Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Ada Apa Dengan Anita


__ADS_3

"Gila, parah sih. Nggak ada otak tuh si Ganta."


Adnan berujar pada Tristan ketika mereka telah berada di jalan pulang. Tristan tertawa mendengar semua itu.


"Rata-rata yang punya istri banyak dengan sengaja, emang gitu bro sifatnya. Selalu menekankan kalau membantah suami itu dosa. Padahal kan harus dilihat dulu, yang dibantah itu soal apa. Kalau soal kayak hubungan suami-istri yang salah, menyimpang, diajak suami berbuat kejahatan, seorang perempuan berhak membantah dan menolak. Liat dulu perkaranya bener apa nggak. Gue juga kalau punya anak perempuan, pasti marah. Semisal anak perempuan gue dapat laki nggak ngotak kayak dia." Tristan berujar panjang lebar.


"Gue jadi takut anjir, kalau anak gue lahir perempuan." ujar Adnan lagi.


"Gue pecahin pala lakinya, kalau dapat yang model kayak si Ganta. Model gue gini aja, gue udah ngutuk diri gue setiap hari. Gue nyakitin Anita, kadang gue nyakitin Putri." lanjutnya kemudian.


Tristan tertawa kecil.


"Sabar, bro. Tapi ada ilmu kan yang lo dapat dari dia tadi."


"Apaan?" tanya Adnan seraya mengerutkan kening dengan wajah super sewot.


"Seminggu, seminggu." jawab Tristan.


Adnan menarik sudut bibirnya, mereka berdua tertawa miris.


"Ada gitu ya, perempuan yang tahan digituin." Lagi-lagi Adnan berujar.


"Ya kan dia nyarinya cewek-cewek polos, yang dibesarkan dalam keluarga konservatif, patriarki. Yang diajarkan kalau sama laki-laki itu harus mutlak nurut. Dia ngambilnya perempuan yang kayak gitu-gitu, biar bisa di manipulasi dan di takut-takuti." tukas Tristan.


"Coba aja kalau dia ngambil cewek yang pergaulannya luas, yang berkarir, open minded. Kalau nggak di lempar granat itu di Ganta, sama tuh cewek."


Keduanya lagi-lagi tertawa, sementara mobil terus melaju.


***


"Kenapa lo nggak bilang kalau Aaron udah pulang ke London?"


Putri agak kecewa pada Shanin, ketika akhirnya ia mengetahui bahwa Aaron telah kembali ke London.


"Lah gue pikir dia ada ngabarin lo." ujar Shanin pada Putri.


"Soalnya sebelum berangkat itu, gue ada bilang ke dia. Seenggaknya kabarin Putri lewat chat atau telpon, walau lo nggak mau ketemu secara langsung." lanjutnya kemudian.


"Nggak ada, Sha. Dia nggak ada ngabarin gue sama sekali. Ini aja gue baru tau, sumpah."


"Keluarganya?" tanya Tari pada Putri.


"Nggak ada juga." jawab Putri.


"Ya keluarganya mungkin berfikir kalau Aaron udah ngasih tau elo." Lagi-lagi Shanin menimpali.

__ADS_1


"Iya sih, bisa jadi." ujar Tari.


Putri menarik nafas panjang, kemudian menjatuhkan pandangannya ke bawah. Tanpa terasa air mata wanita itu mengalir, namun kemudian ia hapus menggunakan tangannya.


Ia masih terjebak rasa bimbang, meski kini sudah menyadari jika ia mencintai Adnan. Tak mudah melupakan Aaron begitu saja, ketika sedang tak bersama Adnan. Sebab ia pun mencintai mantan kekasihnya itu sangat dalam. Bayi di dalam perut yang terus tumbuh telah mengacaukan perasaanya.


"Udah, Aaron juga baik-baik aja koq. Mungkin dia butuh waktu untuk menyembuhkan diri." ujar Shanin pada Putri.


"Iya Put, jangan habiskan waktu lo untuk sedih terus. Kandungan lo udah empat mau lima bulan loh. Udah harus kasih perhatian ektra. Jangan mumet dulu pikiran lo." ujar Tari.


Putri mengangguk sambil memperhatikan handphone yang kini ada ditangannya. Rasanya ingin sekali menelpon Aaron dan menangis pada pria itu. Tetapi benar apa yang di katakan Shanin, Aaron butuh waktu untuk menyembuhkan diri.


***


Adnan pulang ke rumah, saat itu ia melihat istrinya Anita yang tengah menyiapkan makanan di meja makan.


"An."


Ia menyapa istrinya itu, Anita menoleh seraya tersenyum. Sambutannya seperti hari-hari biasa dulu, sebelum ada masalah dengan Putri.


Adnan agak aneh pada sikap perempuan itu. Sebab Anita belakangan ini terlihat sedih dan murung, apabila Adnan melakukan segala hal yang berkaitan dengan Putri. Meski ia terus berusaha tegar dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


Tetapi hari ini, ia seperti orang yang tanpa beban sama sekali. Ia bahkan kini mendekat dan meraih tas kerja Adnan.


"Mas."


Ia khawatir jika dibelakang sikap manisnya ini, ada kepahitan yang akan ia berikan pada Adnan. Meminta cerai misalnya. Adnan tak mau bercerai dari istri pertamanya tersebut.


"Makan yuk!" ajak Anita kemudian.


Wanita itu berbalik menuju ke arah meja makan. Sebelumya ia telah meletakkan tas kerja Adnan pada meja yang ada di dekat mereka.


"An."


Adnan menahan laju istrinya itu dengan mencekal lengannya.


"Iya mas."


Anita berbalik dengan sikap ramah sama seperti tadi.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya nya kemudian.


"Aku baik-baik aja mas. Ayo ah makan, aku laper." jawab wanita itu.


Maka Adnan pun menurutinya. Di sepanjang acara makan, Adnan terus memperhatikan Anita. Sebab wanita yang tak biasa melihat handphone ketika sedang makan itu, kini melakukannya.

__ADS_1


"Kamu ngeliatin apa sih, seneng banget kayaknya." Adnan yang tak tahan akhirnya melontarkan pertanyaan.


"Ini mas, video lucu di tiktok." ujarnya sambil tertawa.


Adnan tersenyum sangat tipis, meski hatinya agak terganggu.


"Nanti di lanjut lagi ya, makan dulu." ucapnya kemudian.


"Iya mas."


Anita berhenti menghiraukan handphonenya lalu kembali makan.


"Ting."


"Ting."


"Ting."


Tiga notifikasi muncul di handphone Anita, beberapa pesan dari pengirim bernama kontak Petra Pradana.


Adnan hendak mempertanyakan siapa Petra itu, tapi suasananya mereka tengah makan dan mood Anita tengah baik. Akhirnya ia menyimpan saja keinginan tersebut.


Anita sendiri meski tak langsung membaca ataupun membalas. Namun Adnan bisa melihat jika perempuan itu nyaris tersenyum melihat adanya pesan Petra disana.


"Mas mau nambah?"


Anita bertanya pada Adnan, ketika melihat makanan di piring suaminya itu hampir habis.


"Mmm, nggak. Nanti aja aku makan lagi, ini tadi udah banyak banget."


Adnan beralasan, padahal selera makannya sangat tinggi jika sudah berurusan dengan masakan Anita. Namun kini agaknya itu semua terganggu, pasca ia melihat pesan dari Petra tadi. Ia takut Anita telah menyimpang hatinya ke lain tempat.


Adnan mencintai wanita itu, meski kini ia juga memiliki rasa terhadap Putri. Ia tak akan rela melihat Anita bersama pria lain. Ia tidak bisa membayangkan semua itu, dan ia tidak mau jika sampai hal tersebut terjadi.


"An."


"Iya mas."


"Aku mau berendam di bathtub, badan aku pegel semua." ujarnya kemudian.


"Mas mau aku temenin?" tanya Anita.


"Iya, sekarang ya." ujarnya lagi.


"Oke mas." jawab Anita.

__ADS_1


Adnan segera beranjak ke kamar, namun kemudian ia melihat Anita dari pintu. Istrinya yang masih berada di meja makan itu meraih handphone, lalu sibuk berbalas pesan.


__ADS_2