
Seisi kelas ricuh, sampai kemudian guru dan para security pun datang untuk meredam kedua belah pihak.
"Stop...!"
"Hentikan...!"
"Ada apa ini?"
Seorang guru tampak berteriak dan menyuruh mereka semua untuk tenang.
"Ada apa ini?" tanya guru tersebut sekali lagi, sambil memberikan tatapan penuh kemarahan ke arah Darren dan teman-temannya.
Tak lama kemudian pak Andrew dan guru lainnya pun tiba, mereka sama menanyakan perihal apa yang telah terjadi.
"Dia duluan menantang saya, bu."
Anak itu memberikan pembelaan dihadapan para guru dan pihak keamanan sekolah. Sebelum Darren dan teman-temannya sendiri angkat bicara.
"Kamu kenapa Darren?. Kenapa kamu menantang kakak kelas kamu?" tanya guru tersebut.
"Lah, harusnya ibu nanya?. Kenapa kakak kelas dateng ke kelas junior dan membuat keributan. Dimana-mana yang dateng lah yang salah, mana bawa tongkat baseball dan lain-lain lagi."
"Kalau kamu yang memulai duluan, bagaimana?. Mereka juga dateng ada alasan nya kan?. Nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api."
"Dia melecehkan teman saya, bu. Teman dia juga, satu angkatan sama dia, gara-gara cintanya di tolak. Saya tau ibu pro sama ketua yayasan, tapi nggak melindungi kejahatan juga."
"Apa buktinya?"
Suara guru tersebut seperti menantang, meminta Darren agar bisa membuktikan tuduhannya.
"Banyak saksi yang melihat kejadian itu dan banyak juga korban kekerasan dari anak ini, baik laki-laki maupun perempuan. Selama ini mereka tidak mau mengadu karena ibu selalu membela anak ini."
"Heh, hati-hati kamu ya kalau bicara?"
"Ibu yang hati-hati, kami bisa saja mengadu kepada orang tua kami dan orang tua kami bisa saja membawa kasus ini ke ranah hukum. Ibu udah siap untuk mempertanggung jawabkan semuanya?"
Wajah guru tersebut berubah pucat dan penuh ketakutan.
"Sudah-sudah, selesaikan diruang kepala sekolah."
Kali ini Andrew menengahi, mereka semua akhirnya disidang diruang kepala sekolah. Para korban baik yang baru maupun lama diminta memberikan keterangan. Para saksi pun akhirnya mau membuka mulut.
***
Setelah melalui persidangan panjang selama beberapa hari, akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk mengeluarkan anak tersebut dari sekolah itu. Entah kemana akhirnya ia. Apakah pindah ke sekolah lain atau apa, tak ada juga yang ingin tau. Sedangkan guru yang selama ini membela dan menutupi kesalahannya diberikan sangsi. Dengan di mutasi ke sekolah lain yang masih dalam naungan yayasan yang sama.
Akhirnya para siswa yang pernah menjadi korban merasa lega dan bahagia. Walaupun wajah Darren dan teman-temannya penuh luka pukulan berupa memar dan biru lebam, namun apa yang mereka dapat sepadan.
"Makasih loh, Darr. Karena kamu keadilan bisa ditegakkan di sekolah kita."
Mikha berujar sambil mengompres memar di wajah Darren yang masih tersisa. Sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian itu, namun memarnya masih ada.
"Kamu udah ngucapin itu berkali-kali kak, bahkan dari sejak kejadian hari pertama."
Mikha pun lalu tersenyum.
"Rasanya nggak cukup sekali untuk berterima kasih sama kamu."
"Tapi kan Darren nggak sendirian melakukan itu. Dibantu juga temen-temen Darren dan para saksi yang mau buka suara."
"Iya, tapi tetep provokatornya kan kamu."
Kali ini Darren tertawa.
"Enak aja, emang demo dan kerusuhan ada provokator." ujarnya kemudian.
"Ya, apalah arti sebuah istilah."
"Berarti dong, beda istilah beda makna."
"Iya pak guru." Kali ini Mikha meledek Darren, dan lagi-lagi mereka tertawa.
"Aw."
Tiba-tiba Darren mengeluh sakit pada bagian yang di kompres oleh Mikha.
"Ini masih sakit?” tanya Mikha penasaran.
"Masih tau."
"Duh, kasian kamu."
__ADS_1
Mikha menyentuh bagian memar itu dengan tangannya yang lembut. Namun bukan pipi Darren yang tersentuh, melainkan hatinya. Sentuhan lembut itu sukses memberikan rasa hangat yang menjalar sampai ke hatinya.
"Perasaan apa ini?"
Darren pun tak mengerti.
Sejak saat itu entah kenapa, Darren seolah merasakan sentuhan tangan Mikha setiap hari. Tatapan mata indah perempuan itu selalu hadir dalam benaknya, baik siang maupun malam.
Seringkali ia terbangun ditengah malam dan teringat akan gadis itu. Ia pun tiba-tiba jadi lebih bersemangat untuk berangkat ke sekolah, karena ia akan bertemu Mikha.
Hal ini sempat ia utarakan pada teman-temannya ketika mereka tengah berkumpul dirumah Reno. Sesaat setelah mereka mengerjakan pekerjaan rumah.
"Jatuh cinta kali lo, Darr." ujar Yudha mengira-ngira.
"Apa gue bilang, udalah lo tembak aja dia. Jangan ngulur waktu, Darr. Ntar dia jadian sama orang loh." ujar Reno.
"Betul." Bimo membenarkan ucapan Reno.
"Jangan sampe lo menyesal dikemudian hari, bro." lanjut Bimo kemudian.
Darren sempat berfikir, agaknya ia sedikit ragu.
"Tapi lo pada yakin dia bakal terima gue, secara gue kan adik kelasnya dia. Sedangkan di angkatan dia, yang ganteng, pinter, populer banyak bray. Gimana kalau dia nggak suka sama gue, cuma menganggap gue sebatas temen dan adik kelas doang."
"Ya mana kita tau kalau nggak dicoba, kodarr."
Kali ini Reno mengeplak kepala Darren dengan buku.
"Lo coba aja dulu, siapa tau beruntung. Iya nggak, bro?" tanya Reno pada Yudha dan Bimo.
"Yoi, gue setuju sama Reno." ujar Yudha.
"Masa lo minder sama kakak kelas. Cemen lo, Darr."
Kali ini Bimo membuat Darren agak sedikit terbakar semangatnya.
"Tapi gimana caranya?. Kan lo pada tau kalau gue belum pernah pacaran."
"Yaelah, itu mah gampang. Lo tinggal ajak dia ketemuan, ngobrol di suatu tempat. Terus lo bilang deh maksud lo apa."
Darren terdiam dan berfikir, agaknya omongan Yudha barusan bisa ia pahami. Meskipun dihatinya masih ada sejumput ketakutan.
Cukup lama Darren berfikir dan memantapkan hatinya. Sampai sesuatu ketika, ia memberanikan diri untuk menahan Mikha sesaat setelah pulang sekolah. Agar gadis itu tak buru-buru pulang kerumah. Mikha yang heran dengan sikap Darren belakangan ini pun penasaran.
"Aku mau membicarakan sesuatu sama kakak."
"Soal apa?. Soal rumah lagi?. Mama sama papa kamu lagi?"
Darren menggeleng.
"Bukan kak, tapi ada hal lain."
"Soal olimpiade?"
"Bukan juga."
Mikha berfikir sejenak.
"Hm, kakak tau nih."
Kali ini Darren menatap ke arah Mikha. Ia ingin tau apa yang sesungguhnya telah diketahui gadis itu, mengenai perasaannya.
"Kamu lagi jatuh cinta kan sama cewek?. Terus kamu pengen minta pendapat kakak cara untuk mendekatinya kan?. Hayo, ngaku." ujar Mikha sambil tersenyum nakal.
"Bukan itu, kak."
"Udalah nggak usah ngeles, santai aja sama kakak mah."
"Bukan itu."
"Terus?"
"Iya aku jatuh cinta."
"Nah kan, bener kan. Kata kakak juga apa. Ciee, ciee, sama siapa?. Pasti orangnya cantik, kan?"
"Iya."
Kali ini Darren menatap Mikha lekat-lekat.
"Dia cantik, cantik banget."
__ADS_1
Mikha makin kegirangan.
"Siapa Darr, orangnya. Penasaran aku."
"Dia ada disini."
"Ya iyalah, pasti juga anak sekolah ini kan?. Pertanyaannya, anaknya itu siapa?. Namanya siapa, kelas berapa?"
"Dia ada disini."
Darren berkata dengan nada tegas dan mimik yang serius, membuat Mikha tiba-tiba terdiam sekaligus tercengang. Apalagi tak lama kemudian, ia merasakan tangannya di sentuh oleh Darren dan digenggamnya dengan erat.
"Orang nya ada disini." Darren berujar dengan tatapan mata yang tak terlepas dari Mikha.
Suasana berubah hening, tubuh Mikhaela mulai dingin dan gemetaran.
"Kak, kakak mau nggak jadi pacar aku?" tanya nya penuh harap.
Sementara Mikha sudah berada dalam titik beku, ia tak bisa mengatakan apapun. Ia tak menyangka jika perempuan yang dimaksud oleh Darren itu adalah dirinya. Ia mengira Darren akan jatuh cinta pada teman-teman seangkatannya. Karena teman seangkatannya sendiri sudah banyak yang mengantri ingin menjadi pacar Darren.
"Kak?" Darren meminta kepastian.
"Tapi, Darr. Usia aku lebih tua dua tahunan loh dari kamu."
"Memangnya apa masalahnya dengan usia?. Kita nggak bisa meminta dilahirkan duluan atau belakangan, dan setahu aku cinta itu tidak perlu syarat apapun. Termasuk usia siapa yang seharusnya lebih tua."
"Ya tapi kan...."
"Aku bukan mau mendengar kata tapi, yang aku mau denger kamu mau apa nggak?"
Mikha melepaskan genggaman tangan Darren, lalu menatap pemuda itu dengan seksama.
"Kasih kakak waktu untuk berfikir."
Darren agak kecewa mendengar permintaan tersebut. Terlebih karena ia pun sudah mengumpulkan keberanian sekian hari hanya untuk melakukan hal ini. Ia berharap segera mendapatkan jawaban saat ini juga, namun agaknya ia harus lebih sabar.
"Berapa lama?"
"Kakak nggak tau ini akan berapa lama, yang jelas kakak harus berfikir. Meminta pendapat orang-orang terdekat kakak, teman-teman kakak."
"Kenapa nggak tanya sama hati kakak sendiri, nggak usah melibatkan orang lain?. Apa yang menurut hati kakak benar."
Mikha terdiam mendengar ucapan itu. Darren benar soal perasaan, kita tak perlu bertanya pada orang lain. Bertanya pada hati dan diri sendiri adalah hal yang paling benar.
"Iya, kakak minta waktu. Nanti pasti kakak jawab dan ini nggak akan lama."
"Oke, Darren tunggu."
Mikha pun lalu pulang ke rumahnya, begitu juga dengan Darren. Meski ia agak sedikit kecewa, namun Darren merasa lega karena telah berhasil mengalahkan ketakutannya. Ia sudah berani menyatakan perasannya secara gamblang tanpa takut akan hal apapun. Kini ia hanya harus bersabar menunggu hasilnya.
Beberapa hari pun berlalu, Darren tampak duduk sendirian di taman dekat gerbang sekolah sambil membaca buku. Tiba-tiba semua teman-temannya menghampiri.
"Woi, ngapain lo." tanya Reno seraya menepuk bahu Darren. Darren yang terkejut itu pun lalu menutup bukunya dan memperhatikan ketiga temannya itu.
"Nih, gue lagi baca buku ini." Darren menunjukkan buku pengembangan diri yang ia baca.
"Lo baru beli?" tanya Bimo kemudian.
"Yoi."
"Ntar gue pinjem dong."
"Ya udah, tapi jangan pindahin penanda kertas nya."
"Iya, Kodarr."
"Eh Darr, by the way mbak Mikha gimana?" tanya Reno kemudian. Mereka sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi diantara keduanya.
"Nggak tau, dia belum ngomong apa-apa ke gue. Mungkin masih mikir."
"Lama amat mikirnya." celetuk Yudha yang diikuti gelak tawa yang lainnya.
"Nggak tau, semedi dulu kali dia. Minta wangsit."
Darren memperpanjang candaan mereka, lalu mereka pun kembali tertawa. Hingga tanpa mereka sadari, tiba-tiba Mikha dan teman-temannya sudah ada disana.
Reno menepuk bahu Bimo dan Yudha, memberi mereka kode untuk segera menjauh. Mikha menoleh sebentar ke arah teman-temannya, dan teman-temannya memberi isyarat agar gadis itu mendekati Darren.
Mereka semua akhirnya pergi dan menyelinap dibalik tembok kelas dengan mata yang masih mengintip. Sementara kini Mikha mendekat ke arah Darren.
"Hai, Darr."
__ADS_1
"Hai."