Mengandung Bayi Titipan

Mengandung Bayi Titipan
Baru Tau


__ADS_3

Esok hari.


"Aaaaaakh."


Terdengar suara teriakan dari dalam kamar Putri. Adnan yang baru saja tiba tersebut langsung berlarian dan masuk ke dalam.


Tampak dia orang perawat mencoba menghandle perempuan itu, tapi mereka kewalahan. Seperti ada power tersembunyi dalam diri Putri.


"Aaaaaakh."


"Aaaaaakh."


Ia berteriak sekali lagi.


"Putri, put."


"Putri."


Adnan mendekat lalu mendekap perempuan itu. Putri terus memberontak, namun Adnan menahan laju tubuhnya.


"Putri ini saya, Adnan."


"Aaaaaakh."


"Putri."


Putri berhenti dan terdiam. Tampak nafas gadis itu kini memburu. Perawat membenarkan infus di tangan Putri yang nyaris terlepas.


"Ini saya, kamu yang tenang ya." ucap Adnan lagi.


Perlahan Putri pun sadar dan melihat wajah Adnan.

__ADS_1


"Pak adnan."ujarnya kemudian.


"Iya, ini saya Put."


Adnan menatap gadis itu dan secara serta merta ia mencium kening Putri. Tanpa bermaksud apa-apa, hanya refleks karena rasa khawatirnya yang begitu tinggi.


"Pak, saya takut."


Putri memeluk Adnan.


"Kamu nggak perlu takut, ada saya disini." ucap Adnan.


Putri lalu mengangguk, namun masih memeluk pria itu. Seakan ia mencari naungan dan perlindungan disana. Adnan membiarkan saja, sampai Putri merasa cukup atas itu semua.


***


"Dia mengalami trauma, dan kita butuh waktu untuk menyembuhkannya."


"Lakukan saja yang terbaik, dok. Karena saya tidak mengerti banyak soal ini. Saya akan biayai berapapun itu, asal dia bisa sembuh." ucap Adnan.


"Kasus ini terbilang baru dan langsung kita coba tangani pak. Jadi kemungkinan sembuhnya bisa lebih cepat. Lain hal nya jika sudah berjalan bertahun-tahun dan baru akan diobati. Itu akan lebih sulit lagi." ucap dokter psikiater tersebut.


"Saya serahkan sama dokter." ujar Adnan sekali lagi.


Mereka lalu lanjut membicarakan hal tersebut. Sampai kemudian Adnan keluar dengan perasaan yang sedikit lega.


Ia kembali ke kamar Putri dan melihat gadis itu tengah tertawa-tawa bersama kedua temannya. Adnan pamit untuk kembali ke kantor. Karena mendadak ia harus mengerjakan sesuatu yang penting.


***


"Put, itu cowok lo ya?"

__ADS_1


Miska yang baru menyadari kehadiran Adnan di sekitar Putri pun kini bertanya.


Putri hanya tersenyum dan tak menjawab. Tapi Ghea kemudian membocorkan semuanya.


"Putri sih suka, tapi nggak berani ngomong." ucap Ghea.


"Lah kenapa?. Ngomong aja kali, daripada di ambil orang." seloroh Miska kemudian.


"Makanya itu gue bilang." Ghea menimpali.


"Mana ganteng begitu, tajir lagi." Lanjutnya kemudian.


"Emang tajir?" tanya Miska.


"Lo liat aja outfitnya, Mis. Jasnya aja keliatan mahal, jam tangan udah pasti ratusan juta. Sepatu lima belas juta. Parfum yang harga lima juga itu. Cium nggak wanginya enak banget, kayak wangi sultan." ujar Ghea kemudian.


Pipi Putri tampak bersemu merah. Ia kini menunduk sambil tersipu malu.


"Wah nggak merhatiin sih gue. Udah terpesona sama mukanya yang ganteng." ucap Miska.


"Langsung sikat aja, Put. Kayaknya dia suka sama lo deh." lanjutnya kemudian.


"Ih, gue tuh nggak berani." ucap Putri.


"Kecuali dia bilang ke gue duluan." Imbuh gadis itu.


"Jaman sekarang, Put. Kalau lo kebanyakan nunggu, cowok bakalan digondol sama orang lain." ucap Ghea.


"Benar itu, jangan ragu-ragu!. Sikat aja udah." Miska menimpali.


"Jangan menyia-nyiakan kesempatan." tukas Ghea lagi.

__ADS_1


Maka Putri pun kembali tersenyum. Sebab ia bingung harus berkata apa lagi.


__ADS_2