereka mungkin bercerai.
Akan ada banyak warga net yang memuja-muji dan menganggap semua tindak pelakoran adalah benar.
Belum lagi bermunculan novel-novel online, yang menormalisasi sebuah tindak perusakan terhadap rumah tangga orang lain.
Biasanya tokoh utama digambarkan tak bisa hamil, lalu si laki laki selingkuh dengan wanita lain. Kemudian si wanita lain hamil dan para pembaca mendukung si ****** selingkuhan yang hamil itu.
Biasanya kisah perselingkuhan itu di bumbui dengan hal-hal berbau kebucinan. Sehingga para perempuan yang membaca cenderung mendukung si pelakor.
Padahal itu adalah sesuatu hal yang sangat menjijikkan. Bagaimana mungkin seorang perempuan mendukung perempuan lain, yang menghancurkan rumah tangga orang. Dimana hati dan nurani mereka.
Padahal tidak bisa punya anak juga bisa menimpa mereka atau anak perempuan mereka kelak.
"Sayang, aku bikinin susu coklat. Minum ya."
Adnan tiba-tiba muncul, membuyarkan segala pikiran kusut di benak Anita.
"Kan aku udah bilang nggak mau mas." jawab perempuan itu.
__ADS_1
"Emang kamu bisa nolak, ini coklatnya enak banget loh." ujarnya lagi.
Anita diam dan memperhatikan Adnan. Sementara pria itu kini duduk di samping sang istri.
"Hmmm, nyium nggak kamu baunya yang sangat menggoda ini?"
Anita menghela nafas, lalu tersenyum sangat tipis. Ia kemudian meraih gelas berisi susu coklat tersebut dan meminumnya. Hati Adnan sedikit lega, ia sudah takut Anita akan bersikap dingin padanya lebih lama. Tapi ternyata tidak juga.
***
Esok harinya di kantor. Anita yang baru datang menghadapi tatapan dari rekan-rekan kerjanya. Anita sendiri bingung. Sebab rekan-rekan kerjanya itu berdiri dan sama terdiam. Membuat ia merasa seperti berada di dalam sebuah persidangan.
"Kalian kenapa?" tanya Anita bingung.
Mereka diam, namun tak lama salah satu dari mereka memeluk Anita. Kemudian wanita itu berujar dengan tangis yang tertahan.
"Kenapa lo nggak cerita, Nit?. Lo nanggung beban ini sendirian."
Anita masih bingung dan bertanya pada temannya yang lain melalui ekspresi wajah.
"Lo semalam ngirim pesan ke Tika, kayaknya lo salah kirim deh. Lo curhat masalah kejadian yang menimpa rumah tangga lo." salah satu rekan Anita yang lain menjelaskan.
Jelas Anita terperangah. Ia semalam memang sedang curhat pada salah satu tantenya,yang baru tau masalah antara dirinya dan juga Adnan. Anita menjelaskan semuanya secara detail.
"Tunggu!"
Anita membuka handphone dan memeriksa kembali pesan yang ia kirim tersebut. Ternyata memang ia salah kirim. Sebab tantenya itu juga bernama Tika.
"Gaes itu..."
"Udalah Nit, kalau lo mau cerita ke kita, cerita aja. Kita siap koq mendengarkan." celetuk salah seorang dari mereka lagi.
Anita kini di hujani tatapan yang begitu hangat dan merangkul dari teman-temannya itu. Hingga air mata istri Adnan tersebut tanpa sengaja menetes.
"Thanks." ujarnya sambil tersenyum.
Tak lama mereka pun saling berpelukan.
__ADS_1